Corona Bertasbih

Oleh: Ade Zaenudin

Iftitah

[Pak, jadwal bapak mengisi workshop di Depok bulan April nanti mau dicancel.]

[Loh, kenapa?,] tanya saya.

[Efek Corona Pak, jajaran direksi kami membuat kebijakan seperti itu setelah Pak Jokowi mengumumkan bahwa di Depok ada dua orang terpapar.]

[Ya sudah, gak apa-apa, takdir Allah, saya ikut yang terbaik.] Jawab saya.

Begitulah kira-kira penggalan percakapan whatsaap saya dengan tim yang mengurusi program bantuan pengadaan pelatihan untuk guru awal maret lalu, dan tim segera mengabarkan kebijakan tersebut kepada dua lembaga penerima bantuan di Depok. Dua pekan kemudian, tepatnya 16 Maret 2020 semua daerah akhirnya di cancel seiring kebijakan pemerintah meliburkan siswa dan melarang kegiatan pengumpulan masa.

Masifnya pergerakan Covid-19 ini memaksa pemerintah untuk mengambil kebijakan luar biasa,mulai dari meliburkan pembelajaran, membatalkan event-event yang memberikan peluang berkumpulnya orang banyak termasuk Car Free Day yang sudah berlangsung lama, anjuran penggunaan masker, cuci tangan, serta menghindari kontak kulit termasuk salaman.

Covid-19 ini juga menghantam sistem perekonomian Indonesia, nilai tukar rupiah bahkan sempat melemah. Besok, lusa, wallohu a’lam. Kita masih tetap berdoa semoga terus membaik.

Tinjauan Teologis

Satu saat Umar bin Khattab RA yang dikenal sebagai sahabat pemberani dan mempunyai kecerdasan tinggi berencana melakukan perjalanan ke Syam, di tengah perjalanan beliau mendapat kabar bahwa di daerah tersebut sedang terjadi wabah penyakit menular. Seketika Umar bin Khattab mengalihkan perjalanan ke tempat lain.

Para sahabat memprotes keputusan Umar bin Khattab RA tersebut, mereka mempertanyakan kenapa Sang Khalifah lari dari takdir Allah. Umar menjawab dengan sangat diplomatis, Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.

Covid-19 ini adalah takdir Allah, tidak ada yang bisa membantah, dalam Q.S. As-Saffat ayat 96 Allah menegaskan, “Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”

Ikhtiar untuk menuju takdir Allah yang lebih baik adalah kewajiban kita semua, bukan hanya tugas pemerintah. Perilaku hidup sehat pun memang sudah seharusnya kita jalankan karena merupakan ajaran agama. Tawakal pun adalah sebuah keharusan karena semua yang terjadi atas kuasa-Nya.

Pada masa Rasul pun sempat terjadi wabah menular bernama Tha’un, Rasul pun mengeluarkan maklumat untuk umatnya agar jangan terus menerus melihat orang yang berpenyakit. Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori ada maklumat Rasul yang begitu tegas, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”

Covid-19 menjadi salah satu penanda betapa berkuasanya Allah SWT, dan betapa lemahnya manusia. Manusia mana yang masih menyombongkan diri dengan meniadakan Allah dalam hati dan fikirannya?

Copid-19 ini menyadarkan kita bahwa manusia begitu kecil di hadapan Allah SWT, kita sangat lemah, tidak punya daya dan kekuatan. Lalu apa yang bisa kita sombongkan lagi?

Dalam kondisi ini, setan tetap menyelinap masuk ke rongga hati dan pikiran manusia untuk menggoda keimanan, boleh jadi dia berkata, jika ini takdir, sebegitu kejamkah Tuhan kepada manusia?

Jangan lupa! manusia memang harus diuji untuk menjadi pemenang, dan hadiahnya adalah mendapatkan posisi mulia di sisi-Nya. Kita harus menolak lupa dengan kesabaran Nabi Ayub AS yang diuji dengan penyakit yang tak kalah dahsyat, Nabi Ayub tak pernah mengatakan Allah kejam terhadap dirinya.

Dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41, Allah SWT menyampaikan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah karena ulah perbuatan manusia. Ayat ini mestinya menyadarkan diri kita bahwa walaupun segala sesuatu sudah menjadi takdir ilahi, tapi manusia berkontribusi atas terjadinya musibah di muka bumi, termasuk beredarnya Covid-19 yang sampai ke Negara kita.

Lalu bagaimana solusinya? Q.S. Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa Allah SWT tidak merubah nasib satu kaum sehingga mereka merubah nasibnya sendiri. Untuk mendapatkan nasib yang baik tentu harus diupayakan dengan melakukan langkah-langkah yang baik sesuai dengan anjuran ahli di bidangnya. Pemerintah pun harus menerbitkan kebijakan-kebijakan yang baik untuk warganya. Semua masyarakat harus mengalihkan kebiasaan-kebiasaan tidak baik menuju kebiasaan baik. Dan pada akhirnya, setelah memaksimalkan ikhtiar, kita hanya bisa bertawakal kepada Allah SWT atas apa yang terjadi.

Terakhir, mari kita analisa Q.S. Yunus ayat 49, setiap umat memiliki ajal, jika ajal itu sudah datang, maka mereka tidak bisa memundurkan atau memajukannya.

Jika ada orang sakit lalu dirawat di rumah sakit dan sembuh, memang takdirnya dia harus ke rumah sakit dan harus sembuh pada waktu itu, kita tidak perlu mengatakan bahwa rumah sakit atau obat lah yang menyembuhkan penyakit itu, semua atas ijin Allah. Demikian sebaliknya, jika ada orang meninggal karena sebab telat dirawat, rangkaian peristiwa itu semua juga sudah menjadi takdir-Nya, memang harus meninggal saat itu dengan sebab seperti itu. Dan Copid-19 dengan segala efek yang terjadi di muka bumi adalah bagian dari takdir ilahi.

Mari sama-sama berikhtiar menjemput takdir Allah yang lebih baik, seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah dan Umar bin Khattab. Wallohu’alam.

Tulisan ini dimuat di buku antologi Corona Bertasbih hal. 75, No ISBN: 978-623-93398-0-7

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *