Dimana Peran Kita?

Oleh: Komalasari

Minggu pertama masuk sekolah, biasa digunakan guru untuk mereview pelajaran sebelumnya. Demikian juga dengan ustadah Dyah.

Sepertinya perasaannya sama seperti murid-muridnya. Kangen untuk beraktifitas dalam kegiatan belajar mengajar lagi. Setelah memberi kesempatan anak-anak berbagi cerita liburan, ustadah Dyah pun masuk pada materi awal.

“Hari ini materi kita tentang shalat. Oke, siapa yang tidak shalat subuh pagi tadi?”

Satu, dua, tiga, empat, lima anak-anak mengacungkan tangan dengan malu-malu. Ustadah Dyahpun menggeleng- gelengkan keplanya, lalu mengajak mereka beistigfar.

“Sekarang ustadah tanya lagi. Selama liburan kemarin, siapa yang sholatnya bolong-bolong?” Ternyata yang mengacungkan tangan lebih dari lima. Kembali ustadah Dyah menggelengkan kepalanya sambil beristigfar.

“Ustadah ingin tahu alasannya nak. Ustadah tulis di papan tulis ya?”

“Saya keasyik main ustadah.”

“Saya bangun kesiangan, ndak ada yang bangunkan.”

“Saya pas dalam perjalanan ustadah,”

“Ada rasa malas di hati saya ustadah.”

Tiga, empat, dan tujuh alasan terkumpul. Ini baru satu kelas, berapa banyak lagi yang akan didapat, jika ustadah Dyah bertanya pada tiga kelas lainnya. Ada rasa miris dihati. Mungkin, di luar kelas atau di luar sekolah sana akan ditemukan lebih banyak lagi kondisi yang demikian.

Entahlah, apakah ini suatu kewajaran atau keprihatinan?

Usia antara 10-11 tahun, dipahaminya sudah sampai pada tahapan taklifi. Ini bukan bermaksud membebani, tetapi demikianlah yang disampaikan dalam hadits riwayat Abu Daud, Ibnu Majah. “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau menunaikannya ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

“Terus terang, ustadah merasa sedih nak. Ayo kita istigfar bersama-sama. Bismillah, materi sholat ini disampaikan tujuannya, agar anak-anak tidak lagi bolong sholat.” “Aamiin. Insya Allah ustadah.” Anak-anak serentak menjawab.

Ustadah Dyah menuliskan kata sholat di papan tulis dan membuat mapping. Salah satunya bagian sejarah, point pertama isra’ mi’raj.

“Kalian masih ingat tentang isra’mi’raj?”

“Masih ustadah. Perjalanan nabi Muhammad dari masjidil haram ke masjidil aqso dan dari masjidil aqso ke sidratul muntahah.”

“Bagus. Apa yang didapat Rasulullah saat itu?”

“Perintah shalat ustadah.”

“Berapa kali dalam sehari?”

“50 kali, tapi terus jadi 5 kali.”

“Ayok sekarang kita konsentrasi pada perjalanan dan hasil yang didapat.” Ustadah Dyah menggambarkan skema proses isra’ mi’raj. Termasuk angka 50 sampai 5. “Jarak masjidil haram ke masjidil aqsa tidak dekat. Apalagi dari masjidil aqso ke sidratul muntahah. Ditempuh dalam waktu satu hari, secara logika sangat tidak mungkin.

Ayo kita lihat diangka 50, berapa kali bolak- balik Rasulullah menghadap Allah untuk minta diskon sampai akhirnya menjadi 5. Semua ini dilakukan karena cintanya pada kita. Tidakkah kita malu dengan bolongnya shalat kita?

Lalu setelah sampai dibumi kembali. Cemoohan yang diterimanya dan dikatakan gila, tidakkah sedih hati Rasul, tapi semua Rasul terima, sekali lagi, demi cintanya pada kita. Tidakkah kita bisa membalasnya, dengan menggenapkan shalat kita?”

Panjang lebar ustadah Dyah menjelaskan sejarah shalat. Suasana kelas hening, anak-anak saling pandang, mencoba menangkap makna yang disampaikan gurunya.

Kadangkala anak-anak menyadari dirinya sudah baligh, bahkan ada yang merasa senang, namun tidak seimbang kondisi aqilnya. Bukankah saat dikatakan sudah baligh artinya bukan anak-anak lagi? Tapi kondisi yang ada, ternyata mental mereka belum dewasa.

Peran lingkungan disekitar, utamanya keluarga sangat membantu menentukan seimbangnya perkembangan aqil baligh seorang anak. Maka jadikanlah kita sebagai sarana yang terbaik bagi mereka untuk mencapai kesempurnaan itu.

#1012020

0Shares

By Admin

One thought on “Dimana Peran Kita?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *