Visi Hidup Yang Agung
MaryatiArifudin, 14 Juni 2020

Adakah makhluk hidup di dunia ini yang tidak mempunyai visi hidup. Semua manusia pasti mempunyai visi ataupun tujuan hidup. Jika ndak punya tujuan, pasti tidak semangat menjalani kehidipun. Apa visi hidup itu? Bagaimanakah agar hidup mencapai kebahagian yang hakiki?

Visi hidup itu seperti cita-cita, impian, harapan untuk mencapai suatu tujuan. Masa kecil sering kali ditanya oleh guru kita” apa cita-citamu jika udah dewasa nanti”. Anak-anak dengan keluguannya menyampaikan bermacam-macam jawaban. Biasaya jawaban cita-cita anak itu, melihat pekerjaan orang tuanya, atau bahkan memperhatikan profesi tetangga di lingkungannya. Masa balita saja telah punya cita-cita mulia. Cita-cita ataupun harapan untuk mewujudkan sesuatu itulah visi. Namun, cukupkah dengan visi itu mencapai kebahagian?

Gambaran nyata, bahwa impian hidup anak biasanya mengikuti orang tuanya. Mereka merasa bangga jika bisa menggantikan pekerjaan orangtuanya. Namun, kadang-kadang orangtua menyarankan kepada anaknya agar jangan mengikuti langkah jejaknya. Orangtuanya merasa kehidupan sengsara dan serba kekurangan sehingga meminta anaknya untuk mencari kehidupan lain agar lebih mapan.

Semua orangtua menginginkan kebahagian anak-anaknya. Siapa yang tidak ingin hidup anak-anaknya serba kecukupan harta. Namun, berhati-hatilah wahai orangtua dalam menanamkan visi pada anak-anak yang orientasinya hanya harta dan kemewahan. Dirimu nanti akan merana akibat salah menanamkan visi pada anak-anakmu, karena visi itu akan membentuk orentasi hidup pada diri anak-anakmu. Renungkan itu! Wahai para orang tua yang budiman.

Sesungguhnya visi kehidupan itu membawa kebahagian hakiki. Bagaimana ajaran yang lurus ini mengajarkan doa sapu jagad. Perhatikan surat Al Baqaroh ayat 201 Alloh berfirman, “Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ′adzaabannaar”. Yang berarti Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Visi hidup yang berasal dari Kalimat Yang Maha Tinggi mengajarkan pada kita semua, yaitu carilah kebahagian dunia jangan melupakan kebahagian akherat.

Jadi, dalam kehidupan ada dua visi yaitu visi jangka pendek merupakan visi dunia dan jangka panjang visi akherat. Oleh karena itu orintasi kehidupan harus seimbang antara dunia dan akherat. Sesuai hadits riwayat Bukhari yaitu “Sesungguhnya Rabbmu punya hak darimu, dirimu punya hak darimu, keluargamu juga punya hak, maka berilah setiap hak kepada pemiliknya”. Sesungguhnya hak dibangun dalam rangka beribadah pada-Nya. Jadi Saat hidup dunia inilah, setiap insan mencari bekal untuk akheratnya.

Tidak ada salah orangtua mengarahkan cita-cita anak menjadi rimbawan, dokter, tukang insiyur, guru, polisi, atau profesi apapun. Sadarkan pada anak-anak kita, bahwa semua profesi dalam rangka membangun ketaatan pada-Nya. Luruskan visi hidupnya tidak dunia saja namun orientasi akherat itu yang utama. Profesi dokternya untuk melayani umat, sehingga masyarakatnya sehat dan mampu beribadah dengan baik.

Wahai orangtua! Arahkan orientasi hidup putra-putrimu bukan banyaknya harta dan kemewahan. Di sinilah! Peran orang tua sangat penting dalam mengarahkan visi putra-putrinya secara tepat ibarat memberi asupan gizi yang bernutrisi tinggi. Visi bernutri sesuai surat Al Qashash ayat 77 yang berarti,” Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”.

Dalam surat Al Qashash disebutkan pertama kali carilah kebahagian akherat, jadi dalam membangun visi orentasinya adalah jangka panjang yaitu kehidupan akherat. Dengan demikian, agar bahagia tercapai carilah bekal dengan mempersiapkan kematian. Renungkan! Bekal utama kebahagian akherat yaitu beriman pada-Nya dan beramal sholeh yang terbaik. Sampaikan visi itu ke dalam hati sanubari . Jika, orientasi hidup yang utama kehidupan akherat, maka kebahagian dunia meraka akan dapat juga.

Nutri kedua dalam membangun visi hidup keluarga yaitu orang yang terbaik itu adalah orang bermanfaat bagi oranglain. Sesuai hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289 adalah ” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Ajari keluaga kita, untuk melakukan kebaikan walau seberat biji sawi.

Sesungguhnya, kebaikan yang kita perbuat terhadap sesama akan kembali ke diri sendiri. Balasan bagi orang yang berbuat baik maka mendapatkan kehidupan yang baik, janji Alloh terhadap hambanya. Sesuai surat Al Nahl ayat 97 yaitu ,” Allah Taala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Jelas sekali, ajaran yang lurus ini mengajarkan cara membangun visi yang agung. Visi hidupnya menjadi yang terbaik dalam ibadah dan bermuamalah terhadap sesama menjadi fondasi dalam setiap jiwa.

Referensi:
https://pengusahamuslim.com/227-bahagia-dunia-dan-akhirat.html.
https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/hijab-lifestyle/ayo-jadi-manusia-yang-bermanfaat-untuk-manusia-lain.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *