Hidup Untuk Hidup

Oleh: Husin Ludiono, 20 Juni 2020

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”. Sebuah quotes dari seorang ulama dan sastrawan asal Sumatra Barat yang populer dengan nama penanya Buya Hamka ini cukup menohok, membuat kita harus merewind memori perjalanan dan memberi kesimpulan tentang siapa kita? Apa yang kita lalukan di kehidupan ini?

Manusia tentu bukanlah seekor babi, itu sangat berbeda 180° dari segi fisik antara keduanya. Keduanya sangat berbeda dalam fungsi dan tujuan penciptaannya. Namun keduanya jika ditinjau dari eksistensinya memiliki persamaan yaitu sama-sama bisa hidup sama-sama bisa mati.

Quotes di atas tentunya hanya bahasa kiasan untuk menggambarkan tipikal manusia tertentu yang tak mau berbuat apa-apa, dan tak tau apa-apa, hanya menggunakan nafas, tenaga dan pikiran untuk memenuhi isi perut sendiri, tak peduli dengan sebuah kalimat bahwa berbagi itu indah.

Kemudian tipikal manusia lainnya hanya giat bekerja untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, namun tidak mengindahkan aturan agama, hak orang lain diambilnya, yang bukan miliknya direbutnya, seolah manusia tipikal ini tidak ada akalnya, bagaikan hewan, tidak bisa membedakan mana miliknya dan bukan miliknya.

Maknai Hidup

Maka dari itu supaya kita tidak terdegradasi ke zona hayawan atau seburuk-buruk manusia, maka ia harus menjadi manusia yang baik, bila berkata perkataannya tidak membuat lawan bicaranya sakit hati, bila ia berbuat perbuatannya membawa manfaat bagi dirinya dan sekitarnya. Bak seperti seekor lebah ia hinggap tak merusak, ia kuat ketika ada gangguan, dan hanya mengeluarkan yang baik yaitu madu. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda ketika mengilustrasikan orang yang beriman :

عَبْدُ اللهِ بنُ عَمْرِ وَبْنِ الْعَاصِ اَنَّهُ سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  اِنَّ مَثَلَ الْمُؤَمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ اَكَلَتْ طَيْبًا وَوَضَعَتْ طَيْبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تُفْسَدْ

(رواه احمد فى المسند, مسند المكثرين من الصحابة, مسند عبد الله بن عمر و بن العاص)

“Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.” (HR. Ahmad)

Begitu indah tipikal manusia beriman, tampak jelas perbedaan dengan dua tipikal manusia sebelumnya. Manusia beriman hidup bukan sekedar hidup namun mereka hidup untuk kehidupan yang abadi, mereka giat membuat karya (amal shaleh) terbaik sebanyak mungkin selama hidup di dunia. Mereka menjadi giat berkarya karena mereka ingin bernasib baik di kehidupan yang selanjutnya. Orang beriman meyakini dan percaya kepada Firman Allah Sang Pencipta (Alquran), bahwa setiap amal perbuatan baik di dunia ini, kelak dikonversi menjadi sesuatu yang membahagiakan di kehidupan yang abadi. Ini termaktub dalam pedoman hidup orang beriman (Alquran):

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Yûnus/10:26]

Wallahu A’lamu bishowab

Referensi:

1.https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/life/inspiration/amp/muhammad-farid-hermawan/quotes-buya-hamka-bikin-semangat-c1c2

2. https://m.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2015/12/31/86485/empat-karakter-lebah-yang-dapat-ditiru-manusia.html

3. https://almanhaj.or.id/3345-mari-berbuat-baik-selalu.html

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *