Bermuamalah dengan sesama makhluk dengan baik dan benar, maka kebaikanmu akan kembali ke dirimu sendiri. Berbuatlah sesuka hatimu, ” Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Ancaman bagi  semua orang jika tidak memunculkan rasa malu dalam jiwanya. Apakah, kita akan bermuamalah sesuai kekehendak diri atau sesuai dengan aturan-Nya?  Tidakkah kita harus memperhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya. Bagaimana bermuamalah agar rasa malu itu ada?

Tata kehidupan jika tidak ada yang mengatur dan mau diatur, pastilah aman tentram dalam kehidupan ini.  Lalu lintas ada lampu merah, kuning, hijau dibuat warna-warni pasti ada pesan khusus untuk di sampaikan pada pengguna jalan. Masyarat pengguna jalan, telah memahami semua baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Tata aturan pengguna jalan semua sama, warna merah berarti berhenti, warna kuning persiapan jalan, dan warna hijau diperbolehkan di jalan. Namun kesadaran masyarat,  sebagian yang mematuhi dan ada yang pura-pura tidak mengerti aturan itu. Bukankah, peraturan itu ditetapkan untuk ditaati sehingga tercapai kenyamanan dan keteraturan kehidupan.

Baru satu peraturan lalu lintas yang disinggung nih, masih banyak peraturan lain yang ada di bumi ini. Pastilah, secara sadar sebagai seseorang yang mempunyai mata hati pasti memahami bahwa aturan itu tercipta untuk kebaikan umat manusia. Fitrah manusia pasti berpendapat seperti diatas, karena peraturan itu dicipta dari fitrah yang suci akan menghasilkan perilaku yang baik. Saat ini, coba lakukan muhasabah diri sesungguhnya mata hati seseorang adalah sumber kebaikan, karena berasal dari Sang Illahi Robbi. Sumber kebenaran dan kebaikan berasal dari yang Maha pencipta, jadi jika kita mau melakukan sesuatu perbuatan bolehlah anda bertanyakan pada suara hatimu.

Demikian jua saat bermuamalah dalam jual beli ada aturan mengikatnya. Aturan jual beli secara fitrahnya tertera dalam surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. Hal inilah, ada kata kunci proses muamalah jual beli yang berkah ada unsur suka sama suka. Bagaimanakah pelaksanaan jual beli yang berkah itu?

Ada unsur suka sama suka dalam jual beli pasti diawali saling ridha antara penjual dan pembeli. Ridha sesuai syariat ataupun ridhanya seseorang baik penjual atau pembeli. Ridha sesuai syariat tidak ada unsur riba. Pengertian secara linguistik riba berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.

Proses muamalah jual beli tanpa ada unsur kebatilan dan kezhaliman baik oleh penjual ataupun pembeli. Dipertegas surat Al Baqarah ayat 275 ,” Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. Riba biasanya muncul saat pelaksanaan jual beli dengan tujuan mencari keuntungan berlipat ganda. Larangan jual beli mencari keuntungan berlipat ganda terdapat juga pada surat Al Imron ayat 130. Jadi, ada dasar tuntunan kehati-hatian dalam jual beli bagi penjual dan pembeli.

Bagi penjual saat jual beli tidak  ada unsur kebatilan. Salah satu sikap tidak perpuji yang dilakukan oleh penjual dengan mengambil keuntungan berlipat ganda tanpa batas. Peringatan keras bagi penjual! Jika melakukan kedzoliman. Penjual tidak diperkenankan menumpuk barang dagangan mengakibatkan barang langka sehingga menyebabkan harga barang melambung tinggi. Sikap-sikap yang tidak manusiawi dan ada unsur kesengajaan membuat langkanya barang yang mengakibatkan semua orang terdzolimi hendaknya ditinggalkan karena sikap monopoli perdagangan tidak sesuai syariat.

Demikian jua sikap pembeli juga ada tatanan yang wajib ditaati. Lebih-lebih masa pendemi, hendaknya pembeli mampu menahan diri membeli barang secukupnya sehingga mengurangi kelangkaan barang yang dibutuhkan. Pembeli tidak hanya memikirkan keselamatan diri dan keluarganya saja. Pembeli boleh membeli barang yang banyak, namun di niatkan untuk berbagi. Demi mengamalkan ajaran yang lurus, surat Al Baqarah (2) : 254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Begitulah ajaran yang benar mengajarkan pada kita untuk bisa berbagi dengan sesama pada masa sempit atau lapang.

Bagaimanakah membangun unsur ridha dari seseorang dalam tatanan jual beli? Tatanan keridhaan jual beli tidak ada unsur penipuan dan kecurangan. Penjual dan pembeli wajib menjaga amanah masing-masing sehingga tidak ada unsur yang tersakiti. Dengan konsep itu, diharapkan dalam jual beli mampu menumbuhkan nilai kasih sayang diantara penjual dan pembeli sehingga terjalin silaturahmi yang mewangi. Konsep kasih sayang dalam jual beli itulah, yang akan melahirkan ridhanya penjual dan pembeli.

Renungkanlah! Ada ancaman bagi para penjual dan pembeli yang didalam jual beli ada unsur kecurangan atau kebatilan. Dalam surat Al-Muthaffifin: 1-3, Alloh berfirman, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. Adab jual beli yang didalamya terdapat unsur kebatilan hendaknya ditinggalkan.

Jelas sekali aturan dalam jual beli, masing penjual dan pembeli memegang peranpenting agar masing-masing menjaga amanahnya. Dalam menjaga anamah diperlukan sikap kejujuran dan keadilan. Gambaran sikap kejujuran dan keadilan dalam segala situasi sangat diperlukan, apalagi masa-masa sempit.

Coba renungkan ada beberapa perilaku ketidak jujuran dan keadilan baik yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang semakin melemah, apalagi di masa pendemi covid 19. Banyak video yang bertebaran, begitu tidak amanahnya penjual dalam menjaga kualitas barang dagangannya. Dalam video, terlihat barang dagangan tidak terjaga kebersihan dan keamanannya bagi konsumen atau pembeli. Penjual tidak mengoptimalkan pekerjanya untuk mengotrol barang dagangannya serta pekerja atau pelayan toko tidak bertanggung jawab dalam kerjanya. Sehingga, semuanya muncul sikap cuek dan tidak peduli terhadap barang yang dijualnya. Tergambar kemirisan hati!  Muncul tikus-tikus berkeliaran di mall atau kafe yang merusak barang dagangan yang dapat menimbulkan wabah penyakit bagi pembelinya.

Gambaran nyata ini, viral di fb ataupun You Tube akibat penjual belum mampu menjalankan amanah  dalam jual beli.

Gambaran nyata terlihat dengan mata kepala saya sendiri, begitu tidak pedulinya penjual dalam memasarkan dagangannya. Begitu sembrononya atau joroknya penjual memasarkan berasnya. Padahal kehidupan bersumber dari jual beli beras, namun seronoknya ia menaruh beras di bak-bak kayu yang tidak ada tutupnya. Saat menuangkan beras ke bak kayu, tidak pernah ditutup dengan baik. Apa mau dikata, saat saya bertanya berapa beras anak daro ini per kilonya? Sambil menggengam dan mencium-cium beras itu, Masya Alloh ada kotoran kucing di dalam bak beras tadi. Alangkah, hinanya akhlak penjual tadi yang tidak memperhatikan kebersihan dan kualitas barang dagangannya. Berhati-hatilah, anda sebagai pembeli untuk menyeleksi barang apa yang anda beli dan dengan siapa anda membeli agar anda tidak menyesali.

Kedua gambaran di atas ini, hendaknya menuntun para pedagang untuk memperbaiki diri. Sepanjang ridha, kejujuran, keadilan melekat dalam suatu proses mu’amalah dan jual beli, tanpa ada unsur kebatilan dan kezhaliman, maka bentuk transaksi itu merupakan adab jual beli dijunjung tinggi. Sungguh berungtulah! Bagi pedagang yang selalu istiqomah bekerja sesuai dengan aturan syariat, pasti tergolong orang yang beruntung sesuai janji-Nya.

Referensi:
https://almanhaj.or.id/2631-kaidah-halal-haram-dalam-jual-beli.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Riba

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *