Sarung dan Cerita dibaliknya
Moh. Anis Romzi

Sarung lekat dengan bangsa Indonesia. Khususnya di kalangan santri Indonesia. Itu adalah seragam wajib ketika seorang santri menuntut ilmu di pesantren. Sehingga anak-anak pesantren sering dijuluki kaum sarungan.

Pemakaian sarung meluber di kalangan masyarakat pedesaan. Kegiatan ibadah dan keagamaan hampir selalu diwarnai dengan sarung. Busana ini menggairahkan industri tekstil indonesia. Pada hari raya Idul fitri, kaum pria dari yang belia sampai yang tua tidak pernah lepas saat memakainya. Ini seperti sebuah identitas.

Dalam KBBI V sarung bermakna kain pembungkus. Dalam bentuk fisik sarung versi Indonesia adalah kain bermotif dengan satu jahitan dari ujung satu ke yang lain. Ia seperti berbentuk tabung. Adapun cara memakainya dengan cara diikatkan di pinggang setelah pemakai masuk ke dalam kain. Pada awalnya sarung adalah pakaian untuk bawahan. Seiring dengan berjalannya zaman beberapa kain sarung dimodifikasi menjadi celana dan baju atasan.

Sarung dalam sejarah peradaban busana di Indonesia. Dalam (muslim.go.id) dituliskan bahwa sarung masuk ke Indonesia pada abad ke-14. Saat itu sarung dibawa oleh pedagang Gujarat dan Arab. Kedatangan mereka adalah berdagang. Sekaligus pula mereka menyebarkan agama Islam. Pada tahap berikutnya sarung identik dengan masyarakat dan kebudayaan Islam.

Lebih jauh dalam sejarah sarung berasal dari Yaman dengan nama sebutan fuutah, izaar, wazaar atau maawis. Awalnya sarung dipakai oleh suku badui di Yaman. Saat itu sarung berasal dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel. Itu merupakan pewarna hitam. Sampai saat ini sarung masih menjadi pakaian tradisional Yaman. Sarung Yaman menjadi buah tangan wisatawan yang berkunjung dari sana.(muslim.go.id).

Nilai-nilai dibalik sarung bervariasi. Tidak hanya sebatas busana, sarung juga menyimpan nilai. Nilai ini melekat dengan pemakainya. Setiap daerah ataupun negara bisa saja memandang berbeda dengan nilai yang terkandung dalam sarung. Misalnya di Malaysia atau di Brunei Darussalam cara memakai sarung berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Mereka mengenakan sarung dengan cara diikat di luar celana khas. Sarung tampak seperti sebagai hiasan. Namun wajib bagi mereka memakainya di acara resmi kenegaraan.

Satu contoh pemakaian sarung di Indonesia adalah di Bali. Masyarakat Bali hanya mengenal satu motif warna dalam sarung. Warna hanya hitam dan putih dengan motif kotak-kotak. Ini identik dengan sebuah keyakinan masyarakat Bali. Selain dipakai oleh para pria Bali, sarung dengan motif yang sama itu digunakan untuk membungkus arca pada upacara keagamaan.

Sarung bukanlah identitas suatu agama tetapi budaya. Ia berjajar dengan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang lain. Ini menjadi tidak elok apabila sarung diklaim sebagai milik sebuah agama tertentu. Karena lintas agama dan suku memakainya dengan cara yang berbeda. Memang pada awal sejarahnya ia digunakan secara politik untuk melawan penjajahan.

Sebagai sebuah hasil cipta apresiasi tergantung dari komunitas penikmatnya. Semakin pemakai merasa nyaman memakainya maka tidak akan menjadi masalah. Selain itu bentuk apresiasi dapat berupa nilai seni. Motif yang menarik juga mengundang minat pelanggan. Saatnya sarung tidak lagi hanya menjadi identitas agama tertentu. Sarung dapat mewakili ke-bhinneka-an Indonesia yang sesungguhnya dalam berbusana.

Saatnya dunia tahu what is sarung for? Pakaian yang semula hanya menjadi identitas komunitas tertentu perlu dilebarkan. Tidak hanya bersifat Indonesia tetapi harus mendunia. Saatnya sarung Indonesia bicara pada dunia.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 28/06/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *