Matematika Kehidupan
MaryatiArifudin, 30 Juni 2020

Adakah ladang yang tidak pernah tandus dan tidak pernah kekeringan. Ladang itu setiap masa selalu subur sehingga mampu menghasilkan buah yang manis serta lezat. Ladang apakah itu?

Kelezatan hasil ladang tidak akan habis dalam jangka waktu yang cukup lama. Hasilnya, bisa dinikmati oleh siapa saja yang memandangnya apalagi bagi penggarapnya. Pasti jawabanya, macem-macem ada yang menjawab ladang amal atau ladang kebajikan. Tidak ada yang salah dijawaban di atas, namun aku menjawabnya ladang kehidupan. Apa saja wujud dari ladang kehidupan itu?

Menyikapi kehidupan pasti banyak cobaan dan ujian. Mas bro ku izin bertanya, ” adakah kehidupan ini yang enak-enak terus?”. Pasti jawaban yang tepat,” Ntar kehidupan yang terenak di surga yang kekal”. Mau hidup di surgakan? yaa ruh kita harus terpisah dengan jazad alias died atau menjalani kematian. Sudahkah kita siap menjalani kematian?

Kematian termasuk dalam ujian kehidupan untuk seluruh makhluk di muka bumi ini. Kapan batas waktu hidup, tidak ada yang mengetahui. Sesuai hadits shoheh masalah ruh urusan sang pencinta. Manusia hidup telah ditentukan kadarnya masing-masing. Kadar usia atau maut, rezeki dan jodohnya masing-masing. Tinggal kita mampukah menjadikan ladang kehidupan yang terbaik.

Kapan waktu meninggal si Fulan pasti semua manusia tidak ada yang mengetahuinya. Dalam surat Al Israa’ ayat 85 yang artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Ruh, Katakanlah : “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”. Jika manusia mengetahui batas waktu usianya pasti akan mempersiapkan yang terbaik, karena pingin semuanya ke surga-Nya di akhir hayatnya.

Rahasia illahi yang namanya kematian itu! Sungguh kita kadang berusaha menenangkan diri menyatakan,” Waktu hidup kita masih lama atau masih ada waktu untuk esok pagi”. Atau bahkan sering menunda-nunda kebaikan ataupun pekerjaan, akibatnya saat bekerja atau berbuat kebaikan belum maksimal.

Muncul bisikan hati kita,” Ntar, besokkan bisa diperbaiki!”. Ingat yaa! Siapa yang menjamin hidup kita masih ada hari esok?
Andaikan kita mengerti besok akan tiada, pasti hari terakhir akan bekerja terbaik dan sesempurna mungkin. Minimal, sebagai kenangan kebaikan yang terakhir.

Itulah, kita selalu menghitung-hitung umur kita bukan untuk menunjang mempersiapkan kematian. Namun, menghitung-hitung waktu itu hanya mengukur untuk kepentingan pribadi yaitu memuaskan hati saja. Sepertinya, kita belajar matematika sejak usia dini banyak salah konsep. Bagaimana ilmu matematika dasar agar tidak salah konsep?

Mengenalkan Kalimat Matematika
Kalimat matematika didekatkan dengan sang pencipta ilmu. Biasanya, awali dengan doa minimal basmalah untuk memahamkan konsep matematika dasar yang ber-Ketuhanan. Sekalian, menyampaikan pentingnya sila pertama Pancasila dalam pengamalan sehari-hari saat menanamkan ladang kebaikan. Langkah-langkahnya bagaimana? Agar ladang tak bernah kering.

Mari kita, mengenal ladangnya dengan cara yang bijak. Ladang agar bermanfaat terus bagi penggarapnya wajib dipelihara. Pepatah menyatakan: tanamlah pohon pasti gulma akan tumbuh, jika kita menanam gulma pasti pohon tidak akan tumbuh. Olehkarena itu, tanami ladang dengan pohon terbaik dan berikan nutrisi yang bergizi tinggi agar buah itu mampu bermanfaat bagi penanamnya. Apalagi ladang kehidupan, perlu ditanamkan karakter terbaik pada anak-anak selama masih balita.

Konsep pendekatan kalimat matematika yang bersumber pada Rab Tuhan semesta alam. Mari kita cermati dengan bahasa hati! Petiklah ungkapan Ali bin Abi Tholib menyatakan: Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin termasuk orang yang merugi. Barang siapa hari ini lebih jelek dari hari kemarin tergolong orang yang terlaknat. Namun barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka akan beruntung.

Dari ungkapan diatas membantu kita dalam mengenalkan konsep kalimat matematika meliputi : tanda sama dengan, lebih kecil, dan lebih besar. Arti tersirat mengandung mana yang mendalam. Dengan ilmu hitung, kita diminta menggunakan ilmu matematika itu untuk menimbang amal kebaikan. Sungguh, suatu perintah bagi umat-Nya yang berakal agar selalu mawasdiri.

Sesuai surat Al Hasyr ayat 18 yang berbunyi ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Hal itulah, makna matematika secara tersirat mempersiapkan hari esok dengan banyak mawasdiri menghitung amal. Bagaimana matematika secara tersurat? Mari kita cermati bersama.

Belajar ilmu dari menjumlah dan mengurang, agar bermanfaat dalam ruh itu penting. Menjumlah dan mengurang, sering kita lakukan saat jual beli skala kecil. Coba perhatikan, jika membeli di warung-warung tetangga pasti menggunakan jumlah dan kurang, jarang yang menggunakan kali atau kuadrat.

Ajarkan matematika bertetangga dengan menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat. Sesekali ajak putra-putri kecil untuk belajar mencatat keperluan bumbu dapur. Minta mereka belanja kekurangan bumbu-bumbu harian yang dibutuhkan di tetangga terdekat. Percayakan padanya untuk belanja kebutuhan rumah agar mempertajam konsep hitungan. Lakukan langkah itu, guna menumbuhkan sikap sosial dan berempati di lingkungan sekitar.

Ilmu mengurang, ajarkan pada anak kita untuk berinfaq pada waktu-waktu istimewa. Sampaikan kepada anak kita, bahwa rezeki dari Sang Pemberi ada hak orang lain. Fahamkan pada mereka, setiap rezeki harus dibersihkan dengan zakat, infaq, dan sadaqoh. Praktek saat belajar mengurang ini, untuk membangun empati lingkungan sekitar. Ada hak tetangga yang wajib dipenuhi. Tuntunannya, kasihi di bumi maka Sang Kekasih abadi akan menjumpaimu.

Hubungkan konsep pengurangan berbandinglurus konsep penjumlahan secara bersepadanan. Ada hubungan positif saat menunaikan harta dengan bertambahkan ganjaran dari Sang Kekasih pada hamba yang berusaha taat pada-Nya. Tanamkan, bahwa perdagangan dengan Sang Kekasih tiada kerugian. Sampaikan jua, saat rezeki yang kita infaqkan adalah harta yang dimiliki sesungguhnya. Rezeki yang telah ditunaikan haknya, sungguh menjadi bekal kehidupan di akherat kelak.

Ilmu mengali atau perkalian, konsep ini wajib di hafal mati setingkat sekolah dasar. Perkalian biasnya dahulu menjadi prasyarat kelulusan sekolah dasar. Biasanya jika telah cakap mengali mudah untuk membagi. Belajar dari perkalian, dekatkan atau hubungkan dengan pahala dan dosa. Pendekatan penjelasan perkalian, dapat diawali saat niat melakukan kejahatan dengan niat berbuat kebaikan.

Jika niat untuk melakukan kejahatan nilainya nol. Nah, niat untuk kebaikan nilai satu. Jadi kalau berbuat kejahatan total dosa nilai satu dan berbuat kebaikan total nilai pahalanya dua. Nilai pahala kebaikan berasal dari nilai kebaikan yang ia lakukan dan dari nilai pahala niat. Nah, jelaskan pada anak-anak kita bentuk aturan yang maha kasih dari sang pencipta menunjukkan kasih sayang pada mahluknya. Maka, bersyukurlah sungguh perintahnya tidak ada yang memberatkan.

Mengali atau perkalian, aplikasikan dalam beribadah. Ajaklah, anggota keluarga mendirikan sholat di masjid. Fahamkan pada mereka, sholat sendirian dirumah pahalanya satu. Dalam hadits shoheh, perbandingan sholat berjamaah di masjid pahalanya berlipat dua puluh tujuh derajat. Besarnya pahala yang dijanjikan dari-Nya, ringankan langkah untuk mendatangi masjid tanamkan pada putra-putri kita.

Kuadrat, dekatkan dengan keutamaan bulan ramadhan. Ramadhan memuliakan manusia, saat turunnya malam lailatul qodar satu kali kebaikan pahalanya sama dengan seribu bulan. Melakukan satu kebaikan sebanding melakukan kebaikan selama 83 tahun.

Pendekatan ilmu hitung, bisa dikaitkan ibadah haji. Dalam hadits satu kali ibadah di masjid nabawi pahalanya berlipat 100 kali dibandingkan masjid biasa. Keistimewaan lagi, jika kita mampu sholat di masjidil kharam maka pahalanya 1000 kali lipat. Motivasi nyata, disampaikan pada putra-putri kita agar mempunyai impian untuk menunaikan kesempuranaan imanya. Tumbuhkan semangat menunaikan ibadah haji pada si kecil, agar mempunyai cita-cita mulia.

Motivasi ibadah harus dibangun dalam keluarga, inilah ladang kehidupan sesungguhnya. Lewati ujian anak-anak itu sesuai waktu pertumbuhannya. Dampingi mereka selagi masih perlu dampingan. Tanamkan ilmu agama saat masih kecil. Penyesalan itu, biasanya datang terakhir. Mumpung masih ada waktu! Benahi menyikapi hidup dengan konsep matematika yang tepat.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *