Musala Tanda Cinta Orang tua dan Masyarakat
Oleh: Moh. Anis Romzi

Niat baik untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran di SMPN 4 Katingan Kuala dari orang tua diwujudkan dalam bentuk musala. Sarana penguatan karakter relijius peserta didik dan warga sekolah lainnya. Bukan tanpa maksud, ini adalah tanda cinta orang tua dan masyarakat kepada SMPN 4 Katingan Kuala.

Berawal dari semangat tahun 2104 yang menggelora. Ketika pengelola dan perwakilan orang tua duduk bersama dalam satu meja. Komite sekolah dan perwakilan orangtua berdiskusi apa yang bisa diperbuat untuk mendukung pendidikan putra-putrinya. Pada mulanya pengelola sekolah menyampaikan bahwa setiap hari para peserta didik muslim diwajibkan salat zuhur berjamaah sebelum pulang. Mereka dan para pendidik melakukannya di gedung tua eks gedung SMP Sadar Bhakti 2.

Gedung yang sudah mulai berlobang lantainya di sana-sini. Acap kali banyak siswa terperosok pada lobang lantai yang ditutup karpet. Ngeri dan berbahaya rasanya kalau dibiarkan. Muncullah gagasan untuk mendirikan musala permanen. Masalah klasik muncul, dananya?

Beberapa anggota komite sekolah mengusulkan untuk urunan. Beberapa yang lain menentang. Argumentasi yang ditawarkan bahwa “ kita ini masyarakat desa. Hampir semua profesinya adalah petani. Seperti yang kita tahu dan rasakan bahwa petani tidak semua memiliki uang setiap harinya, atau bahkan setiap bulannya. Tetapi insyaallah setiap kita mempunyai simpanan beras. Karena itu cadangan untuk makan kita sehari-hari. Bagaimana kalau kita menyisihkan sedikit dari beras bakal makan kita untuk membangun musala anak-anak kita.” Maka lahirlah kesepakatan positif. Bagaimana kalau kita mengadakan jimpitan. Apa itu?

Anggota komite sekolah dan beberapa orangtua wali sepakat mengadakan jimpitan beras setiap sabtu pagi. Setiap satu minggu sekali para peserta didik membawa satu jimpit beras. Jimpit adalah istilah dalam Bahasa Jawa sedikit. Para orangtua memaknainya dengan segenggam atau segelas beras. Setelah dikumpulkan dalam kurun waktu dua tahun terkumpullah dana sekitar Rp. 15.000.000,-. Dari dana beras jimpit inilah akhirnya disepakati untuk mendirikan pondasi musala.

Diawali dengan peletakan batu pertama pada tahun 2016. Dalam sebuah rapat besar komite sekolah dan orangtua wali resmi dimulai pembangunan musala SMPN 4 Katingan Kuala. Dengan dihadiri Kepala Desa Jaya Makmur, pengurus Komite dan pengelola sekolah. Secara simbolis meletakkan batu pertama pembangunan. Inilah tanda sejarah musala SMPN 4 Katingan Kuala. Saya menamainya dengan tanda cinta dari orangtua kepada anaknya.
Jimpitan sarana untuk mengumpulkan dana. Dari satu jimpit setiap sabtu dapat berdiri pondasi musala cinta. Gotong-royong yang sangat indah. Jiwa-jiwa dermawan tumbuh subur tanpa harus menunggu kaya. ‘Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’ ungkapan ini tampaknya sangat tepat menggambarkan perjalanan musala cinta ini.

Dokumen Pribadi

Sumbangan panen dari orang tua terus mengalir. Setelah pondasi berdiri simpati masyarakat tidak terhenti. Ketika proses penimbunan pondasi musala, seluruh orangtua wali bahu-bahu dalam kerja bhakti. Kembali pelajaran gotong-royong dipraktikkan secara nyata. Tidak sekadar teori. Nyata dan menghasilkan. Tidak hanya itu setiap panen orangtua dengan rela hati mengumpulkan satu sak gabah untuk kelanjutan pembangunan musala cinta.

Pada tahun 2018 19 November musala resmi digunakan untuk pembelajaran. Dengan dihadiri oleh orang tua dan pengurus Komite Sekolah penggunaan musala disahkan. Sekaligus peringatan PHBI Maulid Nabi Muhammad Saw. Walaupun belum sempurna, namun jerih payah, pengorbanan harta, tenaga,pikiran, dan doa berbuah nyata. Semua pertolongan Allah swt yang menggerakkan hati keluarga besar SMPN 4 Katingan Kuala mewujudkan cinta berbentuk musala.

Ini serasa sudah di surga. Ketika melihat pengorbanan orangtua dan masyarakat untuk musala SMPN 4 Katingan Kuala. Kenapa demikian. Sabda nabi Saw:”Barangsiapa membangun rumah Allah di dunia, maka akan dibangunkan rumah-rumah baginya di surga”. Semoga musala cinta ini diridoi-Nya. Kata bijak salah seorang teman guru begitu indah. Sebenarnya kita sudah di surga bila dengan keikhlasan.”Jika keikhlasan sudah tertanam dalam diri seseorang, nikmat surga akan terasa di dunia”(Rifa Hatihati,S.TP)
Jaya Makmur, Katingan Kuala, Kab. Katingan Kalimantan Tengah. 4/7/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *