Puasa dan Teori Bargh Hallway

Oleh: Ade Zaenudin

“Islam adalah ajaran yang rasional, hanya saja rasio manusia sangatlah terbatas, butuh keimanan dan ketaqwaan tingkat tinggi untuk menghilangkan keterbatasannya”

Bargh Hallway Theory

Prof. John Bargh, Seorang Guru Besar Psikologi di New York University pernah membuat sebuah riset untuk menguji apakah kekuatan kata-kata berefek pada tubuh manusia. Riset tersebut dia lakukan terhadap 40 orang mahasiswa dengan dibantu 100 orang ilmuwan yang menjadi responden.

Keempat puluh orang mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, kelompok A dan kelompok B. Semua mahasiswa diperintahkan untuk self talk atau berkata-kata pada diri sendiri selama 30 hari. Bedanya, kelompok A ditugaskan untuk senantiasa berkata-kata positif atau menyenangkan sementara kelompok B ditugaskan untuk senantiasa berkata-kata negatif.

Di hari ke-30 semua mahasiswa diperintahkan datang ke kampus melalui sebuah koridor panjang dilengkapi kamera yang banyak. Seratus orang responden ditugaskan untuk menilai gerak-gerik, ekspresi, aura mahasiswa di saat melewati hallway atau koridor tersebut. Atas dasar itu, teorinya dikenal dengan Bargh Hallway Theory. Semua responden ditugaskan untuk menebak mana mahasiswa yang masuk kelompok A dan mana yang masuk kelompok B.

Apa yang terjadi?

Seratus responden menebak secara tepat keempat puluh mahasiswa tersebut berdasarkan gerak-gerik yang diamati selama di koridor, kelompok A menampilkan aura yang positif sementara kelompok B menampilkan aura yang negatif. Ini membuktikan bahwa secara ilmiah kata-kata berefek pada tubuh manusia. Bargh mengatakan bahwa setiap hari terdapat 30 milyar sel mati dalam tubuh manusia, dan di hari ke-30 manusia mempunyai sel yang berbeda dengan sel 30 hari sebelumnya.

Puasa

Syekh Ahmad Al-Fasyani yang dikutip Syekh Muhammad bin Umar dalam kitab kasyifatus saja mengklasifikasikan puasa ke dalam tiga tingkatan, puasa umum, khusus dan khususil-khusus.

Puasa umum adalah katagori yang hanya mampu memuasakan perut dan farji dari tujuan syahwat. Sementara puasa khusus adalah sudah mampu menjaga alat pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari perbuatan dosa. Tingkat tertinggi adalah puasa khususil-khusus, yaitu sudah mampu mengendalikan hati dari tujuan-tujuan hina serta menjaganya dari semua hal selain tujuan kepada Allah SWT.

Esensi dari semua tingkatan puasa pada dasarnya adalah senantiasa melakukan kebaikan. Jika selama sebulan penuh manusia menjalankan puasa dengan sempurna, senantiasa berkata, berfikir, dan bertindak dengan baik, maka berdasarkan teori Bargh Hallway, manusia tersebut akan terlahir sebagai pribadi baru yang paripurna yang berbeda dengan pribadi 30 hari sebelumnya, pantaslah ketika lebaran dikenal dengan istilah idul fitri yang berarti kembali kepada fitri/fitrah, yang pada fitrahnya manusia terlahir dalam kesucian.

Subhanalloh, riset sains yang dilakukan Bargh membuktikan bahwa ajaran Islam begitu ilmiah, saat puasa kita diajarkan untuk senantiasa berdzikir, tadarus, memperbanyak baca Al-Quran, itulah self talk yang sangat positif apalagi kalau sambil menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Saat puasa kita pun dilarang mengucapkan hal-hal yang buruk, menghina, mencaci dan lain sebagainya dengan harapan sel-sel baru yang tumbuh tidak berefek pada tumbuhnya pribadi yang beraura negatif.

Puasa Ramadhan 1441 H (2020 M) kali ini dirasa berbeda, karena bersamaan dengan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai efek adanya pandemi Covid-19 di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah sesungguhnya memperkuat esensi berpuasa karena lebih berpeluang mampu mengurangi sifat-sifat tidak baik yang biasa ditemui di luar rumah. Minimal mengurangi gosip sesama rekan kerja, melihat aurat yang bertebaran di sepanjang jalan, dan puncaknya adalah mengikis sikap ingin dilihat, dipantau, atau dinilai oleh manusia yang menjelma menjadi sifat takabbur. Dalam posisi ini diharapkan hanya Allah yang menjadi tujuannya. Terkait hal ini, Allah SWT memberikan sebuah penegasan dalam salah satu hadits qudsi-Nya, “Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh ibadah puasa itu hanyalah untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan langsung balasannya.”

Sejatinya puasa Ramadhan di tengah masa pandemi ini menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih berkualitas dibanding puasa-puasa sebelumnya, beberapa alasannya antara lain puasa kali ini menuntut kesabaran dan kedisiplinan lebih tinggi, di sisi lain peluang melakukan kebaikan dan kedermawanan lebih terbuka, lalu optimalisasi aktualisasi diri semakin tinggi yang mampu memunculkan kreativitas, dan yang terpenting adalah penguatan fungsi keluarga yang semakin berkualitas.

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *