Rumus Penulis
Oleh: Ade Zaenudin

P = (R+I)-H, begitulah rumus dalam ilmu menulis

Rumus ternyata tidak hanya ada di ilmu matematika. Dalam ilmu kepenulisan ternyata berlaku juga, bedanya rumus di ilmu kepenulisan ini tidak semutlak di ilmu eksak. Anda bisa kembangkan.

  1. R

R berarti referensi, seorang penulis harus kaya akan referensi, harus banyak membaca.

Dalam teori ekonomi kita mengenal istilah surplus dan defisit. Penulis pun demikian, ada penulis surplus dan ada penulis defisit.

Penulis surplus adalah penulis yang pemasukan wawasan atau pengetahuannya luas, cadangan gagasan atau ide yang akan ditulis melimpah, dia masih bebas mengeksplorasi tulisannya. Sementara penulis defisit adalah penulis yang belum memaksimalkan potensi untuk menyerap informasi, pengetahuan, atau wawasan yang lebih banyak lagi.

Ada banyak cara untuk menguatkan referensi di era digital ini, ilmu apapun sudah tersedia, tinggal kita memilih sesuai selera. Tidak ada alasan untuk tidak menambah wawasan.

Tulisan kita adalah refresentasi dari apa yang kita baca, fikirkan dan rasakan, semakin luas dan mendalam maka amunisi untuk menulis pun semakin lengkap.

Membaca menangkap makna, menulis mengikat makna.

  1. I

I berarti imajinasi. Selain banyak referensi, penulis juga harus penuh dengan imajinasi.

Perhatikan tulisan yang Anda baca saat ini. Saya menulis tentang rumus menulis dengan mengasosiasikan dengan ilmu matematika. Ini adalah imajinasi.

Seorang penulis yang baik ditandai dengan nilai positif yang terkandung dalam tulisannya, sehingga pembaca merasakan manfaat dari tulisan yang dibacanya. Atas dasar inilah, imajinasi penulis harus berkerangka positif sehingga tidak muncul tulisan yang berimplikasi negatif bagi sang pembaca.

Albert Einstein mengatakan imagination is more important than knowledge. Imajinasi lebih penting dari pada pengetahuan. Argumentasi ini tentu sangat beralasan, karena menurut Albert Einstein imajinasi itu tidak terbatas dan bahkan mampu melahirkan evolusi.

Persoalannya adalah bagaimana cara mempertajam imajinasi bagi penulis?

a. Kembangkan rasa ingin tahu, hal ini bisa memicu pikiran kita untuk mengetahui secara lebih komprehensif atas apa yang kita ketahui saat ini, dari sinilah imajinasi bisa semakin menjalar

b. Cobalah berfikir di luar sudut pandang yang ada atau dimiliki saat ini. Kita masih ingat tiga orang buta yang memberikan testimoni tentang bentuk gajah dari tiga perspektif, ada yang memegang belalainya, kupingnya, dan ekornya. Ketiganya memberikan testimoni berbeda padahal objeknya sama.

c. Telaah pola tulisan orang lain. Bandingkan antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain, dalam hal pembuatan judul, cara menggali dan menyampaikan referensi, pola paragraf, jumlah kata, sampai bagaimana cara menemukan “efek wow” dalam sebuah tulisan.

d. Libatkan diri Anda secara aktif dalam sharing dengan teman sejawat dan yang lebih expert baik dalam hal pola tulisan maupun konten materi yang ingin kita tulis.

e. Istirahatkan sejenak otak kita, sesekali biarkan menikmati hayalan-hayalan positif, bisa jadi ide besar lahir dari sebuah hayalan.

Imajinasi yang kuat mampu melahirkan penulis yang hebat.

  1. H

H berarti Hambatan.

Setiap pekerjaan, apapun itu, punya hambatan masing-masing. Apalagi menulis.

Hambatan dalam menulis itu layaknya virus yang memamah biak, dia bisa menyebar kalau tidak segera dilumpuhkan.

Ada banyak sekali hambatan dalam menulis. Malas, bad mood, pekerjaan yang melimpah, capek, dan masih banyak lagi.

“Ternak alasan”, begitu kami biasa membahasakan untuk merangkum semua potensi yang menjadi penghambat menulis.

Berdasarkan rumus penulis yang saya sampaikan, maka untuk menjadi penulis yang produktif harus senantiasa menambah referensi wawasan dan pengetahuan ditambah dengan menajamkan imajinasi dikurangi hambatan-hambatan yang menghalangi.

Semoga bermanfaat.

0Shares

By Admin

3 thoughts on “Rumus Penulis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *