Ridho Menghasilkan Ketenangan
MaryatiArifudin, 5 Juli 2020

Dalam kehidupan ada dua kemungkinan yang akan terjadi kebaikan dan keburukan. Jika, diminta untuk memilih pasti semua orang memilih kebaikan.

Kebaikan cenderung mudah diterima oleh seluruh manusia. Namun, saat berbuat suatu kebaikan seseorang sering males ataupun lalai. Bahkan, sering melakukan pengkhianatan terhadap Tuhannya. Ujian kebaikan sering membuat seseorang itu tidak lulus. Hasil akhir dari ujian kebaikan, kadang membuat seseorang terjerembab dalam kehancuran. Mengapa demikian?

Sesuai surat Al Anfaal ayat 27 dan 28, Allah SWT berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Ketahuilah, nikmatnya harta dan keturunan keduanya adalah ujian kehidupan. Kedua nikmat itu, akan disikapi dengan kebaikan atau keburukan tergantung si empunya ladang. Nikmat harta, jika disikapi dengan kebaikan menjadi ladang amal jariah yang tiada putus-putusnya. Demikian jua nikmat anak keturunan, mampu mengantarkan anak mengenalkan pada Tuhannya akan menjadi anak yang sholeh. Tantangan nyata bagi kedua orangtuanya, untuk menumbuhkan ladang kehidupan sesuai dengan tuntunan-Nya. Bagaimana mengolah ladang itu?

Hendaknya, dalam rumah tangga itu sebagai sarana menuju ke pintu-pintu surga-Nya. Dasar utama rumah tangga dilandasi aqidah yang kokoh dan ikatan cinta karena Alloh semata. Dasar cinta dan benci sepasang suami isteri terbangun karena Alloh. Jadi ikatan pernikahannya kuat dan sakral. Mereka berjanji berpisah dan bersatu karena Alloh. Diharapkan nantinya, menurunkan anak-anak yang mengenal Sang Penciptanya Alloh SWT.

Peran penting para orangtua, saat membesarkan putra-putrinya langkah pertamanya mengenalkan Alloh. Pembelajaran yang utama ditanamkan pada putra-putri tercinta agar takut pada-Nya. Ambil pembelajaran yang berharga dari kelurga Abul ambiya’ yaitu nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim melahirkan keturunan nabi-nabi besar. Ibrahim dengan Siti Saroh melahirkan nabi Ishaq AS dari jalur nabi Ishaq akan lahirlah nabi Isa AS. Sedangkan Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar melahirkan nabi Ismail, dari keturunan nabi Ismail ini akan melahir rasul terakhir nabi Muhammad SAW. Marilah kita mentauladani ketaatan nabi Ibrahim As.

Ibadah haji adalah rentetan ibadah guna mentadaburi ketauladanan keluarga besar nabi Ibrahim AS. Ketauladanan Beliau lakukan dalam rangka ketaatan pada Alloh SWT. Bagaima Beliau rela meninggalkan istrinya Siti Hajar saat hamil tua seorang diri di tanah yang tandus. Demikian juga, saat diperintahkan mengorbankan Ismail putra kesayangan yang telah lama dinanti-nanti kehadirannya. Gambaran ketundukan Beliau dalam menjalankan ketaatan perintah-Nya mampu mengalahkan keinginan hawa nafsunya.

Karunia Alloh berupa keturunan adalah amanah yang harus dijaga dengan baik. Jagalah, amanah itu agar mampu menumbuhkan generasi yang sholeh seperti keturunan nabi ibrahim. Tengok kisah, tanah Haram menjadi saksi bahwa Alloh SWT tidak akan membiarkan hamba yang taat menanggung beban sendirian. Ketaatan-Nya pasti mendapatkan bantuan dan pertolongan-Nya. Jangan ragu dalam menjalani ujian kehidupan itu, wajib kita jadikan ladang amal sholeh. Di setiap ujian, jadikan ladang ibadah bagi penggarapnya yang mampu mengantarkan kebahagiaan.

Siti hajar ridho saat hamil besar ditinggalkan di padang pasir yang gersang. Beliau memahami dan meyakini, bahwa tinggal di padang pasir yang tandus adalah perintah-Nya. Siti Hajar, percaya Alloh tidak akan membiarkan hamba-hambanya menangani permasalahan ini sendirian.

Siti Hajar tidak diam berpangku tangan saat menjalani kehidupan bersama putranya. Perjuang dan kerja kerasnya tergambar saat mencari air berlari-lari kecil dari bukit shofa ke Marwa sebanyak tujuh kali. Peristiwa lari-lari kecil sepanjang shofa ke Marwa inilah, yang dinamakan Sai termasuk dalam rukun haji yang wajib dijalankan. Sikap ridho menerima kehendak alloh mampu membuahkan jalan keluar. Kerja keras Siti Hajar mendapat bantuan pertolongan-Nya.

Sesuai dalam Silsilah Shahihah (4/232) yaitu: Tatkala Jibril memukul Zam-Zam dengan tumit kakinya, Ummi Ismail segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata,”Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, maka akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah)

Perjuangan seorang ibu yang telah mengandung sembilan bulan dan berusaha mencarikan air untuk putra kesayangannya di tengah padang pasir. Hal ini, memberi pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus tangguh, sekuat dan setekad Sang ibunda Hajar dalam membesarkan amanah buah hati.

Semangat Siti hajar harus kita tauladani, sang ibunda muda tidak boleh menyerah dan putus asa dalam membangun ketaaatan pada-Nya. Karena para ibulah mendapat tugas penting dalam pendidik pertama dalam keluarga Alummu madrasatul uula bagi putra-putrinya. Ketaatan Siti Hajar diwariskan ke putranya Ismail AS. Bagaimana ketaatan sang anak pada perintah-Nya?

Sungguh ujian berat, bagi nabi Ibrahim AS. Nabiyulloh Ibrahim lama sekali merindukan sang buah hati, hampir 86 tahun nabi Ibrahim mendambakan keturunan. Lantunan doanya terdapat dalam surat As Shaffat ayat 100 artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh. Alloh selalu mengujinya pada hambanya yang bertaqwa. Alloh mengabulkan doa itu. Setelah itu, Alloh meminta sang buah hatinya Ismail untuk di korbankan untuk-Nya. Bagaimanakah sikap keduanya?

Kisah anak yang sholeh Ismail putranda nabi Ibrahim AS dengan ridhanya menerima perintah-Nya. Ayah dan bapak bersama-sama membangun ketaatan pada Tuhannya. Begitu ada perintah dari-Nya, mereka menyambutnya sami’na wa attoqna kami dengar dan mentaatinya. Sungguh gambaran ketaatan anak dan bapak yang sholeh, ridha menerima ketetapannya. Pengorbanaan anaknya diganti dari Alloh SWT berupa seekor kibas atau domba besar.

Ketaatan sebuah kelurga terdapat dalam surat Ash-Shaffat 102 yang berarti,” Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. Demikianlah gambaran ujian kehidupan dalam keluarga nabiyulloh Ibrahim AS.

Ridlo dengan ketetapannya akan membuahkan kebagiaan yang sejati. Ujian demi ujian kehidupan telah dilewati oleh para utusan-Nya. Semoga inspirasi minggu ini, mampu menjadikan suplemen dalam mendidik putra-putri tercinta. Setiap ujian dari putra-putri, sebagai sarana mendewasakan diri untuk bijak menangani masalah. So ibunda tabah, kuat dan setekad Sang ibunda Siti Hajar istri nabiyulloh Ibrahim AS.

Referensi:
https://almanhaj.or.id/2581-keistimewaan-air-zam-zam.html
https://islam.nu.or.id/post/read/65696/doa-nabi-ibrahim-as-minta-dikaruniakan-anak

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *