FITRAH

Oleh: Komalasari

Di sebuah forum diskusi. Salah seorang leader membagikan kecerdasannya dalam Ber-Iqra.

Tadi di mobil saya dengar radio suara surabaya di titik nol, DR. Sukadiono rektor Unmuh sby bilang…

“Sebagai seorang menejer dan pemimpin perusahaan, jangan biarkan staf berada di ‘comfort zone’ ,tapi ciptakan ‘challenge zone’ secara terus menerus, sehingga percepatan pertumbuhan usaha akan mencapai double degree.

Jangan khawatirkan jika kita berada di zona tantangan secara terus menerus kemudian kita akan mati kaku dan merana, karena sesungguhnya di dalam zona ini kita akan menikmati kondisi ini bersama kesuksesan besar yg telah kita raih”.

*

Dari situ, munculah nasehat seorang ibu pada buah hatinya. Ia salah satu peserta forum tersebut.

Si ibu menitipkan asa pada Rabb-nya. Suatu saat anak-anaknya bisa memahami bahasa rindu akan sebuah ‘ketundukan’

Ditulislah motivasi di atas. Ia mengeksplornya dengan melibatkan rasa syukur yang dimiliki panca indra dan instrumen lain yang Allah titipkan pada kita.

Saya jadi ingat para sahabat di suatu perguruan. Mereka senang sekali melontarkan pertanyaan semacam ini :
“Berapa harga syukurmu?”

Masyaallah, guru mereka memahami makrifat dengan sangat cantik. Pantaslah jika semua muridnya merasa bahagia dan bergairah??

*
Begini yang disampaikannya,

Nak.
Ajaklah seluruh instrumen yang Allah titipkan pada kita untuk bergerak. Bukan memanjakannya menikmati istirahat berlebihan.

Sesungguhnya ketundukan instrumen-instrumen itu hanya pada Allah. Bukan dipaksa tunduk pada kita.

Mata, Allah perintahkan untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Na

Telinga, Allah perintahkan mendengar kalam-Nya

Tangan, Allah perintahkan memegang dan berkarya untuk mengagungkan-Nya

Kaki, Allah perintahkan untuk berjalan menuju ketaatan pada-Nya

Demikian juga instrumen lainnya.
Mereka ingin bersyukur (=bergerak) atas ketundukan pada-Nya.

Tengoklah, ketika hati merasa gersang. Bukankah engkau gundah gulana?

Gersang datang karena dibiarkan terlalu lama tidak di siram. Konsekwensinya mati. Tidakkah kita berfikir, jika hati sebetulnya menjerit kehausan bahkan kelaparan. Karena saat dahaga hilang, nafsu makan akan datang??

Orang yang Allah beri kemampuan paham akan keluhan hati, ia akan bersegera mencari penawar yang pas untuk memulihkan kondisinya. Bukan menghiburnya agar galau hilang!

Saat kita menghiburnya, bisa jadi resah hilang. Namun usianya tidak lama. Berbeda jika kita memberinya penawar yang pas. Hati akan mengucapkan terimakasih. Sebagai wujudnya, ketenangan datang menyingkirkan kegundahan.

Lalu, lihatlah ketika fikiran dipaksakan tunduk dengan keinginan kita. Ketidakpuasan silih berganti datang. Bahkan makhluk stagnan, buntu dan saudara-saudaranya dengan senang menikmati reuni akbarnya. Mereka tidak peduli apa yang terjadi.

Jika merasakan kondisi demikian, sekali lagi jangan menghibur! Tapi berikan penawar yang tepat.

Jika benar langkah yang kita ambil. Fikiran akan mewujudkan rasa terimakasihnya dengan mendatangkan kecemerlangan ide. Ia akan menabur benih kecerdasan yang luar biasa.

Nak.
Sesungguhnya, kerasnya hati, tertutupnya fikiran adalah bentuk protesnya pada kita. Keduanya tidak dapat mengatakan kekesalannya, tapi mereka memberikan ‘rasanya.’

Mereka protes dengan menggeret gerbong kerugian, karena perlakuan kita pada keduanyapun merasa dirugikan.

Kita tidak akan mendengar rintihannya, saat bertasbih pada Sang Pencipta. Mereka patuh saja dengan takdir yang mengiringinya. Walaupun sejatinya hati dan fikiran tidak mau melakukannya.

Mungkin dalam tasbihnya, keduanya bertanya pada Rabb. “Duh Gusti, apakah kami diberi kesempatan membela diri kelak di pengadilan-Mu? Seperti pancaindra yang akan memberikan pengakuan sejujur-jujurnya atas pemaksaan manusia saat di dunia?”

Nak.
Maka, perlakukanlah instrumen yang Allah titipkan sesuai fitrahnya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *