Oleh: Maryati Ariffudin

Pakailah pakaian ilmu dan pelajarilah adab sebelum ilmu, pesan sang ibunda Imam Malik. Ilmu tidak datang sendiri, tapi ilmu itu wajib dicari. Keistimewaan orang berilmu, akan diangkat beberapa derajat.  Hal ini sesuai janji Alloh SWT dalam QS Al Mujadalah ayat 11, tentunya kedudukan yang sempurna yaitu ilmu yang disertai iman. Bagaimanakah mendapat berkahnya sebuah ilmu?  Siapa yang berhak mendapat derajat yang mulia di sisi-Nya? Mari kita bermawas diri, agar kita menjadi ahli ilmu dan ahli kebaikan.

Adab majelis ilmu atau sekolah, pada masa salafusoleh digambarkan sebanyak 5000 mutarobi atau murid yang ingin mencari ilmu dari sang ulama besar yaitu Imam Ahmad. Mereka bergegas untuk mendapatkan shof pertama agar dapat berjumpa dan bertatapmuka di majelis ilmu dengan sang murobi atau guru besarnya. Mereka rela, menunggu sang ulama dengan tidur di masjid sambil mengulang dan menghafal pelajaran yang disampaikan oleh sang ulama. Ketaatannya, keihlasan hatinya dalam mencari ilmu, mereka tunjukkan dengan kesungguhan agar tidak terlambat dalam majelis ilmu. Sehingga tergambar berkahnya ilmu terpancar pada seluruh murid yang hadir. Jadi syarat agar berkah ilmunya yaitu hadir tepat waktu dan taat kepada sang murobi atau sang guru.

Terbayangkah yang hadir pada majelis Imam Ahmad itu sebanyak 5000 murid. Semua murid yang hadir belajar dari adab dan kepribadian sang ulama besar, serta yang mampu mencatat ilmu (materi) sang murabi sejumlah 500 murid. Mencatat ilmu adalah tugas murid untuk mengikatnya dalam bentuk tulisan. Gambaran ini, menjadikan pembelajaran bagi kita untuk mengutamakan niat dan kesungguhan hati dalam menuntut ilmu. Mereka berbondong-bondong untuk menghadiri majelis ilmu. Mereka selalu merindukan dan menunggu kehadiran sang ulama atau sang guru. Mereka meluangkan waktu dengan keihlasan hatinya, untuk menimba ilmu dari sang ulama atau sang guru. Meluruskan niat, untuk mencari ilmu karena Alloh semata. Ilmu yang ia peroleh agar mampu mengamalkannya dalam kehidupan dan berjuang menjadi pewaris nabi dan rosul. Kunci keberkahan ilmu yang mengantarkan derajat mulia di sisi-Nya, yaitu mereka mampu mengajarkannya dan menjadi tauladan disetiap tindakan.

Menuntut Ilmu ada skala prioritas dalam kehidupan ini. Kita harus menimba ilmu, baik itu ilmu wajib ain dan kifayah.  Ilmu yang sifatnya, wajib ain adalah ilmu agama dan ilmu kifayah adalah ilmu umum. Jadi kedua ilmu itu wajib bersinergi dalam diri seseorang. Setiap muslim, wajib menimba ilmu agama baik melalui sekolah formal atau non formal. Banyak langkah untuk mengupgrade ilmu agama. Kita bisa memulai dengan memperbanyak membaca buku-buku agama, menghadiri majelis ilmu agama setiap minggunya, atau bahkan mendatangkan ustad sebagai pembimbing rohani bagi rumah tangga. Ketika menuntut ilmu, pilih sang guru atau sang murobi yang tepat. Dalam menuntut ilmu diperlukan sahabat-sahabat yang kuat agar bisa saling menyemangati dalam suatu kebaikan. Agar berkahnya ilmu itu tumbuh, diperlukan niat yang  lurus untuk mencari Ridlo Alloh semata, bukan mencari derajat atau kedudukan di dunia semata.

Belajar memerlukan waktu lama. Salah seorang murid Imam Malik menyatakan,” selama 20 tahun kami mengabdi menimba ilmu, terasa masih kurang waktunya untuk belajar kepribadian dan adab Sang Ulama Imam Malik”. Selama 20 tahun murid Imam Malik belajar, untuk belajar adab dan kepribadian memerlukan waktu 18 tahun sedangkan untuk menimba ilmu agama memakan waktu 2 tahun. Gambaran ini, menjadikan suatu prinsip pendidikan yang berkah dalam kehidupan nyata bahwa pentingnya adab baru ilmu. Belajar adab dan kepribadian memerlukan kesabaran bagi mutarobi. Keihlasan hati dalam menimba ilmu sang murobi memudahkan pengetahuan itu masuk ke akal pikiran, sehingga berkahnya ilmu menghasilkan adab yang terbaik.

Ingatkah kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir? Nabi  Musa telah dipesankan agar sabar dalam mengikuti pembelajaran dengan Nabi Khidir. Dalam waktu beberapa hari saja, Nabi Musa AS tidak mampu menjadi murid Nabi Khidir AS. Dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 66 sampai dengan ayat 83 adalah kisah tentang tuntunan kesabaran dalam menggali ilmu pengetahuan. Nabi Khidir diilhami oleh Alloh SWT dengan ilmu Laduni, mampu membaca takdir yang belum terjadi. Dalam QS 18 ayat 70 yaitu : Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu”. Hal ini, menjadi syarat dari sang guru kepada muridnya agar tidak boleh bertanya tentang suatu hal, sampai batas waktu yang telah ditetapkan.

Dalam QS 18 ayat 71, saat berjalan keduanya menaiki perahu, lalu Nabi Khidir melubangi perahu nelayan yang miskin. Sehingga bertanyalah Nabi Musa,” Kenapa sang guru melubangi perahu nelayan itu. Kita sudah dibantu menyebrang tanpa membayar,  kenapa merusak perahu itu? Musa telah gugur menjadi murid karena tidak bersabar dan selalu bertanya tentang suatu hal kepada Nabi Khidir. Di ingatkanlah, kesalahan musa agar tidak bertanya tentang suatu hal. Akhirnya,  Nabi Musa dimaafkan dan nabi khidir berkenan melanjutkan perjalanan bersama Musa.

Pada QS 18 ayat 74, ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka  Nabi Khidir membunuh anak tersebut. Proteslah,  sang murid kepada Sang murobi, kenapa membunuh seseorang yang tidak berdosa? Nabi Musa tidak ingat akan janjinya, agar tidak bertanya tentang suatu hal kepada Nabi Khidir. Sehingga, minta waktu lagi untuk menjadi muridnya dan Nabi Khidir memberi izin.

QS 18 ayat 77, hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta dijamu tapi seluruh penduduk negeri tidak mau menjamu. Suatu waktu, keduanya mendapati diding yang roboh. Akhirnya, Nabi Khidir memperbaiki rumah yang dindingnya roboh. Setelah itu, Nabi Musa bertanya kembali,” Kenapa kita harus memperbaiki rumah ini, pada hal masyarakatnya sangat pelit”. Nabi Khidir mengingatkan kembali, bahwa Musa tidak bisa menjadi muridnya. Gambaran ayat diatas, perlunya adab untuk berkahnya ilmu yaitu kesabaran dalam menuntut ilmu dan ketaatannya pada sang murobi atau sang guru.

Dalam QS 18 ayat 79, ayat 80, dan ayat 83 Nabi Khidir menyampaikan penjelasan kepada Nabi Musa bahwa: Dia melobangi kapal nelayan yang miskin itu, dikarenakan ada seorang raja yang akan merampas kapal nelayan yang bagus. Sehingga Nabi Khidir diperintahkan oleh Alloh SWT untuk melubangi perahu nelayan itu.  Nabi Khidir juga membunuh anak muda itu, dikarenakan anak muda itu saat dewasa kelak menjadi kafir yang akan memaksa kedua orang tuanya untuk kufur. Sehingga , perintah itu turun untuk membunuh anak muda itu. Orangtua yang sholeh itu, akan mendapat ganti mempunyai anak yang sholeh nantinya. Terakhir lagi, kisah membangun dinding rumah yang roboh pada masyakat yang warganya pelit. Di rumah yang dindingnya roboh itu, ada harta anak yatim dimana ayah pemilik rumah itu sholeh. Sehingga diperintahkan, Nabi Khidir untuk memperbaiki rumah yang dindingnya roboh. Kesimpulan akhir,  kisah Nabi Khidir perlunya adab ketaatan seorang murid kepada sang guru agar ilmunya berkah. Saat ini, sering muncul kesombongan intelektual pada diri sang murid kepada gurunya, sikap inilah yang harus dibuang jauh agar ilmu menjadi berkah.

Perenungan diri, Pakailah pakaian ilmu artinya kesiapan seorang murid didukung dari kedua orangtuanya dalam menimba ilmu di sekolah. Ketulusan dan kepercayaan orang tuanya menitipkan anak-anaknya untuk didik dan ditempa dengan sang guru perlu dijunjung tinggi. Kesiapan orangtuanya bersinergi menegakkan peraturan sekolah sehingga terbentuk harmonisasi antara keluarga dan sekolah. Kita bisa belajar dari kisah Nabi Khidir. Kenapa nabi Musa diperintahkan Oleh Alloh SWT untuk belajar dengan Nabi Khidir?  Penyebabnya, merasa diri bahwa Nabi Musa yang paling pandai. Saat ini, ada muncul kesombongan intelektual bersumber dari orangtua siswa bahwa mereka merasa paling pintar, paling kaya, dan paling berpengaruh. Sehingga, lahirlah ketidak harmonisan antara sekolah dengan orangtua siswa. Percayalah, bahwa peraturan sekolah dibuat untuk kebaikan murid-muridnya. Dengan tegaknya peraturan sekolah, diharapkan semua murid kelak dewasa nanti menjadi ahli kebaikan dan ahli ilmu.

Ingatlah, keberkahan ilmu timbul dari ketulusan murid dalam menerima ilmu dari sang gurunya. Dengan cara menghormati guru, sehingga keberkahan ilmu mudah difahami dan diaplikasikan. Seharusnya, semua murid memperhatikan adab saat guru menyampaikan materi. Pada saat pembelajaran berlangsung, sang guru hendaknya menyampaikan adab-adab belajar agar murid tidak boleh berbicara dengan temannya,  main  gawai sendiri, ataupun tidur dikelas. Adab pembelajaran sekarang ini, masih kurang mendapat perhatian dari sebagian murid. Bertepatan dengan gaungnya dunia pendidikan tentang “merdeka belajar” dan penguatan pendidikan karakter, maka peluang terbuka bagi sekolah untuk menegakkan sanki disiplin jika muridnya mengabaikan adab-adab pembelajaran.

Sekarang ini, orangtua hendaknya belajar dari ibunda Imam Malik. Saat belajar, niat pertama seorang murid untuk belajar adab terlebih dahulu baru ilmu. Kesadaran membangun adab harus digalakkan di seluruh majelis atau sekolah. Di sinilah peran sang guru untuk mengingatkan, menegur, dan memberi sanksi bagi murid yang lalai tentang adab-adab pembelajaran. Ingatlah, bahwa sanksi sekolah laksana obat. Hendaknya, para orang tua harus sadar akan pentingnya sanksi sekolah. Sanki adalah obat yang pahit yang bisa membunuh virus kesombongan dan kejahiliyahan dalam diri murid. Sanksi bukan kebencian ataupun permusuhan dari sang guru kepada muridnya. Sanksi merupakan salah satu cara menanamkan adab dan kepribadian bagi muridnya dan guru sebagai tauladan pertama dalam menegakkan kebaikan. Sinergitas, antara guru dengan murid dalam mengelola pembelajaran sesuai aturan yang tepat mampu mengentaskan muridnya sebagai ahli kebaikan dan ahli ilmu.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *