Menanam Kebaikan Menuai Kebahagiaan
Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Jika Anda ingin menikmati indahnya kupu-kupu, jangan kau tangkapi mereka. Mereka akan lari menghindar darimu. Tapi tanamlah bunga, niscaya beraneka ragam kupu-kupu akan menghampirinya dan Anda bisa menikmati keindahannya.

Itulah gambaran kebahagiaan. Kebahagiaan itu bukan dikejar. Kebahagian itu dirasakan. Lihatlah anak kecil yang tidak tahu menahu tentang kebahagian. Ia tidak pernah memikirkan kebahagiaan apalagi mengejarnya. Tapi setiap orang yang pernah jadi anak dan sekarang menyaksikan tumbuh kembang anak pasti sepakat bahwa masa kanak-kanak penuh dengan kebahagiaan. Dunia anak penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Kelelahan dan kecapekan bermain seharian hilang dengan mudah setelah tidur lelap di malam hari.

Mereka bisa menikmati kebahagiaan karena pikiran mereka yang masih sederhana dan belum banyak keinginan yang hendak dikejar. Hal ini tentu berbeda dengan orang dewasa yang memiliki banyak keinginan yang hendak dikejar, termasuk kebahagiaan.

Ketika seseorang merasa bahwa kebahagiaan harus dikejar dengan kerja keras, maka yang terjadi adalah kepayahan dan kelelahan. Itulah obsesi, hasrat dan keinginan kuat akan sesuatu yang disertai usaha keras dan cenderung memaksa untuk mencapainya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emotion pada 2018 lalu menemukan bshwa upaya mencapai kebahagiaan yang dilakukan secara berlebih bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Upaya itu akan membawa rasa stres, frustasi, serta perasaan kecewa dalam jangka panjang.

Sesungguhnya kebahagiaan itu adalah perasaan bathiniyah manusia. Kebahagiaan tidak ada kaitan secara otomatis dengan kondisi lahiriah manusia. Siapa yang bisa mengklaim bahwa kebahagiaan itu milik orang kaya dan tidak akan dimiliki oleh orang miskin? Faktanya orang miskin bisa lebih bahagia daripada orang kaya.

Jika kebahagiaan itu ukurannya kekayaan tentu tidak akan ada orang kaya yang bunuh diri seperti yang dilakukan Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman yang menabrakkan badannya ke kereta api.
Jika kebahagiaan itu ukurannya jabatan, maka tidak akan ada penguasa yang bunun diri seperti yang dilakukan presiden Brazil G.Vargas.

Jika kebahagiaan itu terkait langsung dengan ketenaran, tentu tidak akan ada pesohor yang mencari ketenangan diri dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Jika kesehatan pasti membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri akibat sebuah acara di televisi.Pun ketinggian intelektual tidak terkait langsung dengan kebahagiaan. Tidak sedikit doktor dan profesor yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Kebahagiaan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya. Ini pula yang diyakini oleh filosof Yunani Aristoteles.
Dengan demikian kebahagiaan sejati akan datang jika manusia memenuhi kewajiban fitrahnya yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pengabdian manusia kepada Allah atau yang secara teknis disebut ibadah bukan untuk kepentingan Allah swt, karena Allah tidak membutuhkan penyembahan atau pengabdian manusia.
Sebaliknya manusia diperintahkan untuk mengabdi agar manusia menikmati kebahagiaan. Karena dengan pengabdian itu Allah memberi reward kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Allah Swt berfirman dalam QS. An Nahl:97 :
“ Barang siapa beramal shalih baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka perbuat.”

Bentuk pengabdian manusia kepada Allah ada dua dimensi, yaitu dimensi keimanan dan dimensi amal.
Iman adalah keyakinan yang benar terhadap Allah dan hal-hal lain yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani.
Sedangkan amal adalah implementasi dari iman. Keduanya menjadi satu kesatuan. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman percuma.

Allah Swt mendorong hamba-hambaNya untuk senantiasa beramal shalih atau berbuat kebajikan. Sebagai wujud pengabdian kepada Allah, maka berbuat kebaikan adalah nature atau kecenderungan fitrah manusia.

Ketika manusia beramal kebaikan maka ia telah menyelaraskan diri dengan fitrahnya, juga dengan alam semesta serta kehendak Allah Swt. Oleh karenanya kehidupannya akan dipenuhi kebahagiaan.

Allah Swt. sang pencipta kehidupan Mahatahu apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu Allah menghendaki hamba-hambaNya untuk menikmati kebahagiaan dengan memerintahkan mereka beramal shalih.

Beramal shalih adalah menanam kebaikan. Amal shalih lah yang mengangkat derajat hakiki manusia. Amal shalih lah yang menyebabkan limpahan anugerah kebahagiaan dan keberuntungan dari Allah Swt.
Mari kita tabur benih-benih kebaikan. Mari kita tanam pohon-pohon kebajikan dan bunga-bunga kemanfaatan. Mari kita semai bibit-bibit kemurahan hati dan keutamaan. Niscaya kebahagiaan akan kita rasakan.
Wallahul mustaan.

0Shares

By Admin

One thought on “Menanam Kebaikan Menuai Kebahagiaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *