Oleh: Maryati Arifudin

Motto kehidupan terlahir dari peserta didikku yang rindu untuk kembali belajar di sekolah. Mereka masih bersemangat dalam belajar, walau covid -19 melanda. Apa kata dunia motto hidup sangat mulia. Peserta didik berikrar ” Mereka Menjadi Yang Terbaik”, tantanganmu wahai dewan guru. Apa langkah-langkahmu?

Ku nasehati padamu wahai guruku, jika kau didatangi oleh peserta didikmu ingin menggapai ilmumu bukalah tanganmu bimbinglah ia dengan kasihmu. Peserta didikmu datang berjalan kau sambut berlari, jika peserta didikmu datang berlari kau buka sorbanmu kau terima seperti kertas putih ditanganmu. Jadikan peserta didikmu, penerus kebaikan dan keilmuanmu. Gapailah ridla-Nya untuk menjadi ladang amal jariahmu.

Jika motto hidup itu terikrar dari orang tua siswa peserta didikku itu hal biasa saja bagiku. Namun cita-cita mulia itu berasal dari anak didikku, aku bangga padanya. Terasa istimewa kata-kata itu, terngiang di telingaku. Ada rasa haru, walau hanya beberapa siswa yang mengucapkannya. Hal itu menjadi pertanda, bahwa pengajaran di sekolahku tidak sia-sia untuk peserta didikku.

Cita-cita mulia itu, menjadikan sesuatu yang lebih baik. Jika itu ku pampang di sekolahku mungkin akan menjadi sesuatu banget, karena kata-kata bijak itu berasal dari peserta didikku. Jika ku viralkan, pasti banyak orang akan mencari dimana sekolahku. Cukuplah! Aku saja yang memviralkan pada guru-guru disekolahku bahwa masih ada peserta didik yang memerlukan bimbingan dan kasih sayangmu. Banggalah wahai guru di sekolah! Mudah-mudah engkau mampu mewujudkan impian siswa-siswimu.

Siswa yang punya cita-cita mulia   terlahir dari guru-guru pilihan dan ihlas dalam membimbingnya. Aku percaya padamu,  wahai guruku engkau tidak bisa digantikan oleh waktu. Ketulusan hatimu dalam mendidik siswa-siswaku tanpa kenal waktu. Aku sampaikan kabar berita itu, wahai para orang tua peserta didikku dengan kesungguhan hatiku.

Ku titipkan tiga bulan lebih peserta didik itu padamu, banyak sekali keluhmu. Aku faham itu, karena peserta didikku memerlukan sentuhan guru-guruku. Percayalah padaku, aku tidak akan mendzolimi amanahmu untuk mendidik dan membimbing dengan bahasa qolbu bersama guru-guruku. Sentuhan tangan guru-guruku adalah sentuhan kasihnya.  Sungguh, marahnya guru-guruku bukan marah sesungguhnya.  Guruku punya jiwa, yang tidak mampu kau baca dengan kata-kata.

Wahai peserta didikku! ku tanya padamu setulus hatiku, “Benarkah kau rindu sekolahmu atau rindu dengan guru gurumu? Apakah kau telah bosan dengan aktivitas harianmu? Ataukah kau ingin jumpa dengan teman-temanmu? Ayo satukan langkahmu untuk mewujudkan cita-citamu  bersama guru-guruku wahai peserta didikku.

Aku yakin, kau tak akan mampu melangkah sendiri mewujudkan harapanmu. Kau  hormati guru laksana orang tua. Ku sayangi teman seperti saudaramu. Kau tundukkan wajahmu untuk mengusir kesombongan dirimu, karena kunci keberhasilanmu ada pada keridlaan bapak ibu gurumu. Sayangilah! Hormati guru dan pembinamu, kau akan membuat tersenyum  kedua orang tuamu.

Sadarlah wahai ananda, gurumu tidak bisa kau gantikan dengan tehnologi apapun apalagi gadjetmu. Tanpa gurumu, kau tidak bisa bertanya. Saat ini baru terasa,  kau memerlukan bimbingannya dan kau rindu nasehatnya. Percayalah! Gurumu mampu mengantarkan dirimu menjadi dewasa pada waktunya.

Renungkanlah! Kehadiran gurumu masih kau harapkan wahai anakku. Perbaiki adabmu, gurumu akan meridhaimu untuk sebuah ilmu. Ketulusan dan kesucian hati akan memudahkan dan membuka cakrawala berpikirmu. Belajarlah adab bersama nabi Khidirmu. Sesuai dengan surat Al Kahfi ayat 60 sampai 82, kau akan menemukan kunci keberkahan ilmu.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *