Oleh: Moh. Anis Romzi

            Komunitas menulis ‘KALIMAT’ Indonesia bersuara. Sebuah kelompok yang sadar menggabungkan diri dalam kegiatan tulis-menulis. Ini adalah sarana perjuangan meninggikan derajat bangsa melalui tradisi literasi.

            Belajar bersama dalam bingkai egaliter yang menyejukkan. Para anggota saling berbagi dan menguatkan. Setiap hari diskusi mengalir ringan tanpa beban. Berbagi tulisan inspiratif sangat mengasyikkan. Sudah berjalan lebih dari satu tahun usia KALIMAT belajar bersama tetap terus berlangsung.

            Belajar bersama tanpa bertatap muka tidaklah mengapa. Sejalan dengan kondisi terkini bahwa belajar akan banyak dilakukan secara daring. Khususnya pada masa kenormalan baru. Masa dengan beberapa protokol yang berbeda dari sebelumnya.

            Aktifitas pembelajaran yang tidak terikat waktu sangat menyenangkan. Kapan saja kawan-kawan KALIMAT ada bersama dengan internet tentunya. Masalah kecil saya adalah internet kadang ada kadang kadang tenggelam. Internet nya seperti judul film Kabhi Kushi Kabhi Gham. Mudah-mudahan saya tidak saya tulis.

            Para penulis KALIMAT berkumpul belajar bersama karena rasa. Rasa haus dan lapar akan kepenulisan. Rasa yang sama seperti senasib sepenanggungan kalau dalam perjuangan melawan penjajah. Saya memberanikan diri menyatakan bahwa KALIMAT dan anggotanya adalah pejuang Literasi. Upaya menumbuhkan budaya literasi bangsa Indonesia yang saat ini jumlahnya masih sedikit. Semangat perjuangan tetap harus dinyalakan. Literasi harus menjadi budaya agar negara ini berperadaban semakin meninggi.

            Belajar bersama dengan didampingi pakarnya menenangkan. Setiap hari para ‘murid’ KALIMAT diberikan asupan gizi pengetahuan. Tidak hanya gizi tetapi juga motivasi tiada henti. Saya bergaul dalam satu dahan yang sama. Belajar bersama adalah bukti bahwa kolaborasi kebaikan harus tetap digaungkan. Belajar bersama menulis itu ada dalam KALIMAT.

            Tidak hanya menulis KALIMAT pun juga berdonasi. Kita mesti membuka mata, ada dampak yang ditimbulkan dari wabah covid-19. Kalimat dan anggotanya ada di sana. Sensitivitas sosial ujug-ujug muncul mengalir tanpa rekayasa. Anggota KALIMAT tidak bertemu muka, tetapi bertemu rasa. Kecerdasan sosial yang nyata muncul. Bukan sekadar bicara literasi tetapi juga memupuk empati.

KALIMAT terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Bahkan dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Ini tidak menghalangi untuk tetap belajar. Inilah Indonesia yang sebenarnya. Indonesia dalam jiwa para penulis yang saya menyebut diri saya sendiri pemula. Bhinneka Tunggal Ika aplikatif. Tidak sekadar teori seperti di bangku sekolah formal kini. KALIMAT memang untuk Indonesia, apapun latar belakang suku,agama, ras dan golongannya. Majulah KALIMAT untuk Indonesia yang bermartabat.

Aneka warna profesi juga berwarna watak dan karakternya. Kita harus mengakui bahwa lingkungan profesi mempengaruhi watak seseorang. Ini karena kita berada di lingkungan itu bukan dalam hitungan jam. Ada yang normatif, ada yang situasional menyikapi keadaan, ya begitulah manusia. Sulit disamakan kalaupun tidak bisa dibilang mustahil. Berbeda tidak apa-apa,”karena kita tidak diciptakan satu.” Kata mbak Rara dalam quotenya. Muantap.

Saya merasa nyaman didampingi mentor handal Pak Cah. Mentor sekaligus motivator yang tidak kenal lelah menginspirasi via tulisan sehat dan nikmat. Tulisan yang mengandung gizi untuk jiwa. Motivasi yang membuat diri menjadi lebih berani masuk dalam kancah tulis-menulis. Menulis semudah bernafas menurut saya adalah trade mark Pak Cah. Tulisan itu sangat applicable untuk pemula seperti saya.

KALIMAT sumbangan kecil untuk bangsa besar. Jumlah anggotanya mungkin tidak sebanyak anggota militer Indonesia. Namun mereka ada dengan jati diri mereka sendiri. Ini adalah organisasi nirlaba dan nirkabel. Organisasi tanpa laba dan tanpa kabel. Hanya kekuatan niat yang menghidupkannya. Semoga KALIMAT tidak seumur jagung. Atau yang lebih mengerikan seumur jamur. Sporadis. Saya yakin setiap usaha di KALIMAT akan dicatat sebagai sebuah kebaikan oleh Allah. Ia tidak pernah lupa dan tidur.

Salam dari Kalimantan Tengah.

Katingan, 13 Juni 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Belajar Bersama Menulis Itu Indah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *