Strategi Tepat Meraih Hasanah Dunia Akhirat
Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Jika hidup ini seperti memilih barang, mana yang Anda pilih, bahagia di dunia atau bahagia di akhirat?
Jawaban yang paling memungkinkan Anda memilih bahagia dunia akhirat. Kalau dipertegas lagi Anda ingin hidup kaya raya dan bahagia di dunia, dan di akhirat nanti masuk surga.

Kemungkinan kedua Anda akan mengatakan bahwa yang terpenting adalah bahagia di akhirat. Adapun di dunia kalau harus hidup sengsara tidak masalah. Dunia hanyalah kehidupan sementara yang penuh dengan fatamorgana.

Ada juga orang yang mungkin menjawab, “ Saya tidak tahu ah. Bagi saya yang penting hidup. Jalani aja apa adanya.” Bahkan ada juga orang yang akan menjawab, “ Dunia itu kehidupan real yang kita hadapi sehingga kebahagiaan dunia itu nyata dan harus kita raih. Adapun kehidupan akhirat kita belum tahu. Jika kehidupan akhirat itu ada, itu kan masih nanti. Ibarat kata, lebih baik telur hari ini daripada ayam di kemudian hari.

Saya berharap Anda tidak temasuk orang yang memiliki prinsip hidup dua yang terakhir ini. Karena kalau kita orang beragama, tidak akan memiliki prinsip seperti itu. Hanya orang-orang materialis dan komunis yang memiliki prinsip hidup seperti itu. Bagi penganut paham materialis hakikat yang ada adalah materi. Konsep kebahagiaan dalam pikiran mereka adalah kebahagiaan materi dan duniawi. Semakin banyak materi yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin bahagia. Itu menurut mereka.

Tetapi fakta empirik tidak menunjukkan demikian. Bahagia itu bisa dimiliki oleh siapa saja, orang miskin atau orang kaya. Orang-orang kaya juga banyak yang memiliki kisah pilu dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Menurut laporan WHO tahun 2014 tiap 40 detik ada satu orang di dunia yang meninggal karena bunuh diri. Diperkiran ada 800.000 orang di dunia yang melakukan tindakan bunuh diri tiap tahun. Beberapa negara maju seperti Jepang dan dan Korea Selatan memiliki kasus bunuh diri yang termasuk tertinggi di dunia meskipun secara materi lebih tercukupi.

Berbagai penelitian mengatakan bahwa orang yang meletakkan materi sebagai tujuan hidupnya akan lebih mudah menderita depresi dan kecemasan. Oleh karena itu negara yang berpenghasilan tinggi tingkat depresinya juga tinggi.

Hal ini menurut para psikolog terjadi karena negara dengan penghasilan tinggi masyarakatnya memiliki tingkat persaingan dan perasaan gagal yang ekstrem. Mereka terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Uang dan materi sering membuat seseorang merasa bisa membeli segalanya dan meraih segalanya. Tapi faktanya tidak demikian. Bahkan apa yang bisa dibeli tidak lebih dari kesenangan fana yang sesaat saja. Kesenangan mungkin bisa dibeli dengan uang tapi kebahagiaan tidak selamanya dapat dibeli dengan uang.

Oleh karena itu Islam membimbing umat manusia untuk hidup sejalan dengan fitrahnya. Fitrah itu ibarat barang elektronik adalah stelan dari pabriknya (default). Tapi bedanya kalau setelan asli pabrikan banyak yang kurang memuaskan konsumen sehingga perlu dimodifikasi, tapi kalau setelan penciptaan manusia dibuat oleh Zat yang Mahacanggih dan detail perencanaannya (al-Hakim). Setiap upaya menjauhkan manusia dari fitrahnya akan menjauhkan manusia dari kebahagiaan.

Allah Swt telah mengarahkan agar manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:201-202;
“Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Ayat ini menjelaskan visi besar yang seharusnya dicapai oleh setiap manusia. Yaitu mendapat kebaikan di dunia dan akhirat. Orang yang hanya menginginkan kebaikan di dunia adalah orang yang memiliki cita-cita rendah. Golongan yang demikian kelak di akhirat tidak ada kebaikan baginya. Hal ini dijelaskan oleh ayat sebelumnya (QS. Al-Baqarah:200) :
Hasanah atau kebahagiaan di dunia mencakup kebahagiaan fisik atau material, kebahagiaan intelektual, kebahagiaan sosial, serta kebahagiaan spiritual.

Kebahagiaan fisik-material misalnya terkait dengan kesehatan, kendaraan, tempat tinggal dan kesenangan materi lainnya. Di antara fitrah manusia adalah kesenangannya pada materi. Allah Swt juga tidak melarang hambaNya memperoleh kesenangan materi, asalkan halal dan tidak berlebihan.

Kebahagiaan intelektual terkait dengan kemampuan manusia mengoptimalkan aktivitas nalar dan intelektualnya. Pendidikan memiliki pengaruh pada peningkatan kualitas intelektual seseorang. Semakin tinggi kualitas intelektual seseorang maka semakin mudah meraih kebahagiaan intelektual.

Kebahagiaan sosial terkait dengan relasi atau hubungan sosial yang baik dan harmonis. Juga terkait dengan pengakuan sosial dari lingkungan.

Adapun kebahagiaan spiritual terkait dengan kemampuan manusia memenuhi kebutuhan rohaninya. Taat kepada ajaran agama merupakan cara yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan rohani manusia, sehingga menghasilkan rasa syukur, rasa aman dan rasa tentram dalam hidupnya.

Perlu disadari bahwa kebaikan di dunia memiliki sifat terbatas. Tidak semua kebaikan yang kita inginkan mesti terkabulkan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Isra’:18,
“Barang siapa menginginkan balasan yang segera(di dunia), maka Kami akan menyegerakan balasan itu untuknya di dunia dengan apa yang Kami kehendaki, bagi siapa yang Kami inginkan.

Adapun “hasanah” atau kebaikan di akhirat tiada lain kecuali kehidupan di dalam surga dengan berbagai fasilitas yang menjadi kesenangan manusia. Kemudian puncak dari semua itu adalah kesempatan melihat Allah dan mendapat keridhoanNya.

Untuk mewujudkan hal ini semua ada prasyarat dan proses yang harus diupayakan. Tanpa upaya dan usaha maka visi hanya akan menjadi angan-angan semata seperti mimpi di siang bolong. Ada pepatah yang mengatakan “Vision without work is daydream, and work without vision is nightmare” (Visi tanpa ada amal untuk mewujudkannya adalah mimpi di siang bolong, dan amal tanpa ada visi yang mendasarinya adalah mimpi buruk).

Surat Al-Ashr mengingatkan bahwa manusia berpotensi mengalami kerugian (kegagalan) dalam hidup, terutama kegagalan di akhirat. Manusia akan terhindar dari kegagalan tersebut jika menempuh empat langkah yang menjadi kunci strategis, yaitu: beriman, beramal kebaikan (amal shalih), berdakwah atau mengupayakan agar kebaikan dan kemaslahatan dapat dinikmati oleh orang banyak, dan istiqamah dalam menempuh hal itu semua (bersabar).
Wallahul Musta’an.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *