Oleh: Moh. Anis Romzi

                Membicarakan makna akan menjadi sebuah tulisan yang panjang. Makna lebih luas dan panjang dari pada yang dimaknai. Lazim ketika kita membuka kamus, maka makna dari kata yang dimaksud hampir pasti lebih panjang. Itu kalau sebuah kata. Bagaimana kemudian dengan kalimat, paragraf ataupun turunannya. Kamus adalah piranti untuk menemukan makna secara leksikal. Makna hakiki lebih dari sekadar itu. Ia lebih luas dan mendalam. Makna leksikal adalah pintu masuk untuk mencari makna.

                Kali ini saya ingin mencoba berdiskusi perihal ibarat dan makna. Ada berbagai definisi tentang ibarat. Ini nanti yang akan dibahas selanjutnya. KBBI V memberikan definisi ibarat ada beberapa, diantara maknanya adalah merupakan kata benda yang berarti perkataan atau cerita yang dipakai sebagai perumpamaan. Makna yang lain adalah kata benda berarti isi (maksud, ajaran) yang terkandungdalam suatu perumpamaan (cerita dan sebagainya). Saya mengambil yang terakhir.

                Apa makna, bagaimana dan kenapa? Langkah pijakan untuk membahas makna sesuatu. Ini dapat dimulai dengan menjawab pertanyaan apa. Jawabannya merupakan kesehatan objek amatan. Ketika proses mendapatkan apa melibatkan panca indera dan nalar. Dalam mencari apa diperlukan kerangka objektif. Dalam hal ini adalah mengedepankan kejujuran. Sehingga siapa saja yang menerima jawaban dari apa ini tidak dapat lagi untuk membantahnya. Alat nalar adalah logika. Bagaimana adalah jawaban yang harus ditemukan selanjutnya. Ia menerjemahkan proses dari apa/ sesuatu terjadi. Sedangkan yang terakhir adalah mencaru alasan dengan kenapa. Ini merupakan hasil dan tujuan dari kedua pertanyaan sebelumnya.

Piranti-piranti pendukung untuk mencapai makna hakiki. Semakin banyak piranti untuk membaca ibarat akan menghasilkan makna yang lebih komprehensif. Salah satu untuk mendapatkan makna yang lebih luas adalah konteks. Perlu dipahami bahwa teks sejatinya tidak pernah berdiri sendiri. Teks selalu diikuti oleh latar di belakangnya. Baik latar itu berupa tempat, waktu dan suasana. Dalam memproduksi makna memerlukan kemampuan untuk menganalisa. Dalam ilmu bahasa disebut dengan analisa wacana. Trik sederhana adalah dengan teori 5W+ 1H.

Memproduksi makna adalah subyektifitas sang pemberi makna. Itu pada dasarnya. Jamak kita melihat tafsir al- Quran jumlah jilid lebih banyak dan tebal dari pada Qurannya sendiri. Tafsir Al-Misbah karya Qurais Shihab ada 12 jilid. Ini menandakan bahwa ia menangkap makna dalam Quran lebih besar dalam jumlah kuantitas. Juga dengan berbagai kitab turunan Quran seperti kitab tauhid,fiqih, muamalah yang jumlahnya tidak terhitung. Ini semakin memberikan bukti bahwa makna lebih besar dari dari ibarat (al-Quran) itu sendiri. Kemampuan menangkap makna inilah yang memerlukan tingkat keilmuan yang tidak semua orang memilikinya. Setiap orang harus belajar apabila ingin dapat menangkap makna lebih besar. Sekaligus menunjukkan derajat keilmuan.

Kerangka berpikir rasional  untuk membuka makna lebih luas. Ini dilakukan untuk.menghindari subyektifitas. Ketika mengembangkan rasionalitas maka emosi perlu dipinggirkan. Perlu adanya kerangka dialogis untuk menemukan sebuah jawaban akan pencarian makna. Dalam khazanah wacana selalu ada perdebatan. Ini bukan soal menang dan kalah, tetapi untuk melahirkan obyektifitas makna baru. Jika dalam sebuah tafsir teks( Al-Quran) akan terus mengalami dialog mengikuti zamannya. Sementara teks tetap statis. Hasil dari dialog inilah yang paling dapat diterjemahkan secara manusiawi yang akan dapat diterima. Sehingga nanti pada masa yang akan datang akan lahir tafsir-tafsir baru sebuah teks. Ini adalah niscaya.

Makna baru sebuah upaya menunjukan kebenaran. Tentu makna telah dipertarungkan menguasai kebenaran absolut. Pemenang penemu kebenaran akan menjadi penguasa pengetahuan. Satu yang menjadi peluang bahwa pertarungan menemukan kebenaran makna ini tidak akan pernah selesai. Setia orang berhak menemukan kebenarannya sendiri, kemudian mendiskusikan yang pada akhirnya tersingkir atau bertahan. Makna baru pada sebuah objek akan senantiasa lahir seiring lahirnya manusia.

Katingan, 18/6/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *