Menguatkan Karakter dari Rumah
Oleh: Moh. Anis Romzi

Sebuah pesan whatsapp bercerita bagaimana anak Jepang ketika berada di sekolah. Anak-anak Jepang di sekolahnya sangat bertanggung jawab. Sekolahnya tidak mengenal tenaga kebersihan yang dibayar. Tetapi siswa dan gurunya bertanggung jawab bersama pada kebersihan sekolah.

Kisah di atas mengundang tanya saya kenapa? Ternyata pendidikan Jepang berasal dari rumah. Mereka membawa nilai sikap dan perilaku ke sekolah. Keluarga adalah sekolah pertama bagi sang anak. Pembentukan watak anak dimulai dari rumah bukan dari tempat yang lain. Ketika rumah mampu menjadi sarana menata diri anak, bukan mustahil masa depan dapat diprediksi. Tentu dengan tidak menafikan takdir. Anggota keluarga dewasa adalah teladan bagi yang belia. Contoh sederhana adalah kata-kata atau ujaran dari rumah sangat mudah terbawa ke sekolah. Ini saya alami sebagai pendidik di jenjang SMP. Bahasa yang secara norma kesopanan tabu, menjadi biasa. Inioin karena kebiasaan di rumah dan lingkungan.

Anak-anak kita Terkadang sebaliknya. Walaupun tidak semua. Nilai yanh berasal dari rumah atau lingkungan tempat tinggal anak sangat berpengaruh. Perilaku negatif cenderung di bawa ke sekolah dari rumah dan lingkungan. Inilah tantangan pendidikan Indonesia. Jika lembaga pendidikan hari ini mampu merubah ini, contoh seperti di negara Jepang dapat terlaksana di indonesia. Sulit tetapi bukan tidak bisa. Para pendidik harus optimis. Revolusi mental dimulai dari sekolah. Sekarang atau tidak sama sekali.

Peran orangtua sebagai model sangat dominan dibawa ke sekolah. Lazim karena waktu anak sebagian dengan keluarga. Khususnya ibu. Bagi yang menjalani profesi ini rumah tangga. Ini adalah profesi terhormat sebenarnya. Karena di tangan para ibu rumah tangga inilah karakter pertama anak dibentuk. Maka orang tua yang menghendaki seperti apa putra/inya merekalah yang menggambar masa depan anaknya.

Penting bagi orang tua juga berperan sebagai guru. Apalagi di masa pandemi. Saat semua harus belajar, bekerja dan beraktifitas dari rumah. Pendampingan orangtua mempunyai nilai yang sangat signifikan terhadap keberhasilan belajar sang anak.

Adalah tempat saya bekerja sebagai pendidik. Pada saat saya dan rekan kerja melakukan evaluasi kebijakan belajar dari rumah. Ditemukan data yang mencengangkan. Peserta didik yang dalam keseharian belajar pada kelas reguler ternyata didapati hasil buruk pada nilai kognitif saat belajar dari rumah. Setelah dilakukan observasi, fakta ditemukan bahwa peserta didik yang bersangkutan bebas melakukan apa saja di rumah. Ini tanpa pengawasan dan pendampingan orangtua. Jumlah peserta didik yang seperti kasus di atas lebih dari 50%.

Hasil evaluasi belajar dari rumah menyimpulkan bahwa peran orangtua dalam mendampingi putra/I nya sangat signifikan. Ini berdasarkan hasil analisis rekan-rekan pendidik di forum diskusi guru. Dari hasil capaian prestasi belajar dan sikap menunjukkan bahwa orangtua yang peduli pada kegiatan belajar putra nya di rumah nilainya sangat signifikan. Penting untuk pengeloka satuan pendidikan mempromosikan bahwa peran orangtua di rumah sama pentingnya dengan peran guru/pendidik di sekolah. Kembali kerjasama sekolah dan orangtua/ wali siswa digalakkan kembali. Tentu dengan teknik yang berbeda sebelum masa pandemi covid-19 melanda. Rumah adalah tempat belajar utama.

Permasalahan bahwa orangtua pasrah bongkokan kepada sekolah untuk proses pendidikannya. Partisipasi yang umum adalah dukungan pembiayaan dari orangtua kepada satuan pendidikan. Saat kebijakan belajar dari rumah, ini tidaklah cukup. Orang tua harus aktif mendampingi putranya. Hal ini berlaku untuk jenjang SD dan SMP.
Orang tua mewariskan karakter kepada anaknya. Karakter positif harus dimulai dari rumah. Saatnya mengembalikan keluarga sebagai sekolah pertama.

Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah, 25/6/2020

0Shares

By Admin

One thought on “Menguatkan Karakter dari Rumah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *