Oleh : Din Ali Fathi

Apa yang tercipta di alam ini semuanya ditujukan untuk menunjang kehidupan manusia. Sebab manusia sebagai wakil Allah di atasnya. Dan manusia telah diciptakan dalam rupa sesempurnanya makhluk.

Dalam tugas sebagai wakil Allah itu manusia bertanggung jawab tentang kemaslahatan dan keberlangsungan kelestarian alam kehidupannya. Di pundak manusialah kebaikan dan keburukan hidup itu diembankan.

Ada tiga potensi yang telah dianugerahkan pada manusia yaitu akal, jasmani dan rohani. Dengan ketiga potensinya itu manusia dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya. Dengan itu pula manusia dalam hidupnya dapat saling berinteraksi satu sama lainnya dan dapat menundukkan makhluk lain agar terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam hal interaksi dengan sesamanya agar tercipta suatu kesepahaman manusia tentunya harus menggunakan suatu alat. Alat itu ialah bahasa. Selain bahasa lisan dan isyarat yang telah dikenal lebih awal ketika permulaan penciptaannya. Manusia juga mengenal bahasa tulisan.

Bahasa tulisan sendiri berawal dari adanya pemahaman akan Aksara atau huruf atau abjad dalam bahasa Arab. Yaitu suatu sistem simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya berupa: batu, kayu, kain, kulit dan lainnya untuk mengungkapkan unsur – unsur yang ekspresif dalam suatu bahasa.

Aksara secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata “a, yang bermakna tidak” dan “kshara, yang bermakna termusnahkan”. Jadi, Aksara adalah sesuatu yang tidak termusnahkan alias kekal atau langgeng.

Mengapa Aksara dikatakan sebagai sesuatu yang kekal? Karena peranan Aksara dalam mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa komunikasi dalam bentuk tulis. Maka melalui Aksara itu pulalah -yang ditatah diatas batu hingga ditulis di atas daun lontar dan lempeng tembaga- sejarah kehidupan manusia dimasa lampau- baik itu kesuraman dan kejayaannya dapat dijamah kembali dengan bukti – bukti literal.

Maka memahami Aksara akan memahami dunia tulis menulis. Memahami dunia tulis menulis artinya memahami bahasa tulisan. Dan bahasa tulisan itulah yang telah menautkan atau menjalin kehidupan dan sejarah kehidupan manusia itu sendiri dan alam serta ragam budayanya dari zaman dulu hingga kini. Tak terbatas ruang dan waktu.

Dan ketiga jenis cara berkomunikasi manusia itu, baik lisan, isyarat dan tulisan satu sama lain saling berkaitan. Tetapi bahasa tulisanlah yang telah berperan utama dalam mengembangkan peradaban manusia hingga di era digital ini. Sebab dengan adanya tulisan manusia bisa mengembangkan pengetahuannya tanpa henti.

Tetapi dalam perjalanan sejarahnya, kesemua jenis berbahasa itu manusia perlu mempejalarinya lebih awal agar dapat memahami dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka. Jadi bahasa itu tidak serta merta begitu saja dipahami.

Begitulah juga kisah manusia pertama yang diciptakan Allah. Adam, sebagai nenek moyang manusia lebih dulu diajari Allah akan nama – nama benda disekitarnya. Sehingga kemudian para Malaikat yang sebelumnya menyepelekan penciptaan Adam akhirnya tunduk – lebih tepatnya diperintahkan untuk tunduk- kepada Adam. Begitu juga akan halnya bahasa tulisan. Artinya untuk bisa memahami bahasa tulisan manusia harus berusaha untuk mempelajarinya . Jika tidak, maka akan terjadi yang namanya buta huruf alias buta aksara.

Itulah kiranya yang melatari peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 September tahun 1965. Dimana PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa) menetapkan tanggal tersebut diperingati sebagai International Literacy Day atau Hari Aksara Internasional. Karena melihat masih banyaknya warga dunia yang masih terbelakang dalam memahami Aksara atau buta aksara. Dan disetiap tanggal 8 September setiap tahun, Peristiwa itu akan tetap diperingati.

Begitu pentingnya memahami bahasa tulisan. Allah telah menggambarkan lewat firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Mari terus belajar. Meningkatkan wawasan dan pemahaman kita. Sebab apa yang telah kita pahami kemarin belum tentu akan sama dan cocok dengan hari ini apalagi hari esok. Dunia terus bergerak dan berubah tanpa harus menunggu kesiapan kita.

Apa yang dianggap sebagai buta aksara atau buta huruf di ‘Zaman Old’ hanya pada Aksara dan huruf itu belaka. Tapi buta huruf di ‘zaman Now’ sudah merambah pada gagap tehnologi. Oleh karena itu tidak boleh ketinggalan zaman. Harus siap menerima perubahan baik yang datang. Diera digital ini, semua berubah seirama digit angka.

Sambutlah perubahan dengan semangat pembelajaran…

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *