SUDAHKAH KITA MEMANTASKAN DIRI DIHADAPAN-NYA?
 
 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (QS. At-Tahrim (66): 6
 
“Ayat ini saya dekap sekian tahun untuk menyelesaikan desertasi. Alhamdulillah Allah kasih kemudahan, dan karena itu pula saya konsen dibidang keluarga.”

Kalimat di atas disampaikan  pemateri pada sebuah seminar setelah mengenalkan dirinya, hal ini menarik bagi saya.

Mendekap itu arti bebasnya memeluk sesuatu agar tidak lepas. Setelah didekap lalu memburu pemahaman yang terkandung di dalamnya, di situlah proses iqra’ dimulai.

Ketika ikhlas dan sabar menjadi landasan kita dalam berproses, maka Allah akan memudahkan tercapainya suatu tujuan. Biasanya hasil yang akan didapat sungguh di luar dugaan. Demikian juga yang dialami pemateri.

Pemahaman yang diperolehnya  bukan saja dipeluk dan diletakkan di keluarga tercinta. Namun, Allah memberi jalan untuk membagi apa yang dimiliki kepada sesama kaumnya.Beliau sering diundang sebagai pemateri tentang wanita.    

Pas sekali dengan moto hidupnya: “sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

“Anak saya kan banyak mbak, delapan dan jaraknya dekat-dekat. Nah kalau jalan-jalan mesti saya ajak semua. Saat seperti itu, ada saja yang bertanya; ibu punya panti asuhan?” Katanya lebih lanjut.

Sayapun tertarik
untuk menanggapinya, “maasyaallah, luar biasa sekali pemateri kita  ini. Tapi kelihatannya anak saya lebih banyak loh Bu. Anak saya sembilan, tujuh anak kandung dan dua anak dari istri suami saya yang lain.”

Eh ternyata pernyataan saya mendapat reaksi dari peserta, saya bergeming. Harapannya agar acara  tetap focus pada materi yang sedang dibahas pagi itu. 

Ternyata beliau menanggapi, “sebetulnya anak saya sebelas mbak, yang 3 Allah pinta lebih awal.”

Syukurlah hanya sebatas itu tanggapannya, sudah deg-degan kalau beliau menyinggung kata- istri suami saya yang lain- hehehe.

“Saya ingin memahamkan pada semua ibu, bahwa mempunyai anak itu bukan beban dan kita bukan menjadi pesakitan” Lanjutnya.

Kalimat ini mengingatkan saya mendengar curhatan para ibu, tentang rumah tangga. Menyalahkan suami karena kran rusak, genteng bocor. Menyalahkan khadimat saat setrikaan tidak rapih, atau masakan kurang ini dan itu. Menyalahkan anak karena PR belum dikerjakan, menyimpan barang tidak pada tempatnya, menyalahkan tetangga … dan terus menyalahkan ….

“Saya mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran ibu-ibu. Kita duduk disini namanya me time. Meninggalkan sejenak rutinitas kita. Mungkin tadi ada yang belum selesai memasaknya, setrikanya, bebenahnya. Semua kita tinggal dulu,biarkan sekian waktu hanya untuk diri kita sendiri. Berasyik masyuk denngan majelis ilmu.”

Beliau menyapaikan hal itu sambil mengajak peserta olah raga nafas, dan meminta kita semuanya merilekskan anggota tubuh.

Tidak dipungkiri, ada kalanya kita mengabaikan ilmu yang Allah tebarkan di muka bumi ini. Sehingga hanya mereka yang sungguh-sungguh menadahkan kedua tangannya saja yang mendapatkan buahnya, sementara yang mengabaikan sekali lagi terjebak dalam keluhan.

“Bunda-bunda hebat, sesungguhnya jika kita ingin mempunyai anak-anak yang hebat. Maka hebatkanlah diri kita dulu.”

Sudahkah kita memantaskan diri dihadapan Allah? Kita sering memintakan anak kita menjadi soleh-solehah, meminta kelapangkan rejeki kelancaran usaha dan lain sebagainya. Apakah kita hanya meminta pen, dan lupa untuk memantaskan diri dihadapannya?

Wahai bunda-bunda hebat, jangan terjebak permasalahan yang hadir menemani aktivitas kita setiap hari, utamanya masalah keluarga. Karena masalah itu muncul ada yang merekayasa. Jangan sampai kita terpedaya sehingga kerugian yang akan diterima.

Saat Allah memilih kita untuk jadi pemenang diantara jutaan bakal janin, Kemudian diberi kesempatan untuk berproses di dunia, sesungguhnya kitapun harus siap dengan segala konsekwensinya.

Konsekwensi bahagia dan sengsara, sedih dan gembira, jatuh dan bangun, sakit dan sehat, merangkak dan berlari dan banyak konsekwensi lainnya.

Memahami konsekwensi-konsekwensi itu butuh ilmu dan taqarub Ilallah. Sesungguhnya kesadaran inilah, yang akan membuat kita bersegera untuk memantaskan diri dihadapan Allah. 

Maka wahai bunda-bunda hebat, minimalisirlah keluhan-keluhan kita. Mohonlah dengan ikhlas Allah memberi tambahan ilmu agar kita dan keluarga terhindar dari siksa api neraka.

Mungkin kita sering luput dari berfikir, fasilitas gratis yang Allah berikan pada hambaNya. Bisa jadi yang terfikir adalah, bahwa bangun kemudian tidur, berbicara, mendengar, tertawa, mengeluarkan air mata, makan minum, dan lain-lainnya, itu hal biasa. Karena itu sudah otomatis dirasakan.

Tidak mudah untuk berfikir dan meyakini bahwa,ada keterlibatan Allah di dalamnya. Sehingga ringan saja kita mengeluh terhadap semua sarana yang Allah sediakan, padahal semua itu adalah untuk meningkatkan kualitas diri sebagai seorang hamba.

Saat kita sudah memantaskan diri dihadapan Allah, maka sesungguhnya kita sedang  membuat kokoh pilar-pilar keluarga kita.
 

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *