Menulis itu Membuat ‘Lapar’
Moh. Anis Romzi

Setelah beberapa hari memaksakan diri menulis, saya menjadi ingat apa yang dikatakan Sinta Yudisia. Mentor ketika mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku kelas fiksi. Ia mengatakan akan nada hambatan saat menulis atau ia biasa menyebutnya dengan writer’s block. Ini kutipan dari tugas video bu Sinta. Salah satu hambatan menulis adalah lapar.

“Mood booster. Mencari makanan atau minuman padahal tidak baik. Bisa gemuk menjadi penulis. Carilah hal yang lebih bermanfaat dengan membaca tema-tema ringan pikiran kita menjadi segar. Menonton film yang disukai. Mengkonsumsi makanan terus-menerus untuk mengatasi writer’s block tidak disarankan. Penulis membutuhkan stamina prima.”

Dan sekarang saya betul-betul mengalami. Bukan dalam bentuk tulisan lagi. Memang sering lapar saat menulis. Saat sedang asyik menulis tiba-tiba lapar itu datang. Fokus kepada tulisan agak kendur. Namun karena niat maka satu produk tulisan harus terselesaikan. Beberapa kali rasa lapar itu harus ditahan agar rencana penulisan terpenuhi. Bisa saja tidak semua penulis melakukan hal yang sama.

Sangat sering dalam gambar sebuah quotes penulisan gambar laptop berjajar dengan secangkir kopi. Ada juga berupa cemilan makanan ringan. Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya menulis membakar kalori. Asumsi ini bukan tanpa alasan seperti yang dikatakan para mentor menulis akan ada mood booster. Daripada mencari lebih baik disediakan dahulu ketika dibutuhkan.

Saya belajar menerapkan Zona waktu menulis saya adalah mulai dari jam 21.00 dan berakhirnya tidak menentu. Saya merasa penting untuk menghasilkan sebuah tulisan dalam satu malam. Salah satunya adalah dengan kegiatan sehari 500 kata.

Saat lapar ketika menulis datang, inilah saat paling besar keluar untuk menulis. Bukan dengan menunda lapar, tetapi desakan untuk segera menyelesaikan tulisan. Lapar sangat membantu penyelesaian tulisan. Kalau boleh menggunakan kata bijak the power of kepepet lapar.

Jika memang rasa lapar itu datang sikapi dengan bijaksana. Akan lahir masalah baru bila ada ungkapan ‘menulis menyebabkan obesitas’. Ini adalah ungkapan saya pribadi.
Menulis secara fisik tidaklah mengeluarkan energi yang besar. Seseorang yang sedang menulis umumnya dilakukan dengan duduk dan tidak banyak bergerak. Gerakan paling sering terlihat gerakan jari. Sisanya tidak terlihat gerakan badan yang begitu berarti. Bergeraknya pikiran dan panca indera dalam menulis membuat terkurasnya tenaga.

Aktifitas menulis sejatinya membutuhkan tenaga ekstra. Buktinya tidak banyak orang yang menekuninya. Hanya ingin, tapi sulit untuk melakukan. Start the point is difficult. Memulai menulis perlu keberanian melawan takut dari dalam diri.

Rasa lapar dalam aktifitas menulis sebenarnya adalah manusiawi. Namun memerlukan penyikapan yang bijak. Pengendalian diri terhadap lapar sebenarnya telah sangat biasa diajarkan yakni dalam ibadah puasa. Maka tentukan waktu yang tepat kapan harus memenuhi lapar saat menulis. Ini agar tujuan dari menulis tercapai. Sekaligus pula energi yang keluar saat menulis dapat terganti. Kendali ada di tangan anda. So be wise with your starving.

Energi yang hilang saat menulis akan terbayar ketika target tercapai. Rasa kepuasan batin yang tidak dapat ternilai dengan uang dan materi. Apalagi hanya rasa lapar, pun akan hilang saat tulisan kita selesai sesuai target. Jadi hakikatnya rasa lapar saat menulis adalah godaan. Apabila kita terlena, maka yang ada adalah kegemukan dan proyek tulisan yang tidak selesai. Anda tidak mau bukan?

Tanamkan rasa ikhlas dalam menulis. Lewati setiap godaan yang ada di dalamnya. Termasuk rasa lapar dan ingin ngemil saat menulis. Resep ikhlas itu adalah suka lupa pada kebaikan yang kita buat. Penuhi lapar setelah tulisan selesai. Makanlah setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Selesaikan tulisan didampingi lapar. Tabahlah!
Jaya Makmur, 26/6/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *