(Refleksi 1, Syawalan Penulis Indonesia)

Oleh: Ade Zaenudin

Apa untungnya jadi penulis?

Alhamdulillah, pertanyaan itu terjawab sudah setelah saya mengikuti rihlah ilmiah virtual dalam acara Syawalan Penulis Indonesia yang digagas Pak Cah dengan menghadirkan pembicara Ustadz Salim A. Fillah dan Ustadz Faisal Kunhi.

Saya coba merefleksi bahwa setidaknya ada dua dimensi strategis pribadi penulis, dimensi eksistensi dan dimensi aktualisasi.

Dimensi Eksistensi

Allah Swt menyampaikan di awal surah ar-Rahman bahwa manusia diciptakan dan diajarkan untuk pandai berbicara (al Bayan). Ustadz Salim A. Fillah menyampaikan bahwa al-Bayan dimaknai sebagai kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan mudah difahami.

Sejatinya eksistensi atau keberadaan manusia secara fitrah sudah diberikan kemampuan untuk berkomunikasi, menyampaikan pesan kepada orang lain dengan baik.

Ada banyak pilihan manusia dalam menyampaikan pesan tentunya, bisa itu dalam bentuk verbal maupun non verbal. Bisa melalui isyarat, lisan, maupun tulisan.

Sistem komunikasi yang terbangun secara fitrah itulah yang kemudian akan mengukir lahirnya peradaban. Baik buruknya sistem komunikasi akan berimplikasi pada baik buruknya bangunan peradaban.

Ustadz Cahyadi Takariawan atau yang kita kenal Pak Cah dalam hal ini menyampaikan pesan bahwa seorang penulis mempunyai peran sangat strategis dalam membangun peradaban, maka tidak ada pilihan bahwa kita semua sebagai manusia harus menuliskan yang baik-baik agar terbangun peradaban yang baik pula.

Dimensi Aktualisasi

Ustadz Faisal Kunhi menyampaikan bahwa menulis dan membaca adalah satu kesatuan utuh, seorang penulis dituntut untuk senantiasa membaca.

Tulisan mencerminkan bacaan. Semakin luas wawasan atau bacaan seorang penulis maka Insya Allah semakin berkualitas juga tulisannya.

Dalam perspektif ini, penulis dituntut untuk tidak puas dengan apa yang diketahui saat ini. Penulis harus peka bahwa saat tulisannya dibaca orang, maka pembaca akan menilai wawasan yang dimiliki penulisnya.

Oleh sebab itu, Penulis dituntut untuk selalu meng-up date dan meng-up grade dirinya. Maka dengan mengistiqomahkan diri menjadi penulis dia akan senantiasa berusaha mengaktualisasikan kehidupannya dalam ilmu dan pengetahuan.

Indikatornya sederhana, penulis yang baik dia akan semakin haus akan ilmu dan pengetahuan.

Wallohu a’lam

Ade Zen, Kalideres, 13 Syawal 1441 H / 5 Juni 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *