Al Bayan, Pejuang Pena untuk Peradaban

Oleh: Magnolia

Menulis bukanlah sesuatu yang rumit bagi yang tidak buta aksara. Seseorang dapat menulis apapun saat ini di berbagai media sosial. Ya, menulis semudah bernafas adalah quote yang didengungkan Ustaz Cahyadi Takariawan pada Kelas Menulis Online Non Fiksi pada Juli 2018 yang pernah saya ikuti.

Penekanan penulisan kepada nilai manfaat dan kemaslahatan, kebaikan untuk diri sendiri, orang lain bahkan lingkungan menjadi garis merah dari segala macam tujuan penulisan. Setiap aksara yang dituliskan kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Dalam surat Al-Qalam, Allah bersumpah menggunakan aksara ‘Nun”, menurut pendapat yang masyhur bermakna tinta. Dinukil dari hadis Imam Ahmad disebutkan bahwa makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah Al-Qalam, yaitu pena. Melalui wasilah pena tersebut, Allah Ta’ala memerintahkan para malaikat untuk menuliskan segala ketetapan-Nya di Lauhul Mahfudz.

Menggunakan media pena itu Allah Ar-Rahman mengajarkan manusia tentang apa-apa yang belum diketahui dan diilmuinya. Kepada Nabi Adam Alaihi salam, Allah Ta’ala mengajarkan bahasa yaitu isim-isim (nama-nama benda). Sedangkan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, Allah menurunkan wahyu pertama ‘iqra’, bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan.

Dalam surat Ar-Rahman, Allah Ta’ala mengajarkan Al-Quran kepada manusia, menciptakan manusia, dan Al Bayan yaitu menganugerahkan kepada manusia berupa kemampuan untuk menerima pesan; menyampaikan pesan juga membalas pesan. 

Ustaz Salim A. Fillah dalam wejangan beliau pada acara Syawalan Penulis Indonesia yang ditaja oleh Angkringan Penulis Indonesia, menyimpulkan: Allah Subhanahu wata’ala memuliakan seorang penulis karena Allah Subhanahu wata’ala menggenapkan sifat Ar-Rahman-Nya kepada mereka. Mengajari dan memuliakan untuk Al Bayan,memahami dan menyampaikan secara baik dan benar pemahaman dari isi Al Quran.

Lebih lanjut Ustaz Salim menyampaikan bagaimana propaganda seorang Theodor Herzl dimulai dan berhasil. Yakni bermula melalui tulisan ilmiah berjudul “Negara Yahudi” pada tahun 1896, mendeskripsikan mengapa negara Yahudi itu diperlukan.

Tulisan ini disertakan dan dibagi kepada seluruh peserta kongres di Basel, Swiss. Tulisan ini mendapat perhatian para intelektual dan cendekiawan tetapi tidak ada pergerakan nyata menuju terciptanya negara Yahudi tersebut.

Kemudian Theodor menuliskan sebuah novel “Out Newland“. Novel ini menceritakan tentang tanah lama yang baru, tentang keindahan dan kerinduan seorang Yahudi terhadap Baitul Maqdis (tanah milik Palestina). Tulisan ini lah yang berfungsi sebagai Al Bayan, yangkemudian bangsa yang terdiaspora tersebut melakukan pergerakan dari Rusia, Jerman, Slavia, Polandia, Argentina …  mereka semua bergerak kembali ke tanah Palestina sehingga terciptalah keadaan sebagaimana saat ini mereka membentuk negara Israel.

Kekuatan Al Bayan tidak dapat dinafikan. Dalam penggalan hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: “…. di antara Al Bayan terdapat sihir”. Apa yang dimaksud dengan sihir di sini menurut al fakir adalah ‘propaganda hitam’, seperti yang berhasil dilakukan oleh Theodor dengan novelnya.

Tentu saja di era digital saat ini begitu banyak tulisan; stigma; dan opini negatif, bahkan propaganda terselubung (hitam) melintasi alam maya. Fika Komara dalam bukunya yang berjudul “Penggerak Opini Islam Era Digital, dalam sub bab Fiqih Jurnalistik menyatakan bahwa ‘Naba’ yang disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 138 kali memiliki arti kabar (berita). Bagaimana menghadapi kabar berita merupakan salah satu ajaran Islam yang penting.

Selanjutnya dijelaskan, Ibnu Taimiyyah membagi kabar ke dalam dua bagian. Pertama, yaitu kabar baik dan benar (khabar shadiq) bersumber dari Otoritas Mutlak (yaitu Al-Quran; Hadis) dan Otoritas Nisbi (yaitu kesepakatan alim ulama/tawatur dan orang yang terpercaya secara umum). Hal ini lah yang menjadi kode etik penulis dan jurnalis Muslim. Hendaknya kita menjadi pelaku pemberi kabar yang terpercaya, bermanfaat dan “solving problem” karena itulah Islam Rahmatan Lil’Alamin. 

Kedua, yaitu kabar keliru atau bohong. Fika Komara dalam buku yang sama, pada sub bab Adab Menyaring Informasi menyatakan hendaknya kita mendekatkan proses validasi berita di sekeliling kita dengan Ilmu Hadis. Sebagaimana kita mengetahu bahwa hadist itu ada tingkatannya, dari Dhaif hingga Shahih. Begitu juga dapat kita terapkan dalam kehati-hatian dalam memilih informasi dan berita. Demikian pula hendaknya seorang penulis atau jurnalis Muslim dapat menjawab dan mengkonfrontir berita keliru juga bohong secara baik dan benar sesuai otoritas.

Wallahu’alam bish shawab

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *