Menatap Masa Depan Setelah Wabah
Oleh: Moh. Anis Romzi

Prediksi wabah covid-19 bermunculan. Ada yang menyatakan akan berakhir di bulan juni. Ada yang mengatakan labih lama. Bahkan ada yang menyatakan akan berakhir di akhir tahun 2021. Namun harapan untuk pulih tetap harus ada. Kita tidak boleh menyerah.

Fakta bahwa vaksin yang dipercaya sebagai obat belum ditemukan. Masih banyak yang menunggu-nunggu kepastian adanya. Kejenuhan sudah mulai melanda. Rasa percaya terhadap dampak virus Covid-19 sudah mulai turun. Protokol kesehatan yang dicanangkan banyak yang menentang. Perut lapar lebih penting dari sekadar protokol kesehatan. Ekonomi banyak yang lumpuh. Transportasi, pariwisata, even olahraga terhenti. Masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor ini gulung tikar.

Masyarakat mulai gelisah tidak melakukan aktifitas produktif. Kegiatan ekonomi ‘dipaksa’ normal untuk sebuah keadaan baru. Waktu tiga bulan bertahan di rumah menimbulkan kebosanan juga. Ragam aktifitas di luar ruangan mulai berjalan. Walaupun dengan melalui tahapan. Kabar terbaru bahwa covid-19 bisa sembuh dengan obat yang murah dexamethasone. Ini menggembirakan untuk semua. Sumber resmi WHO pun mengiyakan.

Negara perlahan mulai menerima keadaan. Hal ini dinyatakan dengan kita akan hidup berdampingan dengan covid-19. Dengan mematuhi protokol kesehatan bernama kenormalan baru. Secara bertahap fasilitas umum mulai dibuka. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pun diperkenankan untuk umum. Namun yang berbeda sebelum wabah adalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Semua dilakukan untuk memutar rantai penularan covid-19. Kabar gembira setelah di rumah saja.

Berbagai scenario mulai disiapkan. Fase menghadapi kenormalan baru telah dicanangkan. Ramai kebijakan pemerintah daerah saling berlomba menyambut kenormalan baru. Saat semua orang sudah mulai jenuh dengan ‘pengurungan’ bahasa yang lain untuk isolasi diri.

Tantangan sekaligus peluang untuk bangsa ini lepas dari kepanikan. Kepanikan ini berasal dari dalam sekaligus dari lingkungan sekitar kita. Berhati-hati perlu, tetapi terlalu tidaklah patut. Sederhananya adalah patuhi protokol yang berlaku dari pejabat berwenang. Kemudian lakukan aktifitas yang bermanfaat untuk diri dan lingkungan. Bukankah manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi yang lain?

Saatnya bersama kembali produktif. Setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Masa yang tidak mengenakkan harus berlalu. Ini harus dengan ikhtiar bersama pula. Dengan dukungan bersama serta semangat gotong-royong semua bisa diatasi. Saatnya setelah wabah kita berjalan beriringan menuntaskan cepat agar segera berlalu.

Ketakutan dan kepanikan adalah penjara yang tidak kelihatan. Ini lebih berbahaya dari penjara secara fisik. Ia menahan kita sebelum bergerak. Jika tidak ada gerak tidak akan ada energi yang keluar. Ketakutan harus dilawan. Berita-berita baik seputar kehidupan harus digaungkan. Ini untuk membesarkan hati semua.

Semua akan kembali normal, tetapi pada kenormalan yang baru. Kenormalan yang belum terpikirkan sebelumnya. Siapa saja akan melewati ini. Saatnya saling memberi semangat untuk saling menguatkan.

Beberapa perlahan mulai berjalan. Walaupun ada beberapa perbedaan. Inilah kenormalan baru. Protokol baru haris diterapkan untuk kebaikan bersama.

Beberapa pengalaman baik dari covid -19 mari dijadikan pelajaran. Inilah citra diri sang Ulul albab. Yaitu mereka yang ingat Tuhannya dalam kondisi apapun. Sekaligus mereka pandai mengambil hikmah atas sebuah kejadian. Semua yang ada di bumi ini tidak ada yang sia-sia diciptakan. Semua ada manfaatnya. Pandailah berpikir, belajar dan bersyukur. Beruntunglah mereka yang pandai bersyukur. Rasa syukur ini akan membawa kepada kebaikan yang lebih.

Wabah ini akan berlalu. Jika ini dianggap kesulitan, Allah janjikan ada kemudahan sesudahnya.

Jaya Makmur, Katingan , Kalimantan Tengah. 24/6/2020

0Shares

By Admin

One thought on “Menatap Masa Depan Setelah Wabah”
  1. Mantap Pak Anis, terus berkarya lewat tulisan. Izin krisan sedikit di alinea ke 10 baris ke 4 tertulis protokol baru haris …. dst
    Apa mungkin typo maksudnya “harus” ? Salam Literasi pak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *