Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Tiga bulan lebih sudah, kita melewati masa-masa pandemi sejak pemerintah pertama kali mengumumkan kasus positif covid di Indonesia.

Sebagai seorang awam, saya betul-betul bingung dengan yang diberitakan di media mengenai kebijakan pemerintah yang simpang siur. Juga dengan apa yang terjadi di masyarakat dalam menyikapi himbauan pemerintah dan para ahli pervirusan untuk menerapkan perilaku waspada seperti menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Cukup miris sebetulnya melihat tingkat kepatuhan masyarakat yang dapat dibilang rendah terhadap protokol pencegahan penyebaran covid yang tiap saat diingatkan oleh berbagai pihak.

DI saat pemerintah “kenceng-kenceng”nya menerapkan pembatasan sosial bersekala besar pun masih banyak masyarakat yang tidak patuh. Pedagang banyak yang nekat berdagang meski bukan di sektor kebutuhan pokok atau yang diizinkan.

Masyarakat masih banyak yang datang ke pasar tanpa memakai masker dan tanpa jaga jarak. Di kampung masih banyak perkumpulan kongkow-kongkow seperti bukan di situasi pandemi. Bahkan ada tempat ibadah di zona merah yang tetap menyelenggarakan ibadah jama’i.

Saat ini, ketika istilah new normal dan berdamai dengan corona digaungkan, sontak masyakat “abyar” melepaskan kepenatan staying at home dan kerinduan untuk bertemu kolega dan handai taulan.

Sayangnya maksud dari perilalu new normal terlupakan. Perkerumunan kembali terjadi. Masker dan hand sanitizer tidak lagi menjadi barang setia yang menemani. Sebagian masjid pun sudah salat dengan ‘normal yang lama’.

Sementara itu pemerintah pontang-panting untuk mengatasi pandemi ini dan meminimalisir dampaknya secara sosial dan ekonomi. Para tenaga medis masih terus berjibaku mengorbankan segalanya demi menjaga sumpahya untuk tidak berhenti mengabdi pada kemanusiaan.

Pabrik-pabrik sudah banyak yang tidak mampu beroperasi dan mem-PHK karyawannya. Bahkan sebagian tidak mampu lagi memberi pesangon kepada karyawan yg di-PHKnya. Pengangguran dan orang miskin baru pun bertambah.

Sekolah dan universitas juga belum dibuka. Anak-anak, orang tua dan guru telah jenuh study from home. Tapi sebagian besar mereka juga khawatir sekolah menjadi cluster baru penyebaran covid-19 kalau dibuka, karena faktanya penyebaran covid belum mereda.
Kasus positif terus terjadi bahkan cenderung meningkat. Hingga awal pekan ke-2 bulan Juni sudah tembus 33 ribu kasus dengan kematian mencapai 1.800 an.

Lalu sejauh mana ketahanan bangsa dapat dipertahankan jika tidak ada kesamaan kehendak dan kesamaan langkah untuk berikhtiar mengakhiri pandemi? Ingat! Bersatu itu teguh. Sedang dengan bercerai dalam pengertian berbeda-beda kehendak dan langkah, maka kita akan runtuh.

Ada yang dengan penuh keyakinan menyerahkan urusan berakhir tidaknya pandemi ini kepada kehendak dan kekuasaan Allah. Tapi naifnya ia melupakn kewajiban berikhtiar.

Tentu ini sikap tawakkal yang salah karena Nabi Muhammad pernah menegur orang yang bertamu pada beliau dan membiarkan untanya tidak diikat di luar. Nabi bertanya, “Mengapa unta itu tidak diikat?”. Ia menjawab, “ Saya lepaskan unta itu karena saya yakin pada perlindungan Allah Swt.” Maka Nabi bersabda:” Ikatlah unta itu, barulah kamu bertawakkal!” (HR. Tirmidzi)

Vietnam yang secara ekonomi tidak beda jauh dengan negara kita, Jepang dan Selandia Baru mrupakan contoh negara yang mampu menekan penyebaran corona. Modal utama mereka adalah kepatuhan dan kedisiplinan warganya.

Duta Besar Luar Biasa RI Selandia Baru, Tantowi Yahya dalam siaran you tube impac hub (17/5) menyatakan bahwa keberhasilan Selandia Baru menekan laju penyebaran corona tidak terlepas dari kebiasaan yang muncul di masyarakat. Meski saat ini lockdown telah dilonggarkan, tetapi masyarakat Selandia Baru tetap menerapkan kebiasaan hidup sehat seperti mengenakan masker, cuci tangan, dan menjaga jarak.

Memang membangun masyarakat beradab (civilized) bukan perkara mudah terutama bagi bangsa yang tingkat pendidikan dan literasinya masih tergolong rendah. Apalagi dengan alam demokrasi yang secara umum belum menghasilkan kepemimpinan yang berkarakter.

Lalu sampai kapan terus begini? Tidak perlu putus asa. Yang penting kita mau memulai dari diri sendiri. Wallahul musta’aan.

Penulis: Pendidik di MAPK Surakarta dan suka memperhatikan masalah sosial

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *