Di Tepi Kolam Sekolah
Oleh : Moh. Anis Romzi
Kolam sekolah bekas menimbun halaman yang sering terkena banjir. Gedung sekolah yang didirikan di bekas tanah persawahan. Tanahnya sangat rendah dan sering tergenang banjir. Apalagi saat musim air laut pasang tinggi. Hampir seluruh halaman sekolah terendam banjir. Akhirnya halaman itu ditimbun dengan menggali tanah di dekatnya. Jadilah kolam sekolah di bagian sisi kanan halaman bagian depan. Bekas galian dengan lebar sekitar 8 x 8 m dengan kedalaman 1,5 m pada awalnya.

Rerumputan tumbuh di sana- sini karena ditinggal sang penghuni. Mereka menjalankan bekerja dan belajar dari rumah. Ini karena wabah covid-19 yang masih melanda dunia. Termasuk SMPN 4 Katingan Kuala, terkena dampak dan harus menerapkan belajar dari rumah. Hampir 3 bulan berjalan tanaman liar mulai tumbuh di seluruh area sekolah. Hanya ada satu sampai tiga orang yang hadir di sekolah untuk melaksanakan piket sekolah. Kolam sekolah luput dari perhatian dan pengawasan.

Biasa setiap waktu zuhur tiba, riuh para pelajar mengantri untuk berwudu. Aktifitas wajib bagi peserta didik muslim saat pembelajaran reguler sebelum wabah menerpa. Ada canda,iseng, dan keusilan mereka hampir tiap hari terjadi di kolam ini. Tempat wudu memanjang dari papan kayu dibuat mengelilingi tepi kolam. Saling siram, dorong-mendorong menjadi pemandangan setiap hari saat siswa ramai-ramai berwudu. Para pendidik tidak pernah bosan mengingatkan dan mendampingi mereka. Tetap saja keisengan zuhur terjadi. Dianggap saja hiburan, karena sebagian dunia mereka adalah dunia bermain.

Kolam yang digali sejak tahun 2013 yang lalu. Ia menjadi saksi sejarah perjalanan sekolah selama hampir kurang lebih tujuh tahun. Beberapa generasi telah selesai menghabiskan waktu di sini. Sang Kolam tetap diam mengamati. Ia banyak menyimpan cerita dalam diam.

Rimbun pepohononan buah mengelilingi di bagian selatan. Ada dua pohon jambu air hasil stek. Mereka dibeli dari sampit. Pohon-pohon itu ditanam sebagai kompensasi penghijauan sekolah. Pohon-pohon buah itu sudah berbuah beberapa kali, namun menjadi santapan siswa yang ramai mengantri untuk berwudu. Tidak mengapa, mereka juga rela buahnya diambil. Disebelahnya dua pohon sawo mendampingi. Usia mereka hampir sama. Karena ditanam pada hari yang sama pula. Buah sawo itupun sudah panen beberapa kali saat musimnya. Mereka sangat bermanfaat.

Ramai kawanan capung beterbangan di atas kolam. Ini menggambarkan suasana yang sejuk. Udara bersih suasana pedesaan masih begitu terasa. Kawanan capung itu bebas kesana-kemari di atas kolam. Jumlahnya mungkin ratusan.

Di sebelah kanan kalau menghadap ke utara, tumbuh agak tidak terawat tanaman serai. Kunyit juga ada ditanam untuk keperluan masak-memasak keluarga sekolah. Tanaman obat keluarga ini mudah dibudidayakan. Siapa saja yang memerlukan untuk memasak tinggal cabut saja. Para peserta didik juga sering memanfaatkan tanaman-tanaman di kolam dan sekitarnya untuk sarana praktik pembelajaran. Khususnya praktikum IPA.

Kolam sekolah perlu sentuhan kreatif dan inovatif untuk mendukung pembelajaran. Mungkin saatnya nanti kolam sekolah bisa ditaburi benih ikan. Ia dapat menjadi sarana belajar dan hiburan. Kegiatan memancing dapat menenangkan. Kolam sekolah menunggu sentuhan dari penghuni sekolah.

Sumber belajar murah dapat dibuat dari alam sekitar sekolah. Lingkungan sekolah merupakan sumber belajar langsung pada kehidupan. Tidak semua sekolah masih mempunyai lahan yang luas.

Ini adalah peluang untuk meningkatkan kompetensi pembelajaran untuk semua. Sekolah sejati adalah semua belajar. Saya berpikiran bahwa sejatinya di sekolah adalah Kegiatan Belajar Belajar bukan Kegiatan Belajar Mengajar. Inilah saatnya sekolah penggerak bermula. Sekolah yang warganya saling belajar untuk kemajuan.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *