featured image

KALIMAT PEDULI COVID-19

Rara Nuringdyah Anggun Kinasih

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today

Imagine – John Lennon

LAMUNAN SORE HARI

Suatu sore di awal bulan puasa yang cukup remang dikarenakan mendung, saya bersandar di pagar balkon kosan saya sambil merenungi banyak hal. Sedikit mengeluh pula pada kondisi pada saat ini. Sudah sebulan saya sendiri di kosan ini. Bangunan 3 lantai yang tiap kamarnya cukup nyaman dengan fasilitas free wifi, AC, dan kamar mandi dalam dengan air hangat. Tapi tetap saja kenyamanan itu tidak terasa dikarenakan kondisi yang semakin mencekam. Kabar-kabar yang berkenaan dengan Covid-19 di luar sungguh membuat perasaan tidak menentu. Pekerjaan yang kacau dan target serta rencana kerja yang morat marit sungguh membuat saya tertekan. 

Sebagai seorang pelatih paduan suara, pekerjaan saya sangat tergantung pada instansi-instansi yang ada. Dan di saat seperti ini, sontak semua membatalkan latihan dikarenakan adanya peraturan untuk melarang berkumpul lebih dari 20 orang dalam  satu ruangan dan jika dilanggar sangsinya adalah satu tahun penjara. Yang bener aja lo mau dengan konyolnya dipenjara gara-gara hal tolol. Dengan berat hati satu persatu tim dilepaskan. Tinggal privat-privat vokal saja karena bisa dikerjakan secara online. Penghasilan menurun drastis membuat elus dada.

Hal ini bukan hanya saya sebagai pekerja seni yang merasakan dampaknya, tetapi SEMUA pekerja seni merasakan dampaknya. Semua teman pekerja seni bertahan hidup dengan tabungan pribadi. Karena kami pekerja seni, tidak ada job ya tidak ada pemasukan. Kebanggan kami yang mulai sanggup membuktikan pada masyarakat bahwa pekerja seni adalah juga pekerjaan yang cukup menjanjikan dijalani, rasanya seperti dijungkirkan. Nol besar penghasilan bahkan membuat beberapa orang teman menangis.

Beberapa akhirnya survive dengan berjualan makanan dan melakukan bisnis lainnya. Paling tidak mental kami sebagai “Ora obah ora mangan” selama ini bisa kami terapkan di kondisi ini. Tidak ada waktu untuk meratapi keadaan.

Sayup-sayup saya mendengar adzan Maghrib berkumandang di kejauhan. Udara sudah tak segerah beberapa jam yang lalu. Karena sedang mens, saya tidak punya keharusan untuk berbuka dan bergegas mengambil air wudlu seperti biasa. Lagipula saya ingin menikmati senja dalam hening. Saya berjalan ke pantry kosan yang nggak jauh dari balkon. Memanaskan sedikit air dan membuka sesachet Torabika Creamy Latte kesukaan saya. Air mendidih dan saya menuangkan ke mug saya. Mengaduk latte sambil masih tetap terdiam sambil mendengarkan keadaan sekitar.

Sungguh berbeda aroma bulan puasa tahun ini. Jika tahun sebelumnya sejak pukul empat sore kita akan mendengar keriuhan anak-anak kecil di TPA masjid setempat, saat itu saya tidak mendengar sedikitpun keriaan itu. Terbayang tahun ini anak-anak itu tidak mengedarkan buku ibadah ramadhannya, minta tanda tangan ustadz atau ustadzah, dan tidak merasakan keseruan takjil di masjid. Sayapun merasakan sedikit kesepian.

Kemarin pembantu saya di rumah menyampaikan, “Mriki mboten wonten acara nopo-nopo teng mesjid mbak. Ustadzah-ustadzah e nggih prei.” (Di sini nggak ada acara apa-apa mbak. Ustadzah-ustadzah nya libur.)

Saat itulah tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Dampak Covid-19 ini begitu luas. Bukan hanya kami pekerja seni. Tapi SEMUA PEKERJA LEPAS. Sejenak saya terhenyak. Kami, pengajar-pengajar pekerja lepas yang penghasilannya cukup lumayan dalam sekali mengajar ini, masih punya cukup tabungan untuk bertahan hidup walaupun nggak seberapa juga. Tapi coba bayangkan pekerja-pekerja lepas yang penghasilannya tidak seberapa. Pengajar-pengajar honorer saja pasti sudah bertekuk lutut dengan keadaan ini apalagi para ustadz dan ustadzah yang selama ini mengajar hanya di TPA-TPA masjid-masjid kecil dan mendapatkan amplop tak seberapa. Jika TPA diliburkan dalam waktu tak terhingga bagaimana nasib mereka? Belum juga para penjual-penjual kecil-kecilan. Para pekerja pabrik saja saat itu sudah banyak yang di-PHK. Bahkan bibik cuci yang biasa nyuciin baju-baju saya, kemarin habis pinjam uang ke saya untuk berobat suaminya. Dari tiga kosan yang biasanya jadi pelanggannya, sekarang tinggal dua orang saja dan salah satunya saya.

Kopi latte saya seketika saya abaikan kenikmatannya.

Saya masih cukup beruntung di keadaan ini. Mereka?

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di otak saya.

KALIMAT

Sekitar setahun sebelumnya, saya mengikuti sebuah kegiatan kursus online tentang ilmu menulis. Saya memang gemar menulis karena saya hobi ngecipris. Buat saya, menulis adalah sarana yang cocok untuk kengeciprisan saya yang kadang bikin saya sendiri pusing dengernya. Semua yang ada di otak ini rasanya ingin saya keluarkan serta merta. Oleh sebab itu tidak heran jika sejak usia SMP, tulisan saya sudah mendominasi isi majalah sekolah.

Di kursus online tersebut , puji Tuhan, mendapatkan banyak ilmu tentang menulis yang membuat saya bereaksi, “Oooooo ternyata gituuuu…”

Tetiba, seorang peserta kursus, Ade Zaenudin, mencetuskan ide untuk membuat antologi sendiri di luar kegiatan kursus dan mengajak beberapa orang yang tertarik untuk bergabung. Saat itu sayapun berpikir, ikut ajalaaahhh toh lumayan juga punya komunitas baru di luar komunitas menyanyi yang sudah saya tekuni sekian tahun.

Ade Zaenudin dan teman-teman pun sepakat menamai komunitas ini KALIMAT yang artinya “Komunitas Penulis untuk Indonesia Bermartabat”. Dan komunitas ini sudah menghasilkan tiga buku Antologi yang cukup mendapat sambutan hangat dari khalayak.

Di komunitas ini saya mempunyai semacam teman-teman geng yang (kalau teman-teman komunitas musik saya tahu siapa saya), nggak akan ada yang ngira kalau saya punya temen geng seabsurd ini. Hahaha. Yang pertama ada Ade Zaenudin himself yang sering banget saya bully karena kepolosannya. Yang kedua bu Cicik yang biasa jadi penengah. Yang ketiga Agus Saefullah yang biasa dipanggil mang Agus. Sering saya repotin untuk hal-hal dadakan dan bener-bener bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini. Yang terakhir adalah Ustadz Husin. Ustadz muda yang biasa jadi tempat diskusi dan teman eyel-eyelan masalah layout dan kemasan buku. Berlima kami buat semacam group whatsapp sendiri di mana saat keadaan menggenting, bu Cicik lah yang menengahi.

Bisa dibilang ini zona nyaman saya yang ke dua.

IDE CEMERLANG

Petang itu, berdasarkan pemikiran-pemikiran tadi, sayapun menghubungi bang Ade.

“Eh, bang, kita kenapa nggak bikin semacam kegiatan yang agak manfaat dikit sih buat masyarakat?”

“Mau bikin apa jeng? Coba jeng jelaskan.” Sok imut banget emang dia panggil saya jeng.

“Yaaa semacam penggalangan dana buat orang-orang yang terkena dampak covid. Gw pikir imana kalo kita bikin semacam paket lebaran yak? Mungkin isinya semacam minyak kopi teh gula yang dibutuhkan buat lebaran. “

“Ide bagus tuh. Coba jeng share di group aja.”

“Ogah ah kalo gue. Lo aja. Lo kan ketuanya.

“Idih… kan jeng yang punya ide?”

“Ah, elu!”

“Dih!”

Begini deh. Mau share ide aja pakai acara berantem dulu kata-kataan.

Jadi singkat cerita ide pun dilontarkan ke group KALIMAT tadi.

Kurang lebih begini lah obrolan kami,

[28/04, 06:54] Rara Nuringdyah Anggun K: Temen2 kalimat, apakah tidak ada program dari kalimat untuk berbagi ke masyarakat kah? Misal paket sembako buat lebaran gitu?

[28/04, 06:55] Rara Nuringdyah Anggun K: Dikarenakan masyarakat pasti banyak yg membutuhkan ini di lebaran tahun ini

[28/04, 06:55] Pak Ade Antologi: Ide bagus

[28/04, 06:55] Rara Nuringdyah Anggun K: @⁨Pak Ade Antologi⁩ mohon dipertimbangkan yesss ide akuuu

[28/04, 06:56] Rara Nuringdyah Anggun K: Selama kita bisa membantu ayok kita bergerak

[28/04, 06:56] Pak Ade Antologi: Men-temen, Bu Rara punya ide bagus nih, ayo, punya konsep apa nih kita?

[28/04, 07:00] Rara Nuringdyah Anggun K: Isinya mungkin bisa : Minyak goreng 2lt, Gula 2kg, Teh 1 bos, Kecap, Indomie 5 biji, Begini aja rasanya sudah cukup

[28/04, 07:00] Pak Ade Antologi: Saya terenyuh, melihat berita, ada yang gak makan empat hari, ada yang 2 hari makan jambu,

[28/04, 07:01] Mang Agus Antologi: Aku yessssssss

[28/04, 07:02] Rara Nuringdyah Anggun K: Pembantu saya sebulan kemarin nggak bisa jualan. Betul2 cuma ngandalin gaji pembantu. Bibik cuci saya di sini pelanggannya tinggal 2. Saya kepikiran yg lain pasti lbh parah

[28/04, 07:03] Rara Nuringdyah Anggun K: Kita salurkan ke daerah kecil yang bener2 membutuhkan

[28/04, 07:03] Rara Nuringdyah Anggun K: Mungkin daerah bu @⁨Bu Trisni Antologi⁩ atau teman lain yg juga pelosok

[28/04, 07:04] Rara Nuringdyah Anggun K: Mungkin bisa kita survey yang bener2 butuh

[28/04, 07:05] Pak Ade Antologi: Ok, gak usah kita pikir panjang, kita langsung gerak, mohon bu Rara jadi koordinator, buat tim langsung

[28/04, 07:06] Rara Nuringdyah Anggun K: Saya sih siapa yang berminat buat bebantu ayok aja

[28/04, 07:06] Pak Ade Antologi: Yang gerak kita semua jeng,

[28/04, 07:07] Pak Ade Antologi: Kang husin siapkan flayer

[28/04, 07:08] Pak Ade Antologi: Bu Cicik, mana bu Cicik… masih tadarus romannya

[28/04, 07:08] Rara Nuringdyah Anggun K: Tolong isi daftar yak.

[28/04, 07:09] Rara Nuringdyah Anggun K: Temen2 yang punya ide mau disalurkan ke daerah mana mohon sampaikan yaaa

[28/04, 07:09] Pak Ade Antologi: Prinsipnya gini, sasaran kita yang saaaaangat membutuhkan, yang dia diam jarang tersentuh orang, ada orang tua jompo, janda,

[28/04, 07:10] Rara Nuringdyah Anggun K: Kalo bisa di spesifikasikan yang bener2 tidak berpemasukan

[28/04, 07:11] Pak Ade Antologi: Untuk daerah mana, urusan kedua, yang penting kitanya dulu kompak

[28/04, 07:12] Rara Nuringdyah Anggun K: Ok meten2, siapa yang setuju jadi bagian dari berbagi ini?

[28/04, 07:13] Mang Agus Antologi: Kalau d saya petani. Peta ni justru cenderung aman secara pangan. Tapi tetangga yang kerja parbikan, guru ngaji madrasah sepertinya kewalahan. Kami juga sudah bantu. Tapi karena PSBB diperpanjang bantuan diperlukan lagi

[28/04, 07:48] Bu Nurul Antologi: In syaa Allah saya mau ikutan…..

Dan obrolan pun berlanjut panjang. Saya cukup bahagia, banyak yang setuju dengan ide ini yang akhirnya dibuatlah program berjudul KALIMAT PEDULI COVID-19.

SOLIDARITAS PEDULI

Daaan singkat cerita, donasi pun berjalan cukup cepat. Hasil yang masuk pun tidak sedikit. Dan itu yang membuat cukup bahagia. Semua anggota KALIMAT ini rupanya tergerak hatinya dengan serta merta.

Ini adalah percakapan kami di suatu pagi yang cerah.

Selamat pagiiiii

Berkenaan dengan sumbangan2 KALIMAT Peduli Covid-19,

Total sampai hari ini sudah Rp x.xx0.000,00

Terima kasihhh

Berharap masih bisa nambah karena masih ada waktu s/d besok

Dari sumbangan ini kami berencana ingin menyampaikannya ke sasaran utama yaitu ustadz / ustadzah ngaji yang ngajar di TPA yang tentunya sangat terasa sekali dampak kali ini untuk mereka.

Memang banyak yang merasakan dampaknya selain ustadz / ustadzah ngaji ini, tp kami, panitia, sepakat untuk fokus ke beliau2 ini dengan pertimbangan beliau2 ini adalah pahlawan2 pendidikan yang tidak tercatat sebagai ‘guru sekolah formal’. Tugasnya cukup berat karena menggiring anak didiknya dalam hal agama dan tanggung jawabnya cukup besar di akhirat nanti.

Adapaun besarnya sumbangan perkepalanya nya kami ada 2 alternatif apakah : 150 atau 200

Lalu untuk sumbangan ini sendiri, kami berpikir untuk memberikan amplopan secara mentah dikarenakan kesulitan mencapai pasar yang disebabkan wabah ini.

Oleh karena hal ini,

Kami, panita, mohon masukan berupa, nama ustadz / ustadzah yang sekiranya ada di sekitar saudara2 di sini yang kiranya bisa dijadikan calon penerima sumbangan.

Sekian terima kasih.

Hormat kami panitia.

*Rara, Agus, Husin, dan Asta. Ehhh.. maaf.. Ade* (pembaca yang pernah membaca Bobo pasti pernah membaca cerita Paman Kikuk, Husin, dan Asta. Hehehe)

Pesan pagi itu saya posting di group Whatsapp kami dan berlanjut dengan obrolan yang cukup panjang.

[11/05, 09:19] Rara Nuringdyah Anggun K: Jika dalam 12 jam tidak ada tanggapan tentang jumlah isi amplop atau nama2 penerima sumbangan, kami anggap semua diserahkan ke kami panitia.

[11/05, 09:19] Pak Ade Antologi: Asta… Astagfirulloh… (ngeh juga ternyata doi)

[11/05, 09:23] Cut Ana Antologi: Disesuaikan dengan budget yang ada bu

[11/05, 09:24] Cut Ana Antologi: InsyaAllah Kalimat peduli tetap berlanjut untuk tema dan moment berikutnya

[11/05, 09:26] Cut Ana Antologi: Terkait penerima, itu sesuai  perioritas bu

[11/05, 09:31] Pak Ade Antologi: Mungkin kita sepakati dulu, bolehkah kita berikan dalam bentuk uang, karena diawal kita berencana bagi sembako, pertimbangannya:

1. Uang lebih simpel

2. Manfaatnya bisa disesuaikan kebutuhan penerima

3. Saya kemarin coba keliling di beberapa toko besar, gula susah didapat, di grosir paling besar dibatasi maksimal 2 kg. Saja.

Jadi bagaimana? Apakah boleh menjadi uang?

[11/05, 09:35] Rara Nuringdyah Anggun K: Uang aja ya! Plis!

#iyainajadehbiarcepet

[11/05, 09:48] Mang Agus Antologi: Mohon siapa saja yg bisa bantu? Nanti akan kami bagikan minimal 1 orang 1 paket.

[11/05, 09:49] Mang Agus Antologi: Bagi yg bisa ya. Bagi yg berhalangan misalnya daerahnya karantina penuh tidak apa-apa.

Ada sedikit cerita dibalik perubahan bentuk paket tersebut ke dalam bentuk uang. Hal ini dikarenakan si abang Ade kesayangan survey ke pasar dan nggak nemu gula pasir. Setengah kesel dia protes ke saya, “Saya mau nyari ke mana?”

Saya jawab asal, “Ya ke pasar lah! Noh Kramatjati!”

Proteslah dia, “KAGAK ADAAA GUE UDAH KE SITUUUUU! GUE UDAH MUTER-MUTER KE PASAR-PASAR SAMPE GEMPOR!”

Akhirnya karena kami nggak tega lihat pak ketua KALIMAT sudah setengah putus asa, diputuskanlah bantuan diberikan dalam bentuk uang. Terbayang juga, jika di Jakarta mencari sembako sebegitu sulitnya apa kabar di daerah? Tapi hal ini harus disampaikan dulu ke anggota yang lain. Karena saya punya kemampuan persuasif maksa yang dibutuhkan akhirnya sayapun membuka tawaran seperti obrolan diatas.

RELAWAN DONASI

Mohon isi list Relawan Kalimat Penyaluran Bantuan Uang Tunai. Sertakan *Nama* dan *Kabupaten/Kota*

Kita butuh xx orang penyalur untuk donasi agar setiap penyalur genap membawa uang tunai sebesar *Rp. 200.000,-*

Penyalur hanya boleh anggota grup ini saja

Pesan ini dibagikan di group Whatsapp KALIMAT. Semua bergerak begitu cepat. Tanda bahwa di komunitas ini masih banyak orang-orang berhati mulia yang ikhlas berbagi dan peduli pada keadaan sesama.

Bahkan di kota Sumedang, mang Agus bekerja sama dengan Kompass. Komunitas Penggerak  Dakwah Pelosok Sumedang atau Kompass merupakan sekumpulan anak muda yang bergerak ke pelosok-pelosok Sumedang untuk berdakwah mengajarkan literasi dan membantu anak-anak pedesaan untuk belajar. Mereka tidak dibayar. Melakukan kegiatan ini dengan keikhlasan luar biasa.

Juga ibu Cicik di Cilacap pun bekerja sama dengan Organisasi perempuan Persaudaraan Muslimah (Salimah). Organisasi ini seperti  Aisiyah , Fatayat, Muslimat, WKRI dan sebagainya. Pusat nya di Jakarta, PW di propinsi, PD di Kab/kota, PC di Kec, Pra di kel/desa.

Tujuan kami menyampaikan donasi ini betul-betul fokus dengan taget yang kami utamakan. Yaitu ustadz dan ustadzah yang terkena dampak Covid-19.

Hal ini pun sempat muncul perdebatan. Bagaimana dengan yang bukan ustadz ustadzah? Apakah tidak kita bantu? Mereka juga banyak yang membutuhkan!

Saya pun menjawab taktis (maklum tukang ngeyel), “Kalau membicarakan orang-orang yang membutuhkan, ya bakalan banyak yang mambutuhkan. Tapi tolong saat ini kita fokus yang ini dulu. Jangan ke hal yang lain.”

ALOKASI DONASI

Tiba saatnya pengalokasian dana-dana tersebut kepada setiap orang yang membutuhkan. Semua bergerak dan berjalan.

Bang Ade yang menjadi bandar donasi mengirimkan dana-dana tersebut ke setiap penyalur untuk diberikan kepada target-target.

Dari sini saya sungguh terpukau.

Benar-benar terpukau.

Jadi begini, sebelumnya kami sepakat untuk share foto saat pemberian bantuan dana tersebut di group. Semua pun serentak melakukan.

Saya terhenyak melihat begitu banyaknya orang yang bisa diberi donasi dengan program ini. Saya membuka foto tiap foto dengan linangan air mata. Saya sungguh terharu dengan keikhlasan para donatur dan para penyalur dalam menjalankan tugasnya sebagai penyalur dana.

Saya takjub dan setengah mewek melihat bagaimana mang Agus dan tim Kompass bahkan melalui jalan setapak hutan demi mencapai ustadz yang berada di pelosok Cisoka Rancakalong di Sumedang. Itu tidak mudah saudara-saudara. Hanya keikhlasan hati luar biasa yang menggerakkan pemuda-pemuda itu. Ya Tuhan.

Ada yang ingin saya share dari ustadz ini. Sesuai info dari rekan mang Agus, yaitu utadz Subhan Aminudin, bahwa di Daerah Cisoka Rancakalong Kab. Sumedang ada seorang Ustadz yang mengajar 75 orang santri madrasah tanpa bayaran. Beliau mengajar sejak tahun 1998 hingga hari ini. Rumahnya berbentuk panggung berdinding bambu dan kayu. Penghasilan sehari hari dari bercocok tanam di sebidang tanah yang tidak luas di pekarangan dan belakang rumah juga ternak beberapa ekor ayam dan bebek. Santri yang belajar di madrasah ini tidak menginap. Jadi ke masjid atau pengajian hanya pas belajar agama saja. Istilahnya santri Kalong. Pak Ustadz memang tidak menarik bayaran karena beliau sudah paham betul bahwa biaya menyantri untuk orang-orang di sana akan sangat berat. Jadi beliau menjalani saja profesi ini dengan ikhlas lilahita’ala. Bahkan beli spidol dan sebagainya beliau memakai dana  pribadi atau sesekali ada beberpa sumbangan dari sesama ustadz dari desa lain.

Intinya, banyak dari laporan kegiatan sumbangsih donasi ini yang membuat saya tersentuh. Bagaimana tidak? Ide yang tadinya hanya hal sepele, ternyata mempunya dampak begitu besar. Disampaikan dari ujung Aceh hingga Papua oleh sekian pihak penyalur sumbangan yang sungguh luar biasa dedikasinya. Dibayar? Nggak sepeserpun. Semua hanya berdasarkan keikhlasan hati semata.

Saat-saat ini adalah saat yang cukup membuat banyak dari kita terpuruk. Banyak kesedihan yang tercipta. Banyak yang berada dalam kesempitan dan kesakitan. Tapi, dalam keadaan tersempit kita, saat kita masih bisa membantu sesama, sungguh hal itu membuat lega dada. Dan rasa terhimpit yang begitu menyesakkan sejenak bisa terasa sedikit longgar .

Kita semua mahluk Tuhan. Membantu sesama dalam keadaan apapun kita, adalah kewajiban kita.

Semoga Tuhan melindungi kita semua saat kita bertahan dalam kondisi pandemi ini. Dan semoga pandemi ini cepat berlalu dan matahari kembali bersinar dengan hangatnya dalam kehidupan kita semua.

Aamiin ya robbal ‘alamin.

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope some day you’ll join us
And the world will be as one

(Imagine – John Lennon)

Dokumentasi Program Berbagi Kalimat Peduli Covid-19 di Sejumlah Daerah – 2020
0Shares

By Admin

2 thoughts on “KALIMAT PEDULI COVID-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *