Semeru

Oleh: Nurjanah Lubis

Hidup ini adalah perjalanan, Perjalanan manusia menuju TuhanNya. Seorang Pendaki yang akan melakukan pendakian, harus mempersiapkan dan merencanakan perjalanannya. Membawa sendiri kebutuhan yang dapat menjadi beban di punggungnya. Melewati jalan yang tidak selalu lurus tapi bisa juga berliku. Tidak selalu datar tapi bisa juga menurun dan mendaki. Tidak selalu aman tapi bisa pula berbahaya. Tidak selalu indah tapi bisa juga mencekam dan menyeramkan. Berjalanlah bersama teman agar dapat berbagi suka dan duka, kebahagiaan dan kekecewaan, tawa dan air mata. Namun tetaplah berjalan pada tujuan dan jalan yang telah di arahkan menuju Tuhan.

–o0o–

Kamis,, 9 Agustus 1984, kurang lebih seminggu menjelang pelantikan Calon Anggota (caang)  menjadi M (Mapala UI), 7 (tujuh) orang yakni Alin, Usman, Setyo, Nur, Yoseph, Gama dan Herry yang jelas masih berpredikat Caang dengan selamat menjejakkan kaki di puncak Semeru (3676 mdpl). Puncak gunung yang konon tertinggi di pulau Jawa.

Sekitar pk. 11.15 wib, kami bertujuh duduk melingkar, tidak jauh dari monumen in memoriam M-007-UI dan MK -058-UI (nomor anggota Mapala UI Soe Hok Gie dan Idhan Lubis) yang meninggal saat pendakian gunung Semeru 16 Desember 1969). Berdoa bersama, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang memberi keselamatan, kesehatan dan kekuatan selama pendakian dan membiming setiap langkah kaki kami hingga tidak tersesat.

Jauh di barat daya sana, gunung Kawi dan Kelud tampak biru diselimuti awan putih tipis. Panasnya mentari, dinginnya angin di puncak berhembus, kami rasakan satu bersama suara ledakan kawah yang melempar bebatuan dan mengeluarkan kepulan awan pekat kelabu. Siang itu, hanya kami yang berada di puncak tertinggi. Lebih tinggi dari gumpalan awan yang berarak. Kelelahan selama pendakian sejenak terlupakan.

Ini adalah pendakian pertama yang kami lakukan sebagai caang dalam kelompok sendiri. kami tidak tahu kapan akan kembali lagi kesana bersama. Maklum tempat tinggal kami ratusan kilometer. Saat dihimbau untuk melakukan perjalanan kelompok kecil, kami memilih pendakian ke Semeru.

Dari Jakarta, kami berangkat dengan kereta api Gaya Baru yang melewati jalur selatan Jawa, berhenti hingga di Malang dan melanjutkan lagi ke Tumpang. Jalur yang kami tempuh merupakan jalur umum. Pendakian dimulai dari Ranu Pane, mendaki sampai gunung Ayak-ayak, terus turun ke lembah, berjalan terus hingga Ranu Kumbolo. Di sini kami beristirahat agak lama, sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Puncak.

Sebuah lembah lagi terlewati, penuh rerumputan kering, kemudian memasuki hutan cemara yang bernama cemoro kandang, lanjut ke lembah Jambangan dan tiba di Arcopodo. Perjalanan seharian, kamipun memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Pendakian akan dilanjutkan pagi berikutnya.

Esok pagi, perjalanan menuju puncak terbentang di hadapan kami, jalan terjal menanjak dengan material batuan dan pasir. Berat. Terutama setelah melewati satu pohon cemara terakhir yang tumbuh terpisah dari cemara-cemara lainnya. Barangkali bila Tuhan tidak memberi kekuatan dan ketabahan, tidak akan lengkap kami tiba di puncak.

Setiap kali kali melangkah naik, setiap kali pula kerikil dan pasir yang diinjak amblas turun. Seolah tidak rela kami menggapai puncak bila tidak diuji kesabaran dan kekuatan. Udara yang tipis oksigen dan jalan mendaki membuat nafas terengah-engah., lebih nyaman bila berhenti sejenak daripada terus melangkah naik.

Karena terbayang ingin tiba di puncak lebih cepat saat cuaca yang bagus dan adanya tekad yang sering ditanamkan “pantang turun sebelum sampai di puncak”, maka beratnya langkah terus dijalani sambil mengatur nafas. Degup jantung dan desah nafas cepat  terdengar. Keringat mulai terasa mengalir. Selangkah demi selangkah tanjakan dijalani. Terasa panjang dan melelahkan. Jalan yang akan diinjak dipilih, mana yang pijakannya kuat  tanpa longsor. diinjak untuk terus mencapai puncak. Jalan terjal mulai berkurang, mulai landai hingga akhirnya agak datar.  

“Ayo .. sebentar lagi sampai puncak” tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang teman memberi semangat.

Langkah pun diayunkan kembali dengan sepenuh tenaga. Dan .. bentangan pemandangan menakjubkanpun terbentang luas. Langit biru jernih ada di depan mata tanpa halangan. Ke arah mana mata memandang semua tampak biru menakjubkan. Kaki langit menggaris jelas. Saat derita pendakian sudah terlampaui. Kami ada di Puncak Semeru. Alhamdulillah

Masih dalam posisi duduk melingkar, kami berdoa untuk berterima kasih atas segala karunia yang telah sedang dan akan kami terima dari Nya. Berulang kali pandangan mata kami tebarkan ke segala penjuru mata angin. Dengan mata terpejam kami rasakan kehangatan sinar matahari, mendengar desau angin, dan sesekali gemuruh ledakan kawah semeru.

Kami tidak lama berada di puncak, setelah mengucapkan selamat tinggal kami tinggalkan puncak semeru yang terdiri dari pasir dan bongkahan batu, sebuah kayu tertutup jaket merah lusuh pada marmer bertuliskan M007UI dan  MK 058UI yang tampak damai.

Langkahku gontai, seperti juga langkah ke enam teman seperjalanan. Entah karena enggan meninggalkan puncak atau masih lelah saat pendakian. Tapi kami harus turun, diiringi ledakan kawah dan gumpalan awan kelabu serta samar-samar terdengar suara batuan jatuh terpental.

Perjalanan turun kami lalui dengan waspada, kalau tidak cepat melangkah dan memilih pijakan, bisa jadi kami jatuh terguling dan terjerembab. Berlari menuruni puncak tidak memakan waktu selama mendaki. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di cemara tunggal. Sementara sewaktu naik, dibutuhkan sekitar 1 jam.

Kami berharap suartu hari dapat kembali ke sini, Semeru. Memandang tanah Jawa dari atap tertinggi serta menghayati arti sebuah pendakian. Sayup sayup lagu tentang Mahameru bersenandung di hati kami. Lagu ciptaan senior kami Djodi Wuryanto.

Mahameru

Dijenjang Desember kudatang padamu

Kubimbing kau ke lereng semeru

Kubelai rambut yang hitam

Kau tertunduk malu

Kan kugapai Mahameru

Disudut bibirmu kurengguk cintamu

Penyegar  penghangat kan tubuhku

Burung burung pun bernyanyi

Alam pun berseri

Oh .. indahnya Mahameru

(Djodi Wuryanto M 080 UI)

0Shares

By Admin

One thought on “Semeru”
  1. Alhamdulillah Mahameru yang menemani kehidupanku, dia selalu teduh ngemong kami dari kecil, walau sesekali dia murka mengeluarkan suara seramnya. Kami khususnya aku merindukan Mahameru yang selalu setia hadir di ufuk timur ketika pagi menjelang. Yang selalu menampakkan kegagahan dan iwa perlindungannya mengawasi kami, makhluk kecil yang selalu bangga bisa hidup dekat melihat ya setiap hari.

    Kangen emakkk😭

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *