Kopiah Ramadan
Oleh: Moh. Anis Romzi

Pernak-pernik Ramadan selalu ditunggu. Ia beraneka ragam adanya. Mulai dari kuliner, suasana, ritual, bahkan busana. Pada kesempatan ini akan diuraikan salah satu trend busana Ramadan, Kopiah.

Tren busana ramadan selalu ada setiap tahunnya. Kopiah salah satunya. Beberapa daerah menyebutnya dengan songkok. Songkok berasal dari bahasa Melayu atau Bugis. Rozan Yunos dalam artikelnya The Origin of the Songkok or Kopiah yang pernah dimuat The Brunei Times edisi 23 September 2007 menceritakan, peci pertama kali dikenalkan oleh saudagar Timur Tengah yang menyebarkan agama Islam. Ia menyatakan bahwa songkok telah digunakan sejak abad ke-13 di kepulauan Malaya. (era.id: 04/9/2018)

Identitas dalam bentuk kopiah dalam sejarah. Pada mulanya kopiah adalah bahasa serapan. Ia berasal dari bahasa Arab dari kata kaffeih, kaffiyeh atau kufiya yang artinya tutup kepala. Sementara dalam bahasa yang lain ada yang menyebutnya dengan fez dalam bahasa Turki yang artinya penutup kepala kaum nasionalis Turki. Nantinya ini diambil menjadi kata peci. Dan dalam bahasa Belanda peci diambil dari kata petje. Itu memiliki arti topi kecil.(era.id: 04/9/2018)

Symbol masyarakat muslim Indonesia pada awalnya. Di kalangan santri kopiah adalah pelengkap busana wajib dalam menuntut ilmu di kelas. Kalangan santri tradisional akan merasa tidak sopan apabila ia tidak mengenakan kopiah dalam belajar. Santri hanya diperkenankan mengenakan kopiah hitam. Kopiah putih dikenakan bagi yang telah menyandang gelar haji. Dan ini sudah menjadi tradisi di kalangan santri. Utamanya pesantren di Jawa. Hanya masyarakat muslim yang memakai kopiah pada awalnya.

Dalam syariat Islam mengenakan kopiah adalah dianjurkan dalam ibadah. Walaupun secara tekstual tidak berbunyi songkok atau peci. Salat khususnya dianjurkan memakai penutup kepala. Dalam khazanah Islam penutup kepala yang disebut dengan imamah. Memakai imamah hukumnya sunnah. Baik untuk salat atau sekadar perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa hadits nabi Saw. Walaupun hadits-hadits tersebut dinilai dlaif, namun karena jumlahnya banyak, antara hadits satu dengan yang lain saling menguatkan.(Ahmad Mundzir, NUOnline;29-8-2018)

Salah satu hadits nabi yang menyebutkan bagaimana rasul memakai imamah adalah sebagai berikut:”Sesungguhnya Rasulullah Saw berkhutbah di hadapan masyarakat sedangkan beliau mengenakan imamah berwarna hitam.”(HR. Muslim:452)(Ibid)

Kopiah sebagai hasil akulturasi budaya Arab dan Melayu. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada persinggungan antara hukum Islam dan budaya di Indonesia. Dalam penggunaan imamah, dan kopiah sebagai pakaian ibadah dan perhiasan. Pemakaian kopiah sebagai sarana ibadah dan pakaian keseharian akan melahirkan sintesa baru tentang penutup kepala. Ini adalah sebuah penggalian hokum dan budaya yang mengayakan.

Indonesia mengambil kopiah, peci, atau songkok hitam sebagai identitas busana nasional. Proklamator Soekarno bahkan pernah menyebut peci, kopiah, ataupun songkok sebagai identitas lelaki Indonesia. Pun setiap presiden dan wakil presiden dalam potonya selalu mengenakannya. Berturut-turut pejabat di bawahnya. Akhirnya secara tidak sengaja songkok hitam adalah pakaian nasional.

Kopiah selalu menghiasi aktifitas Ramadan muslim Indonesia. Beberapa kalangan muslim awam hanya mengenakan kopiah hitam. Tidak menggunakan lilitan dari surban. Penulis berpendapat ini adalah sarana ketawadluan. Khususnya di kalangan santri. Imamah umumnya dikenakan oleh para kyai sepuh. Dalam tradisi pesantren santri lazimnya memakai peci hitam. Walaupun beberapa yang lain memang ada santri yang mengenakan imamah sejak awal.

Identitas bangsa dalam bentuk busana harus dijaga. Ini dimaksudkan untuk memperkaya budaya bangsa. Kopiah sebagai hasil rasa, karsa, dan cipta generasi bangsa harus dilestarikan. Putra-putra kita harus dikenalkan sejak dini. Ramadan 2020 sebagai manifestasi pelestarian kopiah dalam ibadah. Ramadan akan indah apabila setiap yang kita kenakan bernilai sunnah dan ibadah. Apabila generasi islam memahami ini kita tidak akan mengalami krisis identitas. Allahu A’lam.
Kediri, 1 Mei 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Kopiah Ramadan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *