Cahaya Di Atas Cahaya
MaryatiArifudin, 16 Juni 2020
Kebahagian sejati bukan diukur dari banyaknya harta, berlimpahnya kemewahan, dan dari jabatan yang tinggi. Adakah yang tidak setuju dengan pernyataanku? Sesungguhnya apa yang membuat kebahagian sejati itu?

Jika orientasi hidup kebahagiaan bersumber dari harta, kemewahan, jabatan, strata sosial, pasti orang akan berburu mengejar untuk mendapatkannya. Hati-hatilah, saat mengejar harta dan kemewahan dunia karena kebahagian yang semu itu akan menipumu. Berburu kemewahan dan kekayaan laksana kau mengejar matahari. Terasa indah gemerlapnya matahari saat berburu kebahagian yang semu itu.

Semua orang sangat membutuhkan sinarnya matahari. Namun, jika terus dirimu mengejarnya maka tak terasa kau akan terbakar olehnya. Sungguh popularitas, harta, kemewaan, jabatan jika diburu sangat menyilaukan seperti cahaya matahari. Berhati-hatilah jika kau sudah memperolehnya nanti dapat membakarmu. Oleh karena itu, berdoalah selalu semoga kebahagian semu itu ada di tanganku dan jangan ada dihatiku. Bagaimakah mendapat kebahagian sejati itu? Siapakah orang kaya itu?

Renungkan! Kisah Abu Dzar Al Ghifari saat bertanya pada Rasululloh tentang kekayaan. Siapakah orang kaya itu? Rasululloh menjawab kekayaan itu bukan karena banyaknya harta. Sesuai hadits ” YANG namanya kaya (ghina) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi ciri orang kaya yang mampu menumbuhkan kebahagian yang hakiki terletak pada hati yang merasa cukup atau kekayaan itu berupa hati yang selalu bersyukur. Di sinilah letak keadilan sesungguhnya, semua orang bisa memilih mau kaya yang bahagia ataupun kaya yang hina. Hanya orang yang mampu mengoptimalkan potensi hatinya pasti akan merasakan kebahagiaan sejati.

Erbe Sentanu pelopor Teknologi Ikhlas menyatakan semua permasalahan ataupun ujian kembalikan pada akarnya, yaitu sang pemilik akar permasalahan Alloh SWT. Segala permasalahan kehidupan baik berupa musibah dan kenikmatan hidup dikembalikan pada-Nya. Jika mereka mendapat nikmat tidak melupakan pemberi nikmat, segera hak-hak Alloh ditunaikannya. Tidak mengulur waktu dalam menunaikan hak Alloh SWT.

Ada nikmat sehat gunakan untuk menyambut panggilannya bersegera mendirikan sholat lima waktu dalam sehari tepat pada waktunya. Boleh ditingkatkan nikmat sehat itu, dengan menambah sholat-sholat sunah lainnya. Nikmat rezeki berlimpah segera tunaikan zakat, infaq dan sadaqoh. Andaikan musibah mengintainya terima dengan ikhlas karena setiap jiwa pasti akan selalu diuji. Hal ini, sesuai surat Al Anbiya’ ayat 35 yaitu ” Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“.

Setiap jiwa pasti akan diuji dengan keburukan dan kebaikan. Sungguh elok kondisi seorang mukmin itu, di setiap ujian pasti ada suatu kebaikan. Bila ujian kesempitan datang ia mampu bersabar, dengan kesabaranya mereka menjadi pemenang. Jika ujian berupa kemewahan ia bersyukur. Hanya jiwa-jiwa berimanlah yang mampu menghadirkan hati yang pandai bersyukur. Semua ujian baik keburukan atau kebaikan mereka mampu melewati dengan keihlasan tanpa putus asa. Orang-orang terpilihlah mampu mencapai kebahagian sejati, karena berjalan sesuai koridor yang benar. Akhirnya, hidup akan merasakan tenang dan dawai karena mendapat petunjuk dari-Nya.

Kebahagian sejatinya lahir bukan karena harta berlimpah ataupun kemewahan, namun bersumber dari hati yang bening. Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.  (HR. Bukhari no.52 dan Muslim no.1599).

Renungkan! Peranan hati dalam organ tubuh kita merupakan organ sangat penting. Organ hati sebagai filter penyaring racun-racun tubuh. Hal ini, sama dengan ibarat hati dalam hadits bahwa mata hari ( bashiroh) itu adalah barometer seseorang untuk mengukur baik dan buruknya perbuatan. Mata hati akan tajam jika disinari dengan cahaya Al Qur’an. Hati ibarat kaca, jadi jika hati buram ia tidak mampu membedakan kebaikan dan keburukan. Apa manfaat ketajaman hati?

Tengok sejarah orang-orang sholeh yang mempunyai ketajaman hati. Membuat hatinya hidup dengan hidayah-Nya. Hatinya selalu pandai bersyukur, peka terhadap keadilan, peka terhadap penderitaan sesama, peka halal dan kharam. Ia berjalan sesuai dengan aturan-aturan-Nya. Saat memberikan pertimbangan suatu kebijakan mampu menimbang dengan bashirohnya banyak manfaat atau banyak mudzorotnya. Pertimbangannya akan menenangkan bagi yang lemah tidak memihak pada yang kuat. Itulah, manfaat hati yang tajam dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Kisah dari seorang kholifah Umar Bin Khotob, tidak perlu mencari pendukung dalam memimpin suatu pemerintahan. Namun, memberikam contoh terbaik dalam menjalankan amanah Sang Kholik. Renungkan! Khalifah Umar merasa bersalah lantaran telah membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan. Kisah saat itu tanah Arab tengah dilanda musibah paceklik.

Setiap malam ia melakukan inspeksi mendadak mencari rakyat yang fakir untuk menyalurkan baitul mal. Baitulmal dapat juga diartikan secara fisik sebagai tempat (al-makan) untuk menyimpan dan mengelola segala macam harta yang menjadi pendapatan negara. Umar tidak mau menunda untuk mensejahterakan rakyatnya dengan menyalurkan baitul mal. Ia tidak mampu tidur, jika belum melakukan inspeksi ke rakyatnya. Saat melakukan inspeksi dengan Aslam di kampung terpencil berada di Madinah. Umar dapatkan, seorang ibu sedang memasak batu demi menenangkan anaknya yang menangis kelaparan. Terdengarlah tangisan anak tadi, akhirnya didatangilah ibu itu.

Umar bertanya, ” wahai ibu apa yang kau masak? Ibu menjawab dengan ketusnya,” lihat sendiri apa yang kumasak!

“Kenapa memasak batu?” tanya Umar
“Hal ini, kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum,” kata wanita itu.

“Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, saya dan anakku tidak makan apa-apa. Kami semua puasa sejak tadi pagi. Kami berharap ada sedikit rezeki untuk berbuka puasa. Namun, sampai sekarang, saya tidak punya apa-apa” jawab ibu spontan.

Ternyata, ibu itu memasak batu untuk menghibur anaknya agar lekas tidur. Setiap anaknya menangis karena perut kosong, sang ibu itu mengaduk batu-batu untuk mengelabuhi bahwa masakannya belum masak. Melihat kejadian nyata itu, langsung Umar bergegas menuju baitul mal.

Umar langsung memikul sekarung gandum di pundaknya tanpa mempedulikan kelelahannya. Aslam sahabatnya meminta agar ia yang mimukul sekarung gandum itu. Mendengar permintaan sahabatnya sang Kholifah marah besar. Umar berkata,” Aslam maukah kau memukul dosa-dosa ku di akherat nanti”. Setelah sampai di rumahnya, bersegera Amirul mukminin Umar bin Khotob memasakkan gandum dengan tangannya sendiri. Aslam diminta menyajikan hidanhan masakan Umar. Akhirnya, seluruh keluarga ibu janda makan dengan puas. Baru Umar, pamit pulang. Umar berpesan, agar besuk pagi mendatangi Amirul Mukminin dan kita akan bermpa di sana. Amirul mukminin akan mencukupi kebutuhanmu.

Esok pagi, wanita janda itu mendatangi Amirul mukminin (Sang Presiden) untuk mengambil bagian di baitul mal. Alangkah terkejutnya ibu itu, ternyata yang telah memasakkan dan melayani makan untuk dia dan anaknya, adalah seorang pemimpin tertinggi. “Maafkan salahku, aku siap dihukum”, tegas ibu janda.
Jawab Umar, “Aku yang salah, membiarkan rakyatku di bawah kekuasaanku kelaparan, saya takut dengan pertanggungan jawab saya di hadapan Alloh. Maafkan, saya bu?”. Sikap pemimpin yang takut dimintai pertanggung jawaban di hadapan Alloh, hati sangat peka dan peduli dengan sesama. Hal itulah, hati yang bercahaya menculkan ketenangan jiwa.

Kisah kelahiran sang ulama besar, renungkanlah! Seorang pemuda dalam keadaan musyafir, karena kelelahan beristirahatlah di tepi sungai. Di tengah istirahat, terlihat buah apel yang terbawa arus sungai. Tidak berpikir panjang diambilnya apel itu langsung dimakan. Setelah, apel habis terbesik di hatinya,” buah apel ini milik siapa, kenapa ia tidak minta izin si pemilik apel”. Pemuda itu, ingin mendapat ridha dari sang pemilik pohon apel. Ditelusurilah hulu sungai itu demi meminta ridha bahwa apel terlanjur di makan. Perhatikan! Keistimewaa sang pemuda itu dalam mencari kehalalan makanan. Akhirnya, jumpa ia dengan sang pemilik apel untuk minta keihlasan buah apel yang tanpa sengaja terlanjur dimakannya. Ternyata sang pemilik kebun meridhainya, namun dengan syarat harus menikahi anak gadisnya yang buta, bisu dan tuli.

Tanpa pikir panjang, si pemuda itu menyetujui menikahi anak gadisnya, demi mendapat keridhaan buah apel. Terbayangkah! Menikah gadis jelek dan mempunyai cacat buta, tuli dan bisu. Pasti, tidak ada yang maukan? Namun, sang pemuda tampan ridha menikahinya demi menghapus dosanya akibat makan apel tidak tahu pemiliknya. Nikmatnya, hati yang bening mencari yang ridha atas kehendak-Nya, apa yang terjadi?

Begitu, usai menikah si pemuda seperti tersambar petir di siang bolong ternyata istrinya cantik sekali tiada cacat satupun. Mertuanya menyampaikan, bahwa anaknya buta karena mata anaknya tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan. Bisu karena anak gadisnya tidak pernah berkata-kata yang tidak bermanfaat dan tuli tidak pernah mendengar kalimat-kalimat yang tidak berguna.

Itulah, hadiah bagi seseorang yang ridha dengan ketetapan-Nya. Bersumber dari hati yang ikhlas menerima dan menyadari kesalahannya, hadiahnya istri yang sholeha. Kisah ini, sering kita dengar bahwa di balik nama si pemuda setelah menikah melahirkan imam besar yaitu iman Syafi’i.

Ketajaman hati dibangun dengan menegakkan syariat-Nya. Salah satu untuk mempertajam mata hati sesuai surat Adz Dzariyat ayat 16 sampai 18 yaitu dengan menghidupkan waktu terutama di malam hari dengan banyak berzikir dan ber-muhasabah. Siang banyak berbuat kebajikan dan malam tidak dihabiskan dengan tidur. “Sesungguhnya, mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan. Di dunia, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan, selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar”. Laksana siang hari seperti singa padang pasir dan malam hari seperti rahib yang selalu bermunajad pada-Nya.
Cara membangun hati bening mengingatkanku lagu obat hati ada lima perkara. Hati hidup di bangun dengan baca Al Qur’an dan maknanya. Dengan membaca Al Qur’an akan mampu menerangi hati seseorang sehingga membuat kepekaan hati. Kepekan hati dibangun dari interaksi dengan Al Quran. Karena Al Qur’an sumber cahaya berisi firmannya yaitu cahaya diatas cahaya.

Referensi :
 https://muslimah.or.id/7235-hakikat-ujian-dunia.html
 https://portalmadura.com/5-cara-mengasah-ketajaman-mata-hati-yang-harus-umat-islam-ketahui-171560/
 https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html
 https://www.dream.co.id/your-story/kisah-khalifah-umar-bin-khattab-dan-ibu-pemasak-batu-151103d.html

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *