Reframing Marah

Oleh: Komalasari

Bisakah kita terhindari dari marah? Bagaimana saat kita tidak bisa menahannya?

“Janganlah marah bagimu surga.” Hadits riwayat Thabrani ini sangat populer.

Anak usia dini sudah sangat hafal, dan ini sering mereka lafalkan untuk mengingatkan teman-teman di sekolahnya saat ada yang marah. Bagi yang cerdas, teguran inipun disampaikan pada orang tua atau saudaranya di rumah.

“Jika diantara kalian marah, maka hendaklah ia diam.”

MaasyaAllah, hadits dari Imam Ahmad ini adalah salah satu petunjuk. Betapa agungnya ajaran Islam. Ketika suatu perbuatan dilarang, pasti dibarengi dengan solusi.

Maka nikmat Tuhan mana lagi, yang engkau dustakan?


Pyarrr….

Bola kehidupan itu pecah yang kesekian kalinya.

Sesak langsung hadir di taman hati bocah enam tahun itu. Mery namanya. Kabel kecerian yang dibangunnya sejak subuh tadi, langsung pudar. Rona merah di pipinya berpindah pada ujung-ujung mata mungilnya.

Lagu selamat pagi cik gu yang hampir timbul, tenggelam lagi. Bersembunyi di keredupan rindang mendung hatinya.

Tapi, butir bening tak menampakkan diri. Dalam diam Ia tetap mempersiapkan segala keperluannya untuk berangkat sekolah pagi itu. Tanpa bicara. Terkatup kedua bibirnya.

“Tadi, kepala bunda sudah tidak kuat. Apa yang bunda lakukan sangat buruk. Dan sekarang bunda sedih. Karena bunda ndak mampu menahan emosi.”

Mery hanya diam. Ternyata raut wajahnya tidak menampakkan kesedihan.

“Bunda hawatir, akan banyak yang rusak lagi saat bunda marah. Tolong bantu bunda untuk tidak marah ya?”

Hanya anggukan sebagai reaksi jawabannya.

Sementara itu, duduk termenung di anak tangga terakhir dengan menahan gejolak tidak nyaman anak usia 10 tahunan. Rosa namanya. Sudah rapih dengan seragam dan tas punggungnya.

Dengan terpaksa ia memakai topeng senyumnya, agar tidak nampak kesal. Yaa, karena hatinya berontak untuk segera berangkat. Rosa sudah janji sama teman-teman kelasnya.

Rosa harus rela tidak menepati janjinya demi meredakan emosi sang bunda.

“Ajak bareng Mery dan antar beli bekal di warung depan. Tolong, jangan dimarahi. Gandeng tangannya.”

Jhon, satu bocah lagi. Delapan tahunan. Luka di taman hatinya sudah tidak terhitung. Namun selalu ada tambal sulaman yang membuat tetap tegar dan manis. Pelukan hangat dan kata maaf serta bisikan sayang dari bundanya. Ketika lelaki kecil itu pamit ke sekolah.

“Jhon, maafkan bunda. Sungguh bunda tidak ingin marah, tapi lihat kamu dan Mery tidak bisa bunda ingatkan saat tengkar tadi, bunda tak kuat menahannya.”

Jhon hanya menganggukan kepalanya.

“Jhon, bunda sayang kamu nak. Bantu bunda agar tidak marah. Bunda minta maaf yaa.”

“Iyaa ndaa…”

Lama mereka berpelukan, ada rapalan doa terdengar lirih dari lisan bunda.

“Aku berangkat dulu ya nda”


Sebongkah hati merasakan jijik dan kotor pada dirinya. Bagaimana tidak demikian? Ketika sadar bahwa dirinya seorang guru, seorang murobbi bagi teman sejawatnya. Contoh yang baik bagi tetangganya. Panutan bagi lingkungan keluarganya.

Jijik karena sering membuat putus milyaran serabut di kotak ajaib kepala anak-anaknya.

Ia melihat dirinya, menggigil ketakutan. Memohon belas kasih Tuhan agar keburukan tidak menimpa buah hatinya.

Lalu, bersimpuhlah ia di duha-Nya yang cantik. Menghempaskan segala beban di padang bunga yang menarik. Mengalirlah air mata sesal dan tak henti melantunkan istigfar.

Ia bergegas menyusul anak-anaknya ke sekolah. Bismillah pintu kelaspun di ketuknya.

“Maaf ustadah mohon ijinnya mau ketemu Mery sebentar.”

“Oh iya bunda, sebentar saya panggilkan. Mery ada bunda mau ketemu sebentar.”

Iapun menutup pintu kelas dan mengajak Mery menepi. Ia berlutut mensejajari tinggi anaknya.

“Mery, bunda tidak tenang. Bunda minta maaf lagi ya. Tadi bunda marah. Maafkan bunda yaa. Bunda sayang Mery”

“Mery yang minta maaf sama bunda.”

Suaranya renyah dan senyumnya cerah. Bunda memeluk Mery dan sekali lagi membisikkan kata sayang.

“Ini bunda bawakan susu sayang.”

“Terimakasih bunda. Mery sayang bunda.


Bundapun mengetuk pintu kelas Jhon. Ustadah membukakan pintu, dan mempersilahkan keduanya bertemu.

“Jhon, tadi paham kalau bunda marah?”

“Ndak.”

“Tapi Jhon lihat bunda marah?”

“Iya.”

“Bunda minta maaf lagi yaa. Bunda sayang kamu.”

“Iyaa nda, Jhon juga sayang bunda.”

Keduanya berpelukan. Bunda memejamkan mata, penuh harap akan ampunan Allah dan penuh syukur atas pelajaran pagi ini.

“Ini bunda bawakan susu.”

“Makasih nda. Jhon sayang bunda.”

Rabbi, aku semakin malu pada-Mu. Ampuni kebodohanku. Hatinya bergumam. Ia menarik nafas panjang diiringi hamdalah dan istigfar.


Sampailah bunda di depan kelas remajanya. Setelah meminta ijin, keduanyapun mencari tempat aman.

“Ada apa bunda?”

Wajahnya selalu tersenyum, sekali lagi bunda merasa malu di hadapan Rabb-Nya.

“Tadi Kak Rosa terlambat?”

“Ndak itu.”

“Bunda minta maaf ya. Tadi, pengen kak Rosakan berangkat pagi. Terus nda terlaksana karena harus nemani adek ke sekolah.”

“Iya. Ndak apa-apa kok bun.”

“Terimakasih sudah bantu bunda ya. Ini bunda bawakan susu.”

“Terimakasih bunda. Rosa sayang bunda.”

Keduanya berpelukan.

Harapannya bola kehidupan itu tidak pecah. Hanya retak saja, dan tersambung kembali kala hati bersatu dalam dekapan cinta-Nya.

Marah ternyata tidak bisa kita hindari. Namun, bagaimana kita bersikap saat marah adalah pendidikan tersendiri bagi diri dan buah hati tercinta.

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Reframing Marah”
  1. Air mata menitik membaca ini… ya… saya dan juga banyak ibu2 lain pernah melakukan ini kepada buah hati mereka… kegoncangan jiwa ibu pun kemudian terjadi… memohon kpd Allah untuk Ampunan dan memperbaiki diri… tidak akan mengulanginya… krn belajar menjadi ibu tidak semudah membaca buku parenting dan psikolog. Yakinlah ini adl jalan menuju surga kelak yg termudah untuk seorg Ibu

    1. Ummu Dereel, saya menulis ini dengan banyak istigfar. Betapa cantik Allah memberi sarana hambanya untuk semakin cerdas memahami setiap tarbiyah-Nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *