SEPENTING APA VISI HIDUP ITU?

Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly


Bagi suatu organisisi atau perusahaan visi memiliki peranan yang sangat vital. Visi merupakan pernyataan ringkas tentang cita-cita organisasi yang berisikan aragan yang jelas dan apa yang akan diperbuat oleh suatu organisasi atau perusahaan. Untuk mewujudkan visi maka organisisi atau perusahaan mengembangkan misi (sasaran) yang akan dijalanai dalam tiap aktivitas. Dengan adanya visi maka tujuan menjadi jelas dan memudahkan menentukan langkah kinerja untuk mencapai tujuan tersebut.
Seperti halnya sebuah lembaga atau organisasi setiap individu yang menginginkan kehidupan yang baik seyogyanya juga memiliki visi hidup, cita-cita dan harapan hidup yang diupayakan untuk diwujudkan meskipun tidak harus dinyatakan secara verbal atau tertulis.
Berbicara tentang visi, berarti berbicara tentang gambaran-gambaran apa yang diinginkan dan akan dilakukan oleh seseorang di masa depan. Banyak orang yang kehidupannnya berjalan di atas ketidakjelasan arah dan tujuan, baik dalam aktivitasnya, hubungan sosialnya bahkan dalam makan dan tidurnya pun tidak jelas tujuannya.
Kita juga sering mendengar ungkapan “ Biarkan hidup ini mengalir seperti air”. Ungkapan ini biasanya diucapkan oleh mereka yang tidak mempunyai visi yang jelas dalam hidupnya. Secara sekilas ungkapan ini tidak ada masalah. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bermuara ke mana aliran air tersebut? Sebab hidup ini tidak kosong dari jebakan musuh, yaitu musuh abadi manusia, setan. Allah Swt mengingatkan kita tentang itu:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِير
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh. Karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir:6)

Seseorang yang tidak memiliki visi hidup, ia cenderung tidak memiliki keteraturan dan konsistensi dalam beramal dan beraktivitas, terutama dalam melakukan amal-amal yang berat dan membutuhkan usaha serta waktu yang panjang. Ia akan cenderung mengalami kebosanan dan kejenuhan. Padahal amal-amal itulah yang sebenarnya mengantarkan pada kesuksesan. Seseorang yang tidak memiliki visi hidup yang jelas cenderung untuk melakukan hal-hal yang bersifat instan atau jalan pintas yang tidak membutuhkan upaya yang berat. Ia juga tidak mampu menghadapi tantangan kehidupan dan cenderung menghindari tantangan-tantangan tersebut.
Sebaliknya orang yang memiliki visi hidup yang jelas akan memahami apa hidup itu, untuk apa ia hidup, dan bagaimana mengisi hidup agar dapat dipertanggungjawabkan di kehidupan setelahnya.
Visi hidup yang jelas juga menghidupkan harapan. Harapanlah yang membuat petani menanam, guru mengajar, da’i berdakwah, buruh bekerja, pengusaha berbisnis dan orang tua mendidik. Harapanlah yang membuat seseorang melakukan hal-hal yang berat dan melewati berbagai rintangan. Dan harapan itu lahir dari sebuah visi, dan semakin jelas visi seseorang maka semakin kuat harapannya, sehingga ia semakin kuat kesabarannya dan semakin siap menghadapi banyak tantangan dan rintangan.
Terdapat teladan yang baik terkait kekuatan visi dalam kisah Nabi Yusuf a.s. yang dijelaskan dalam al-Qur’an (QS.Yusuf:3-4). Mimpi Yusuf kecil melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya, yang ditakwil oleh ayahya bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kenabian dan bahwa Allah akan menjadikannya orang terhormat, telah menjadi visi dan tujuan hidup yang kuat pada diri Nabi Yusuf as.
Dengan kekuatan visi inilah Nabi Yusuf menetapkan fokus hidupnya dan tidak berputus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan. Ketika ia dizalimi oleh saudara-saudaranya maka yang ia pikirkan adalah jalan keluarnya bukan meratapi kezaliman tersebut. Seperti ketika ia dimasukkan ke dalam sumur, ia tidak berputus asa dalam gelapnya sumur. Ia yakin akan pertolongan Allah dan fokus memikirkan bagaimana cara keluar dari sumur. Demikian pula ketika Nabi Yusuf dihadapkan pada godaan asmara dari seorang wanita cantik dan terhormat, maka ia tidak memperturutkan nafsunya dan menolak godaan tersebut meskipun akhirnya ia harus dipenjara tanpa kesalahan dan kejahatan yang diperbuatnya. Nabi Yusuf as berkata :
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ(يوسف:33)
Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka
Hal ini Nabi Yusuf lakukan karena ia memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas yaitu menyiapkan diri dan memantaskan diri untuk dijadikan orang mulia dan terhormat oleh Allah Swt. Allah Swt mewujudkan apa yang menjadi visi tersebut. Dengan sekenario yang tidak terpikirkan oleh siapa pun Allah membentangkan jalan baginya untuk menjadi manusia yang memeiliki derajat tinggi di hadapan Allah dan manusia dengan mengangkatnya menjadi nabi dan pembesar Mesir.
So, tidak ada kata terlambat untuk menyeting ulang visi hidup kita dan berusaha fokus untuk mewujudkannya. Wallahul musta’an.

Islam mengajarkan agar visi hidup seorang muslim mengarah pada hasanah fid dunya dan hasanah fil akhirah (terwujudnya kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat). Islam juga mengingatkan kerugian besar bagi manusia yang hanay mengejar kebaikan hidup di dunia dan melupakan akhirat, karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi, sementara dunia hanya sementara.
Untuk mewujudkan visi diperluka upaya dan proses. Tanpa upaya dan usaha maka visi hanya akan menjadi angan-angan semata atau seperti mimpi di siang bolong. Ada pepatah “Vision without work is daydream, and work without vision is nightmare” (Visi tanpa ada upaya untuk mewujudkannya adalah mimpi di siang bolong, dan bekerja tanpa ada visi yang mendasarinya adalah mimpi buruk)

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *