Ladang Pengabdian
MaryatiArifudin, 4 Juli 2020

Sungguh ladang kehidupan itu, berupa ujian-ujian atau musibah yang menimpa seluruh umat manusia. Sang Khalik memberi ujian bagi manusia berbeda-beda tingkatannya. Apa saja wujud dari ladang kehidupan itu? Bagaimana merawatnya?

Menggapai Ladang Berupa Sakit

Satu lagi kita, akan membangun ladang kehidupan berupa menghadapi sakit yang menahun. Ujian yang terberat ini, dirasakan dan dicontohkan oleh nabi Ayub AS. Yakinlah ujian terberat telah dialami para nabi dan para salafusolleh jua, dalam rangka menguji keimanan.

Nabi Ayyub AS, salah satu nabi mendapat karunia berupa keturunan dan rezeki yang melimpah. Nikmat yang begitu banyak itu, tiba-tiba Sang Kholiq mengambilnya dan langsung memberi penyakit menahun. Nabi Ayyub menjalani ujian kehidupan itu selama 18 tahun berupa: sakit lepra, jatuh miskin, dan banyak saudaranya menjauhinya. Nabi Ayyub selalu berdoa dan berusaha tanpa putus asa.

Doa nabi Ayyub, diabadikan dalam surat Al Anbiyya ayat 83 ketika ia menyeru Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

Dalam lantunan doanya nabi Ayyub mengajarkan selalu berprasangka baik pada Tuhannya. Artinya, Dia menerima ketetapannya dengan hati ihlas. Dia selalu sabar dalam menjalani kehidupanya. Seperti tertulis surat Shad ayat 44 berarti,” Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang penyabar. Dialah sebaik-baiknya hamba, sesungguhnya dia amat taat (pada Tuhannya)”.

Hampir-hampir istrinya, tidak sabar mendampinginya. Istri berkata,” wahai suamiku berdoalah meminta pada-Nya untuk disegerakan sembuh dari penyakit menahun itu. Pasti Alloh akan mengabulkan karena engkau seorang nabi”.
Nabi Ayub menjawab,” Alloh telah begitu sayang sang padaku. Aku telah diberikan nikmat sehat selama 70 tahun”. Inilah, bukti Beliau selalu sabar dan ridha terhadap ketetapannya. Mereka selalu berdoa namun tak mengenal putus asa. Ia menyakini ujian kehidupan pasti ada pertolongan dari-Nya.

Manusia hanya berihtiar di jalan-Nya, Sang Penguasa Alam yang menentukan kapan terkabulnya doa. Menunggu kesembuhan, perlu kesabaran bagi si sakit dan seluruh anggota keluarga. Tingkat kesabaran inilah, yang membuahkan kemulian berupa surga-Nya. Yakinlah! Setiap insan pasti akan diuji dengan cobaan kehidupan, tinggal kita yang menentukan tingkat kemulian atau kekufuran.

Sesuai surat Al-Baqarah ayat 214 yang berarti Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Ridhakah ia menerima ketetapan-Nya, mau tetap bersyukur ataubahkan kufur. Besar atau kecilnya ujian yang sanggup mereka jalani, sungguh sebagai pertanda atau bukti masih ada keimanan di hatinya. Dengan ujian kehidupan itu, ia ridha atas kenendak-Nya yang mampu mengantarkan kesurganya. Namun, bagi mereka jika ditimpa ujian ia kufur maka akan membawa ke neraka.

Akhir yang sangat bagus dari nabi Ayyub telah bebas kesembuhannya. Alloh kembalikan semua keluarga dan rezekinya, berlipat kali lipat karena ketaatan pada-Nya. Selama menjalani ujian kehidupaan Beliau lewati dengan sabar dan syukur.

Sesuai surat Al Anbiya’ ayat 84, “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”.

Pada akhirnya, sungguh kita memiliki ladang kehidupan yang bisa taman sesuai dengan aturannya. Ladang kehidupan itulah yang menjadi bekal kehidupan di hari akhir nanti. Suatu saat, ladang itu perlu perhatian yang lebih sehingga mengelolanya menguras energi, pikiran, dan fisik yang prima demi memaksimalkan hasil ladang. Kadang-kadang, ladang itu cukup dengan sentuhan halus dari tangan kita. Mari kita, optimalkan ladang pengabdian dengan suplemen pupuk organik yang tidak usah membeli. Ambil pupuk ladang untuk mengolahnya berupa sabar, ihtiar, dan doa.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *